There are mocking calls of 'Obushma' and the like, as more and more Obama decisions become less and less distinguishable from his predecessor.
http://www.truthout.org/062709A?n
Regarding the friendly disagreement between the Bard and myself, Bush and Cheney already enjoy undeserved folk hero status, and within the far right realms, they will always enjoy such status regardless of outcome.
I appreciate the debate.
http://www.truthout.org/061009A
I understand the arguments and how our troops in additional harm's way and additional stain to our national image at a time when we are just starting to recover face in the world's eyes does us no justice.
At the same time, this has to be addressed-
The American taxpayer paid for and is still paying for Iraq...
I am ashamed for believing that Barack Obama would actually keep his word. I am too old to plead naivety. I have too much experience in the real world to say I didn't know the game was played that way.
Obama promised to close GITMO, now we must pospone it!
Obama promised to end Military Tribunals, now he will revitalize them!
Obama promised he would end "Don't ask, Don't tell. Instead we are loosing top heros without any intervention by the Obama administration! An 18 year Lt. Colonel in the Air force, highly decorated hero, with a perfect record, will be kicked aside because Obama is not keeping his promise.
The press still loves him, but I for one will not spend money and effort to support "Politics as usual"
This is not the change I voted for!
I have not read extensively about this issue or heard your comments.
But my first thought about people who want to see more photographs of prisoners being abused is, surely we've seen a representative sample of the awful things that happened. Aren't those who did it punished or in the process of?
I would say to those who want to see the unreleased photos, "use your imaginations sickos. Let those sitting in judgment (official judgment) have access to all of them, but let there be closure, and justice, to this episode."
By the way, how's progress on my list of suggestions going?
Subject : - Denunciation of STATE CRIME against the three members of the SILVA-MARQUEZ family: Mrs Marie-José MARQUEZ - Miss Elisabeth SILVA and Mr Marc SILVA.
- Demands of the opening of National and international inquiries and the revelation of the Secret Defence on the Leo BALLEY affair.
After a forced expatriation of my family, during almost four and a half months in England followed by an arbitrary detention in U.S.A., splendidly immortalized with courage by my dear sister Elisabeth SILVA, in a book which crossed the borders, the Calvary of my family thrown to the vindication of maffioso continued, from our return to France on 11/02/2004.
At once, my sister and myself were gained by the consternation, when we notice the state of the mailboxes of our respective apartments, nevertheless distant around 700 kilometres, one of the other one. Both locks had been forced with the same savagery. Only the mailbox of my mother’s house located in Saubusse (40) had escaped any act of vandalism. For a very good reason, the owner of the house, without even waiting for the end of the lease had taken the decision, after the worrying missing of her tenant, to forward the mail to the local post office.
Armed with her only courage and strong of the only arms, my ruined family had to resolve to begin both moves of residence to settle down at home. The first pause intervened very fast.
With a single game of writing, the Bailiff crossed off boorishly the first date of the act to replace it by, that of the 10/02/2004, that is to say, the day of our booking of the plane ticket London / Paris. I clarify that this date also coincides with my last phone contact, from the British ground with the secretariat of the Prefect Mr. Roger Marion in Marseille (13), which I informed about our repatriation in France foreseen the next day and that, by our own means.
To exploit my honesty, not possessing either very personal, or even motor vehicle, given up for lack of being able to maintain it, nor a bank account placed in a tax haven, I shall produce to the Judge of Execution, not the simple paragraphs appeared in the French media, but the long cuts putting in light the blatant abuses of a certain press at the mercy of the organized crime.
During the next two rigorous winters, despite the payment of provisions of heating, a single apartment on eighty one, that holds the building, where I live, will be sporadically deprived of heating over long periods. Because of the fall of the temperatures, I was obliged to seek repeatedly technicians' intervention heating engineers with the guard of the building, Mrs D. (Phone. / 06. XX.XX.XX.XX), who, will scrupulously note on a register, according to her statements, each of my complaints.
- Deposit of complaint to the public prosecutor near the T.G.I. of Paris of 28/07/2004 for Violation of professional secret and defamation by one or several police officers who supplied the media with confidential character informations.
These pernicious, despicable schemes at least of a candidate likely to preside over the highest fates of FRANCE, are rather revealing of the perversity and the determination of this former employer, author of moral harassment. Demonstration is so made, that this new exaction does not manifestly ensue from a frenzy or from a wrong interpretation or still a syndrome of persecution, as for me, as tends to demonstrate it, by the most despicable means the Home Office.
DIMUAT DI WWW.KATAKAMI.COM & WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM
Jakarta 18 April 2009 (KATAKAMI) Kadang-kadang, ada manusia yang sulit untuk membaca tanda-tanda perubahan zaman yang arahnya sudah begitu positif dan sangat pantas dihargai.
Radio BBC London memberitakan tentang diumbarnya rasa kecewa kelompok HAM tertentu kepada Presiden AS Barack Obama yang dinilai enggan mengadili agen-agen rahasia Dinas Intelijen AS (CIA) karena menggunakan teknik integorasi yang kejam sepanjang era kepemimpinan Presiden BUSH.
Kita simak dulu berita selengkapnya dari Radio BBC London :
16 April, 2009 - Published 20:58 GMT
Obama membuat kecewa
Kelompok hak asasi manusia di Amerika Serikat menyatakan kecewa bahwa agen CIA tidak akan diadili dalam soal teknik interogasi di masa Bush.
Para pegiat menyambut baik keputusan Gedung Putih menerbitkan rincian teknik interogasi yang sekarang sudah dilarang oleh Presiden Barack Obama.
Namun kelompok hak asasi mengatakan keputusan untuk tidak mengadili para agen itu merupakan kegagalan menegakkan hukum di negara tersebut.
Yang lainnya membela dengan mengatakan integorasi itu telah membuat Amerika Serikat lebih aman.
Mantan ketua CIA, Michael Hayden, yang menjalankan badan tersebut di bawah kepemimpinan Bush mengatakan langkah Gedung Putih ini akan mengganggu tugas-tugas intelejen, dan membuat badan asing enggan berbagi informasi dengan CIA.
Penerbitan laporan
Sebelumnya, Amerika Serikat menerbitkan empat memo rahasia yang merinci alasan hukum untuk cara interogasi CIA yang dilakukan pada masa Bush.
Para pengkritik program interogasi itu mengatakan cara yang digunakan itu sama dengan penyiksaan.
Presiden Barack Obama juga menerbitkan satu pernyataan yang menjamin bahwa tidak ada staf CIA yang akan dihukum karena perbuatan mereka dalam program interogasi itu.
Sebagian orang di CIA menghendaki agar sejumlah bagian memo itu tidak dipublikasikan, khawatir kalau-kalau penerbitan secara penuh akan memicu gugatan hukum terhadap para agen rahasia, kata laporan itu.
Penerbitan memo-memo itu berasal dari permintaan kelompok pembela hak sipil American Civil Liberties Union (ACLU).
Teknik kejam
Tiga di antara dokumen tersebut dtulis pada bulan Mei 2005 oleh orang yang waktu itu menjabat kepala Kantor Penasihat Hukum Departemen Kehakiman, Stephen G. Bradbury.
Mereka memberikan dukungan legal untuk penggunaan kombinasi berbagai teknik pemaksaan, dan menyimpulkan bahwa cara yang dipakai CIA tidak “kejam, tak manusiawi, atau melecehkan” berdasarkan hukum internasional.
Obama, adalah pemimpin yang konsisten pada janjinya. Ini yang harusnya sangat cepat disadari, dikenali, dirasakan dan diakui oleh rakyat AS sendiri. Walaupun bergabung dalam sebuah wadah kelompok pembela hak sipil sekalipun, American Civil Liberties Union (ACLU) harus adil dan cerdas dalam “membaca” bagaimana karakter kepemimpinan yang membanggakan dari Obama.
Memang betul bahwa berbagai tindak penyiksaan yang terjadi sepanjang masa pemerintahan Presiden Bush terkait penanganan terorisme, sangat amat memalukan bagi AS.
Itulah sebabnya, Obama menjanjikan bahwa jika ia terpilih sebagai Presiden AS maka yang pertama akan dilakukannya adalah menutup kamp tahanan Guantanamo di Kuba.
Dan apa yang terjadi ?
Persis di hari pertama Obama bekerja secara resmi di Gedung Putih sebagai Presiden AS yang ke-44, memo pertama yang ditanda-tanganinya adalah keputusan untuk menutup Penjara Guantanamo dengan kebijakan bahwa penutupan itu secara resmi akan dilakukan paling lambat satu tahun setelah keputusan itu ditanda-tangani. Artinya, Penjara Guantanamo akan ditutup pada bulan Januari 2010.
Kami menuliskan hal ini secara khusus lewat tulisan berjudul “Misteri Angka Satu Presiden Obama Yang Antiklimaks”.
Mengapa kami sebut antiklimaks ?
Ya sebab masa satu tahun itu termasuk sangat lama untuk dinantikan oleh para tahanan yang ada di Penjara Guantanamo, jika patut dapat diduga penjara itu hanyalah kedok untuk melakukan berbagai tindakan penyiksaan kepada warga negara asing yang ditangkapi seenaknya saja dan ditahan disana hanya untuk disiksa. Tidak ada proses hukum yang diberikan dan tidak ada juga akses apapun yang diberikan kepada negara yang menjadi tanah kelahiran atau tempat asal para tahanan disana.
Sehingga, keputusan untuk menutup setahun ke depan rasanya terlalu lama. Mengapa bukan menutupnya sebulan setelah Presiden Obama menanda-tangani keputusan itu ?
Bayangkan kalau dalam sehari saja, semua tahanan disana tetap mendapatkan penyiksaan fisik. Maka, mereka harus sangat tabah dan kuat sekuat-kuatnya untuk tetap disiksa selama 364 hari berturut-turut. Alangkah lamanya penderitaan itu.
Iya kalau misalnya mereka memang bersalah. Tapi bagaimana kalau mereka samasekali tidak bersalah ? Hak apa yang mau dikedepankan untuk menjadi pembenaran bahwa agen-agen rahasia CIA dan seluruh petugas disana bisa menyiksa warga negara orang lain “seenak udel-nya sendiri” ?
Tetapi, fokus utama yang harus dicermati disini adalah Presiden Obama menepati janjinya untuk menutup penjara itu.
Entah itu sebulan atau setahun kemudian, tetapi state policy atau kebijakan negara (AS) sudah dikeluarkan dan tak bisa ditarik lagi.
Presiden Obama tak berhenti sampai disitu. Ia membuka kepada publik tentang adanya memo-memo rahasia yang membenarkan dan menjadi landasan bagi agen-agen rahasia CIA melakukan teknik integorasi dengan cara penyiksaan fisik yang begitu kejam.
Secara politik, patut dapat diduga kebijakan pemerintahan Presiden Obama membuka rahasia era Bush kepada publik terkait kekejaman teknik interogasi itu bisa dipandang sebagai sebuah sign atau tanda kepada Bush dan jajarannya bahwa mereka punya banya kelemahan dan kekurangan yang bersifat fatal sekali.
Secara politik, patut dapat diduga Presiden Obama bermaksud untuk meminta perhatian dari seluruh perangkat yang bertugas dibawah pemerintahan Bush agar jangan coba-coba untuk membuat lebih banyak permasalahan yang merepotkan AS (terutama pemerintahan Obama sendiri).
Lalu, kalau sekarang Presiden Obama yang dinilai mengecewakan karena “state policy” yang dikeluarkan tidak mencakup proses hukum terhadap seluruh agen rahasia CIA yang melakukan penyiksaan itu, hal ini justru menjadi tanda tanya besar.
Lho, mengapa Obama yang dipersalahkan ?
Dengan menilai bahwa Obama mengecewakan karena tidak memerintahkan agar para agen rahasia CIA diadili, maka penilaian ini yang justru keliru dan perlu diluruskan.
Obama tidak mengecewakan siapapun, entah itu rakyat AS atau publik dunia.
Pasti ada sesuatu yang sifatnya sangat mendasar sehingga ditempuh kebijakan yang formatnya memberikan nuansa yang sangat “win-win solution”.
Proses peradilan yang dituntutkan kepada para agen rahasia CIA itu, tak mungkin hanya dilakukan kepada para agen rahasia tersebut. Tetapi harus terus bergulir sampai ke tingkat atas.
Bahkan, sampai kepada orang per orang yang menuliskan memo-memo rahasia berisi landasan atau menjadi pegangan bagi “aparat dibawah” untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasan.
Bukan tak mungkin, proses peradilan itu bisa menembus ke Pejabat Gedung Putih semasa pemerintahan Presiden Bush.
Hingga puncaknya, justru patut dapat diduga bisa menjadi bumerang yang menempatkan Mantan Presiden Bush sebagai tersangka (juga).
Yang menjadi akar permasalahan terkait penyiksaan-penyiksaan kepada para tahanan di Penjara Guantanamo itu, sekarang sudah diredam, dikendalikan, ditekan dan dihilangkan oleh Presiden Obama.
Pelan-pelan, penjara Guantanamo akan ditutup.
Pelan-pelan, sambil menunggu proses penutupan itu maka seluruh landasan atau pegangan tertulis yang menjadi alat pembenaran terjadinya penyiksaan-penyiksaan kepada para tahanan sudah dicabut oleh Presiden Obama.
Para tahanan yang memang bisa dikembalikan ke negara asalnya masing-masing, sudah mulai dkembalikan. Lalu sisanya, dialihkan ke beberapa negara yang memang bersedia menampung para tahanan Guantanamo.
Kadang-kadang, tudingan yang asbun atau asal bunyi saja tetapi mengatas-namakan Hak Azasi Manusia (HAM), justru mengundang rasa prihatin dari publik dunia.
Apakah terlalu sulit untuk kelompok HAM tersebut untuk memberikan waktu dan kesempatan kepada Presiden mereka sendiri untuk membenahi betapa morat-maritnya penanganan terorisme sepanjang masa pemerintahan Presiden Bush ?
Jangan karena membawa isu HAM, maka dianggap sah-sah saja menuding Presiden Obama begini dan begitu dalam konotasi negatif.
Apa yang telah dilakukan oleh Presiden Obama selama 3 bulan pertama masa kekuasaannya ini terkait penanganan terorisme, sudah sangat baik sekali dan patut dihargai oleh siapapun.
Obama memberikan atmosfir yang kondusif dalam hal penanganan terorisme. Ia tak mau lagi secara bombastis mengumbang motto PERANG MELAWAN TEROR.
Obama tak mau lagi, atas nama PERANG MELAWAN TEROR maka AS memamerkan arogansi kekuasaan dan terus bertindak sewenang-wenang. Dan tindakan sewenang-wenang itu, patut dapat diduga ditiru juga oleh segelintir orang yang selama ini dilatih dan diberi kemudahan dalam segala peningkatan kemampuan diri masing-masing dalam hal penanganan terorisme di di negara-negara tertentu.
Ya bayangkan saja, sepanjang Bush berkuasa (pasca serangan teroris 11 September 2001 di AS), begitu atraktif dan agresif sekali terjadi peledakan-peledakan bom di beberapa negara.
Termasuk di Indonesia.
Waduh, seperti langganan saja. Periode 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2005 Indonesia terus mendapatkan serangan peledakan bom dalam kategori HIGH EXPLOSIVE.
Katanya sudah pada dilatih oleh AS dalam menangani terorisme, yang terjadi masalah semakin merajalelanya tindak pidana terorisme itu di Indonesia.
Yang mau dikatakan disini adalah Presiden Obama bukan cuma sekedar wacana dalam kaitan pemulihan metode penanganan teror yang sempat menjadi sangat menyimpang pada era pemerintahan Presiden Bush.
Ada “action” atau tindakan nyata dari Presiden Obama yang benar-benar sangat mengagumkan. Dia lakukan sesuatu sesuai dengan otoritas dan kewenangan yang dapat digunakannya sebagai seorang Kepala Negara.
Bagaimana mungkin, agen-agen rahasia CIA itu dapat diseret ke muka hukum jika ternyata pada kenyataannya ada surat tertulis yang keluar dari GEDUNG PUTIH berisi perintah resmi untuk menginterogasi para tahanan terorisme lewat metode yang kejam tadi ?
Para agen rahasia CIA itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah atasan. Ya, mereka tidak melakukan yang disebut sebagai in sub ordiansi.
Kalau para agen rahasia CIA itu dituntut dan diseret misalnya ke muka hukum, maka patut dapat diduga para agen rahasia ini bisa berbalik menuntut jika ternyata tugas-tugas yang sudah mereka laksanakan dianggap sebagai perbuatan melawan hukum.
Lain halnya, kalau misalnya ada petugas yang berinisatif menyiksa sendiri para tahanan itu. Tetapi yang terjadi disini adalah kebalikannya. Ada perintah resmi dari Gedung Putih, lewat memo-memo rahasia yang dibongkar dan dibuka oleh Pemerintahan Presiden Obama.
Jadi, salah besar kalau dikatakan bahwa Presiden Obama sangat mengecewakan kelompok pembela hal sipil (ACLU) tadi.
Kami tidak sependapat.
Presiden Obama sudah melakukan hal yang benar dan terpuji. Ia justru harus didukung untuk terus melakukan PERBUAHAN atau CHANGE sehingga AS dapat menjadi negara adidaya yang sangat mengagumkan.
Jadi, janganlah ada yang asbun menuding bahwa seolah-olah Obama mengecewakan dan tidak memahami duduk persoalan.
Pahami dong duduk persoalannya. Sadari apa yang menjadi esensi dari kebijakan-kebijakan AS.
Presiden Obama , kini seakan menjadi sebuah alunan melodi yang terdengar indah di telinga siapa saja di belahan dunia ini, saat dengan kesungguhannya Obama membenahi apapun juga yang selama ini memang kurang baik atau tidak pantas untuk menjadi bagian dari sistem pemerintahan sebuah bangsa yang terhormat bernama AMERIKA SERIKAT.
Meredam dan memerangi terorisme, bukan dengan cara mengobarkan secara lebih parah mata api perlawanan dari pelaku-pelaku terorisme itu sendiri atau orang-orang tertentu yang berkedok sebagai “teroris” padahal justru berniat untuk “cari makan” atau menggali harta karun yang bisa dikeruh dari rusaknya nilai-nilai peradaban manusia akibat dihajar oleh kekejaman terorisme.
Tak benar jika disebut Obama mengecewakan.
Yang benar adalah Presiden Obama sudah melakukan sesuatu yang benar seturut dengan kebijakan negara yang kini dipimpinnya, agar kebijakan itu tidak menimbulkan guncangan stabilitas (terutama didalam negara mereka sendiri).
Ke depan diharapkan, Presiden Obama sungguh serius untuk mengendalikan sebuah perangkat didalam sistem pemerintahannya agar jangan lagi ada keputusan, kebijakan atau tindakan yang menyalahi ketentuan hukum atau aturan yang berlaku dalam hal penanganan terorisme.
Juga diharapkan, agar Presiden Obama sungguh serius untuk menggunting secara cepat kesengajaan pihak tertentu di berbagai negara asing yang sengaja mengeruk keuntungan dari kocek anggaran AS selama bertahun-tahun terakhir ini atas nama penanganan terorisme.
Singkirkan dan hindari semua benalu-benalu yang cara hidupnya sudah menggerogoti AS dan negara yang menjadi basis gerakan oknum aparat di INDONESIA misalnya, yang patut dapat diduga menjadikan isu terorisme sebagai komoditi dagangan dan ladang emas yang mendapatkan seribu satu macam keuntungan.
Dukung Obama dalam membenahi semua penyimpangan dan ketimpangan terkait penanganan terorisme.
Dengan semua respek yang kita punya maka ketegasan dan keberanian Presiden Obama untuk melakukan pembenahan yang bersifat menyeluruh itu sangat pantas untuk dihargai dan didukung sepanjang masa pemerintahan Obama.
You are the best, Mr President !
(MS)
MEGA SIMARMATA
Editor In Chief Of WWW.KATAKAMI.COM
http://www.redaksikatakami.wordpress.com
http://www.theblogkatakami.wordpress.com
Presiden Barack Obama (Foto : Whitehouse.Gov)
Jakarta, 3 April 2009 (KATAKAMI) Selalu ada kejutan dari seorang Barack Hussein Obama. Ia sangat tak terduga. Benar-benar tak terduga. Bahkan dalam menjajaki tangga karier politiknya, Obama tak mau jadi politisi kejutan yang baru sibuk kampanye dan “teriak-teriak” berorasi secara dadakan hanya untuk untuk meraih kemenangan.
Semua direncanakan, dilaksanakan dan diupayakan secara cerdas Oleh Obama.Dan kali ini, ia mengambil sebuah keputusan yang bijaksana. Motto utama dari KABINET BUSH selama bertahun-tahun yaitu kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” dihapuskan secara total oleh Obama.
Tapi, bukan berarti Obama menghapuskan konsistensi AS dalam menangani dan memberantas masalah terorisme. Yakinlah bahwa penanganan dan pemberantasan terorisme akan tetap dilanjutkan oleh Pemerintah AS tetapi sedapat mungkin harus sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku. Tak bisa lagi semena-mena atau menghalalkan semua cara.
Dan penghapusan kalimat PERANG MELAWAN TEROR itu adalah kabar baru yang mengejutkan. Itu juga menjadi angin segar yang akan membawa dunia ke arah lebih manusiawi dan kondusif. Pasti, tidak mudah bagi Presiden OBAMA untuk mengumumkan kebijakan seperti ini karena bisa disalah-artikan. Tetapi ayah dari 2 anak ini berani mengambil keputusan. Semuanya itu, pasti demi bersinarnya lagi kemilau kedigdayaan bangsa AMERIKA SERIKAT yang sepenuhnya menghormati, mentaati dan konsisten menjalankan nilai-nilai Kemanusiaan, Hukum dan HAM.
Bayangkan, atas nama PERANG MELAWAN TEROR, Bush menghalalkan semua cara untuk melakukan invasi militer ke sejumlah negara yaitu Afghanistan dan Irak. Atas nama PERANG MELAWAN TEROR, Bush memerintahkan dibukanya Penjara yang patut dapat diduga menjadi ladang penyiksaan bagi siapa saja yang dicurigai AS sebagai TERORIS yaitu Penjara Guantanamo.
Tanpa ada proses hukum dan tanpa perlu mengikuti kaidah-kaidah hukum, ratusan orang diseret untuk dibantai disana. Betapa malunya AS, foto-foto penyiksaan itu bocor melalui kecanggihan teknologi. Dan tanpa disadari, kegarangan dan keganasan itu menimbulkan kebencian, antipati dan jungkir baliknya respek semua bangsa bangsa serta umat manusia di seluruh dunia terhadap AS.
Atas nama PERANG MELAWAN TEROR, Bush menghamburkan uang negara untuk membantu siapa saja dan negara mana saja yang dianggap bisa mengadopsi motto “PERANG MELAWAN TEROR” sehingga BUSH tidak “kesepian” dengan mimpi buruknya yang sangat berkepanjangan. AS seakan tersentak disaat menyadari bahwa negara mereka mengalami krisis keuangan yang sangat parah pada era kekinian.
Padahal jika BUSH mau atau bisa sedikit saja mengendalikan amukan dan gejolak emosi yang meletup-letup dalam penanganan terorisme, AS bisa berhemat secara luar biasa dalam anggaran negara.
Satu contoh kecil saja, saat teroris Hambali ditangkap di Thailand tgl 11 Agustus 2003. Kabarnya Pemerintah AS memberikan bonus uang USD 4 Juta untuk Pemerintah Thailand. Untuk apa ? Ya, untuk menjadi tanda terimakasih atas “keluguan” Thailand mau menyerahkan ke AS teroris yang berutang sangat banyak kasus tindak pidana terorisme di INDONESIA yaitu Hambali
Kenapa tidak diserahkan ke Indonesia, tetapi malah ke AS ?
Dan beberapa waktu lalu, kami coba untuk mempelajari data dan catatan di berbagai media massa. Proses penyerahan Hambali kepada Pihak AS menjelang akhir bulan Agustus 2003, terpaut sekitar 6 hari sesudah peledakan bom di Hotel JW Marriot Jakarta (Agustus 2003).
Kita tentu masih ingat kontroversi yang terjadi pada saat itu bahwa patut dapat diduga rencana peledakan itu sudah “bocor” duluan ke telinga Pihak AS sehingga pemesanan kamar dari rombongan AS dibatalkan menjelang hari naas.
Seandainya boleh ditarik benang merah dan dipertanyakan (walau sangat terlambat mempertanyakan hal ini), mengapa petinggi Anti Teror yang memang tahu bahwa Hambali adalah otak pelaku dan termasuk dalang utama semua aksi peledakan bom di Indonesia sejak peristiwa bom malam natal bisa “santai-santai saja” saat termonitor Hambali ditangkap ?
Padahal biasanya apa saja bisa langsung cepat tahu ? Mengapa bisa sangat kebetulan sekali, yaitu 2 minggu sebelum Hambali “dihadiahkan” Pemerintah Thailand kepada Pemerintah Bush, terjadi “lagi” peledakan bom di Indonesia ?
Yurisdiksi hukum dari penindakan hukum bagi seorang Hambali adalah di Indonesia dan agak aneh sebenarnya mengapa Thailand bisa dengan sangat aman sentosa menyenangkan hati Bush (tanpa ada sedikitpun berkoordinasi dengan Tim Anti Teror ?).
Sampai langit ini runtuh, Indonesia tak akan bisa memaafkan jika patut dapat diduga ada sesuatu yang memang sangat misterius dibalik peristiwa itu.
Dalam artian, jika patut dapat diduga ada OKNUM-OKNUM yang belagak tidak tahu bahwa “mangsa utama” penanganan terorisme di Indonesia sudah diciduk oleh kolega mereka tetapi belagak pilon saja agar berjalan lancar proses penyerahan itu kepada AS.
Jika Pemerintah Thailand saja dikabarkan mendapat dana sekitar USD 4 juta, patutkah dapat diduga ada OKNUM-OKNUM tertentu yang mendapat “angpao” juga agar seolah-olah memang tidak tahu samasekali proses tertangkapnya Hambali di Thailand karena memang sangat sibuk terhadap penanganan aksi peledakan bom di Marriot ?
Tidak ada yang tahu apa sebenarnya yang terjadi, kecuali … ?
Agustus 2003, setelah Pemerintah Thailand menyerahkan Hambali maka tidak lama setelah itu dengan bangganya BUSH mengumumkan kepada dunia internasional bahwa seorang teroris paling berbahaya sudah berhasil ditangkap.
Sejak itu, HAMBALI seakan menjadi “executive member” atau anggota istimewa di Penjara Guantanamo.
Dan setelah hampir 6 tahun mendekam disana, kabar terakhir yang beredar adalah pria kelahiran Cianjur ini sudah memegang paspor sebagai warga negara Spanyol. Selama berada di Guantanamo, tidak ada satupun proses hukum yang dilakukan terhadap Hambali.
Bahkan POLRI tidak pernah diizinkan mendapatkan akses untuk bertemu Hambali di Guantamo. Padahal Hambali adalah otak pelaku alias dalang dari sejumlah aksi peledakan bom di Indonesia.
Kabar tentang diberikannya paspor Spanyol kepada HAMBALI memberikan indikasi bahwa dalam rangka penutupan Penjara Guantanamo per bulan Januari 2010 mendatang, maka besar kemungkinan HAMBALI akan ditransfer ke Spanyol untuk menjadi tahanan di negara itu.
Saat ini, AS memang gencar melobi sejumlah negara untuk mau menampung sisa dari tahanan-tahanan Guantanamo. Sebab, sebagian besar memang dipulangkan ke negaranya masing-masing.
Patut dapat diduga, fakta bahwa HAMBALI adalah petinggi Al Qaeda Asia dan Hambali jugalah yang berada dibalik sebagian besar aksi peledakan bom (terutama di Indonesia yaitu sejak peledakan bom malam Natal tanggal 24 Desember 2000), tampaknya benar-benar menjadi faktor pertimbangan AS untuk tetap “menunda” mudiknya HAMBALI ke Indonesia.
Jika HAMBALI diekstradisi ke Indonesia, ia juga tak akan pernah bisa luput dari proses penegakan hukum di Indonesia.
Sebab, Hambali berutang sangat banyak kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia karena sudah meluluh-lantakkan nilai-nilai peradaban di negara ini lewat serangkaian aksi peledakan bom.
Kembali pada kebijakan Presiden OBAMA untuk menghapus kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” dalam agenda resmi pemerintahan mereka dalam menangani sektor keamanan nasional atau National Security”, sekali lagi kebijakan Presiden Obama ini jangan diartikan bahwa AS akan berhenti memerangi terorisme.
AS pasti akan tetap konsisten untuk menangani tindak pidana terorisme !
Namun, konsistensi itu akan disesuaikan dan dikembalikan kepada “rel” yang sebenarnya yaitu melakukan proses penegakan hukum tetapi bukan dengan melanggar hukum itu sendiri.
Metode interogasi ala WATER BOARDING yang diadopsi PEMERINTAHAN BUSH
Contoh yang bisa diambil bahwa Presiden Obama tidak ingin ada tindakan yang melawan hukum dari aparatnya sendiri dalam proses hukum kasus terorisme adalah dengan dihapuskannya juga metode interogasi lewat cara WATER BOARDING yaitu menyiramkan air sebanyak-banyaknya ke arah muka (kepala) si “teroris” ke dalam air sampai benar-benar nyaris kehabisan nafas agar mau mengakui.
Cara penyiksaan yang tidak manusiawi seperti itulah yang dipakai oleh aparat PEMERINTAH BUSH selama ini dalam menangani orang yang dituduh sebagai teroris.
Hukum adalah hukum. Law is law.
Dan Presiden OBAMA menyadari bahwa penegakan hukum yang semurni-murninya adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh kabinetnya saat ini.
Ambruknya derajat dan martabat AS karena beberapa tahun terakhir ini dituding sebagai negara yang paling keji dalam memperlakukan para tahanannya adalah buah dari motto kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” tadi.
Contoh lain yang bisa diambil tentang kebrutalan terkait penanganan terhadap para tahanan (bukan tawanan tetapi tahanan !), adalah oknum Sersan yang akhirnya divonis pidana kurungan selama 35 tahun oleh Mahkamah Militer AS pada awal pekan ini. Sersan itu dengan “enaknya” menembak mati 4 orang tahanan di Irak dengan cara menembak para tahanan itu dari bagian belakang batok kepala.
Dan dalam kaitan misi pengembalian penanganan tindak pidana terorisme pada proses hukum yang “murni” di AS, maka kebijakan Presiden Obama menghapuskan kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” itu menjadi sebuah tanda dan pemberitahuan bagi negara-negara lain atau pihak manapun (OKNUM orang-perorang) yang selama ini “tidak sadar” bahwa perilaku mereka jauh lebih buruk dari AS dalam menangani masalah terorisme.
Misalnya saja, ikut-ikutan juga menangkapi siapa saja yang dicurigai sebagai teroris. Main ciduk saja dan mengumumkan bahwa ia sudah menangkap teroris sekian ratus orang. Padahal belum tentu yang ditangkapi itu adalah teroris atau terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme.
Tapi supaya kelihatan keren dan hebat dimata Pimpinan, Pemerintah Indonesia dan bahkan dimata Pemerintah AS serta dunia internasional, maka diseret saja siapapun yang bisa diseret atas nama penanganan terorisme. Lalu, langsung diumumkan kepada media massa bahwa orang yang ditangkap dengan nama si A, si B dan si C adalah teroris jaringan tertentu.
Padahal belum tentu demikian. Tapi tidak ada yang bisa memprotes selama ini karena seolah-olah OKNUM Petinggi tertentu dalam penanganan terorisme di Indonesia ini, yang paling berhak tahu dan menangani masalah terorisme tersebut.
Ingat, pembuktian tentang bersalah atau tidaknya seseorang yang bermasalah dengan “hukum” adalah saat majelis hakim mengetuk palu dengan memberikan vonis kepada masing-masing terdakwa (apakah terdakwa itu terbukti bersalah atau justru sebaliknya).
Jadi sebelum ada vonis dari majelis hakim, maka prinsip hukum tentang asas praduga tak bersalah atau presumption of innocent wajib dihormati dan dilaksanakan.
Bukan tidak mungkin, Presiden Obama saat ini akhirnya tahu bahwa akibat gembar-gembor dan perilaku yang “over acting” (berlebihan) akibat motto “PERANG MELAWAN TEROR” tadi, sejumlah OKNUM yang selama bertahun-tahun mendapatkan berbagai pelatihan atau bantuan teknis untuk meningkatkan kemampuan dalam menangani terorisme di negaranya masing-masing, justru menyalah-gunakan semua atensi, ilmu dan kemampuan yang didapatkan berdasarkan kebaikan hati AS.
Bayangkan saja, maksud AS sebenarnya memberikan semua bantuan itu agar dalam upaya penanganan terorisme itu bisa lebih tajam dan membuahkan hasil yang nyata.
Tetapi patut dapat diduga, ada dampak yang sangat fatal yaitu semua “ilmu” itu ada yang justru disalah-gunakan atau dipraktekkan kepada pihak lain yang tidak bersalah samasekali.
Entah itu jenis ilmu dan kemampuan teknis apapun yang serba canggih dari Penyidik-Penyidik AS Dinas Intelijen Rahasia AS (CIA) atau Biro Investigasi Federal (FBI).
Siapa bilang, semua ilmu dan kemampuan teknis itu tidak mungkin disalah-gunakan ?
Segala sesuatu mungkin saja dilakukan dan patut dapat diduga di Indonesia inipun penyalah-gunakan itu ada dilakukan oleh OKNUM orang per orang (sekali lagi, yang patut dapat diduga menyalah-gunakan itu adalah OKNUM yang merasa paling jago dalam hal penanganan terorisme di Indonesia selama ini).
Dilatih dan diajari untuk melacak keberadaan teroris menggunakan kecanggihan teknologi misalnya, entah itu dari alat penyadap telepon (intercept) dan teknologi pada dunia maya (cyber media) ternyata ilmu yang sangat “rahasia” ini malah digunakan untuk merugikan pihak lain yang nyata-nyata bukan teroris.
Privacy atau wilayah pribadi orang lain, serta hak-hak yang sangat mendasar dari warga sipil tak bersenjata, menjadi diobrak-abrik kalau misalnya patut dapat diduga ada OKNUM yang asyik saja menyalah-gunakan semua “ilmu, alat dan kemampuan teknisnya” selama ini yang diperoleh dari Pihak AS.
Apalagi karena pembuktian dari semua “kejahatan siluman” bersifat sangat absurd dan memang sulit pembuktiannya di lapangan, maka patut dapat diduga merajalela semua penyalah-gunaan itu dalam aplikasinya pada kehidupan sehari-hari.
Yang repotnya lagi, atas nama penanganan terorisme dan predikat sebagai pelaku-pelaku gerakan intelijen maka patut dapat diduga OKNUM-OKNUM yang memang memiliki akses penyadapan dan kecanggihan teknologi untuk sektor keamanan nasional akan saling menjegal dan saling meniru dalam hal melakukan perbuatan melawan hukum karena didorong rasa rivalitas yang sangat tinggi.
Tidak ada yang menjamin bahwa semua perangkat penyadapan dan kecanggihan teknologi itu digunakan secara baik dan benar !
Tidak ada pengawasan yang bisa dipertanggung-jawabkan secara hukum karena masing-masing kubu tak akan pernah bisa diakses oleh pihak luar yang punya otoritas hukum melakukan penindakan jika itu menyalahi aturan perundang-undangan !
Sehingga, patut dapat diduga dibebaskannya OKNUM-OKNUM menggunakan semua itu seenaknya sendiri tanpa ada pengawasan yang ketat, bisa membuka peluang bagi terciptanya proses kudeta atau perbuatan melawan hukum lainnya dengan dibantu peralatan penyadapan dan kecanggihan teknologi yang dibeli sangat mahal oleh negara untuk penanganan terorisme.
AS, terutama Presiden OBAMA, tentu sekarang merasa bersalah jika patut dapat diduga ada penyalah-gunaan ilmu dan peralatan penanganan anti teror di negara-negara lain yang dalam masa keemasan prinsip PERANG MELAWAN TEROR, diberi keutamaan dan fasilitas dalam menyerap ilmu dan bergelimpangannya “dolar” dari kabinet BUSH dalam upaya memberantas tindak pidana terorisme.
AS, terutama Presiden OBAMA, tentu merasa bersalah juga jika akhirnya bangsanya sendiri yang bangkrut karena selama bertahun-tahun lamanya memposisikan diri seperti “sinterklas” yang mudah memberikan dan membantu apa saja tanpa ada batasan limit.
Padahal patut dapat diduga, ada juga bantuan keuangan itu yang masuk ke kantong pribadi orang per orang yang terlibat langsung di lapangan dalam penanganan terorisme di berbagai negara.
Satu hal yang perlu dibuka misterinya kepada seluruh rakyat Indonesia adalah berapa dan mana pertanggung-jawaban dari semua dana bantuan dalam penanganan terorisme di Indonesia dari negara asing ?
Jika selama ini ada Petinggi-Petinggi Anti Teror atau Perwira Menengah yang mendapatkan pelatihan demi pelatihan, perjalanan dinas dalam rangka pendidikan anti teror atau hal ihwal apapun yang terjalin atas nama kerjasama penanganan terorisme (terutama dari Pihak AS), berapa nilai total dari semuanya itu selama kurun waktu 6 tahun terakhir ?
Rakyat Indonesia berhak tahu karena kebaikan hati Pemerintah AS itu diberikan dalam rangka kerjasama penanganan terorisme antara AMERIKA SERIKAT DAN INDONESIA, bukan dengan orang per orang.
Ini harus dicamkan baik-baik !
Sehingga, siapa saja yang selama ini menikmati dan mendapatkan semua fasilitas, uang, alat, pendidikan, pelatihan dan semua jenis bantuan dari Pemerintah AS selama kurun waktu 6 tahun terakhir harus bisa (dan wajib hukumnya) bisa mempertanggung-jawabkan semua itu kepada rakyat Indonesia.
Dan kalau mau kejam sedikit dan sangat tajam mengupas tuntas misteri aksi terorisme ini, patut dapat diduga ada juga aksi peledakan bom itu yang bukan dilakukan oleh kalangan teroris itu sendiri alias direkayasa.
Ini bukan mustahil sebab semua hasil penyidikan dan setumpuk barang bukti yang diserahkan misalnya, memungkinan oknum-oknum tertentu meniru gerak, langkah dan strategi kalangan teroris itu sendiri.
Hanya Tuhan yang tahu dan biarlah itu menjadi tanggung-jawab dari oknum masing-masing antara diri mereka kepada Sang Pencipta jika ternyata hal semacam ini ada terjadi di belahan dunia ini.
Sketsa wajah oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga meloloskan ALI IMRON agar tidak terkena mati, lalu pura-pura dipinjam dari LP Krobokan Bali dari mulai tahun 2003 sampai saat ini. Bahkan, patut dapat diduga mendanai ALI IMRON hidup berkemewahan dari hotel ke hotel dan apartemen mewah, serta membuatkan buku memoar serba luks untuk ALI IMRON. Ada apa sebenarnya antara oknum perwira tinggi ini dengan JARINGAN TERORISME ?
Lalu, satu hal yang perlu disampaikan kepada Presiden OBAMA, apakah AS bisa memahami dan menerima dengan lapang dada bahwa anggaran keuangan negara mereka yang selama ini diberikan kepada INDONESIA dalam penanganan terorisme, berjalan dengan timpang dalam kasus peminjaman terpidana ALI IMRON ?
Terpidana kasus Bom Bali I ini, bisa luput dari vonis mati hanya karena dianggap bisa bekerjasama. Lalu, ia mendapatkan vonis pidana kurungan (penjara) seumur hidup. Tapi apa yang terjadi ?
Ali Imron, dipinjam dari LP Krobokan sejak ia menerima vonis dari majelis hakim tahun 2003 dan tidak pernah lagi dikembalikan ke penjara. Teroris yang merupakan pelaku utama dari Bom Bali I ini justru dibiayai oleh OKNUM Petinggi Anti Teror untuk hidup serba mewah dan dibuatkan buku otobigrafi yang sangat lux.
Apa yang bisa dibanggakan dari tindakan OKNUM Petinggi Anti Teror yang seperti ini ? Sangat memalukan ! Benar-benar memalukan dan keterlaluan.
Kalau misalnya sekarang, rakyat AS tahu bahwa dana yang digelontorkan oleh negara mereka untuk penanganan terorisme di Indonesia ini, justru dinikmati juga oleh seorang teroris paling “berbahaya” yaitu hidup berkemewahan dengan fasilitas penuh yang sempurna ?
Dimana konsistensi dari penegakan hukum karena korban yang masih hidup dari peledakan BOM BALI I saja, sampai saat ini banyak yang harus hidup menderita dalam keadaan cacat permanen ?
Sementara Ali Imron, ia berleha-leha bagaikan konglomerat muda yang serba bergelimpangan harta.
Tahukah Presiden OBAMA bahwa tindakan semacam ini yaitu kesewenang-wenangan dengan memberikan kemewahan dan kebebasan yang absolut kepada teroris sekotor Ali Imron ini adalah sebuah bentuk pengingkaran dan pengkhianatan terhadap misi penanganan terorisme ?
Ali Imron harus dikembalikan ke dalam penjara, tidak bisa tidak !
Kalau perlu, Petinggi Anti Teror yang selama ini seenaknya saja menggunakan keuangan negara atau bantuan dari negara lain untuk membiayai teroris Ali Imron hidup berkemewahan harus diseret ke muka hukum untuk mempertanggung-jawabkan tindakannya yang sangat memalukan Indonesia. Jangan bicara soal keberhasilan penanganan terorisme kalau teroris yang harusnya bertanggung-jawab terhadap kasus Bom Bali I saja, justru dibiayai hidup berkemewahan.
Ada apa dibalik semuanya itu ?
Bahkan sudah saatnya, KABINET OBAMA menelusuri hal ini, yaitu apakah ada dana bantuan dari AS yang disalah-gunakan untuk membiayai hidup Ali Imron secara berkemewahan !
Dan Presiden OBAMA perlu “memasang mata dan telinga” dari Pemerintahan yang dipimpinnya saat ini apakah patut dapat ddiuga ada OKNUM tertentu yang selama bertahun-tahun ini mendapatkan bantuan dari AS dalam menangani terorisme, menjadi milyuner atau bahkan triyuner dari hasil komiditi dagang di bidang penanganan terorisme ?
Semua mungkin saja terjadi ! Dan karena belum terbongkar maka rakyat Indonesia belum tahu apa sebenarnya yang terjadi
Tragedi serangan 11 September 2001 di AS, sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan hati dan memprihatinkan. Tak cuma bagi AS, tapi bagi bangsa-bangsa didunia
Dibalik keputusan Presiden Obama untuk menutup Penjara Guantanamo dan meluruskan penanganan terorisme itu sendiri agar sesuai dengan kaidah hukum, maka tampaklah keseriusan KABINET OBAMA untuk melakukan hal-hal yang memang semestinya dilakukan selama ini.
Dan semua pihak harus menghargai niat baik dari Presiden OBAMA.
AS tak akan pernah mungkin menghapuskan sejarah kelam terkait Tragedi Serangan 11 September 2001. Serangan itu adalah aksi teror yang paling biadab dan sangat “tak termaafkan” sebenarnya. Tetapi tak ada negara manapun di dunia ini yang bisa dibiarkan main hakim sendiri atau menerapkan hukum rimba di negara mereka.
Hukum adalah hukum. Law is Law.
Penanganan terhadap tindak pidana terorisme memang harus tetap dilanjutkan dan diteruskan.
Ini tidak boleh berhenti hanya sampai disini. Kewaspadaan tetap harus dilakukan karena sedikit saja lengah maka kalangan teroris yang sedang “tiarap” itu bisa kumat sakit moralnya.
Kerjasama antara AS dan negara-negara manapun di dunia ini dalam penanganan terorisme juga harus tetap dilanjutkan dan diteruskan. Tetapi, jangan lagi dibuat sangat absolut atau tidak terbatas. Semua harus terukur, terarah dan bisa dipertanggung-jawabkan.
AS, khususnya Presiden OBAMA, juga harus menertibkan berbagai ilmu atau produk apapun yang selama bertahun-tahun lamanya disebar atau diberikan ke sejumlah pihak dalam misi PERANG MELAWAN TEROR tadi, tetapi terindikasi telah disalah-gunakan.
Harus ada terobosan yang sifatnya tertib hukum dalam penggunaan ilmu atau produk apapun yang berasal dari AS untuk penanganan terorisme yang disalah-gunakan tadi.
Sebab, jika patut dapat diduga ada pihak tertentu atau OKNUM tertentu orang perorang yang menyalah-gunakannya kepada warga sipil tak bersenjata (padahal AS mentransfer ilmu dan memberikan bantuan material apapun juga untuk penanganan terorisme), maka penyimpangan ini sangat layak dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dalam hal itulah, AS harus mulai melacak secara cermat dan seksama, apakah memang ada hal-hal semacam ini terjadi di mana saja !
Harus Presiden OBAMA yang memberikan perintah langsung tentang penertiban semua itu agar seluruh perangkat dibawahnya tunduk dan patuh kepada perintah kepala negara negara.
Dengan demikian, akan mudah melakukan penelusuran dan pembuktian terhadap semua penyimpangan atau penyalah-gunaan itu.
Menteri Luar Negeri Hillary Clinton
Berbicara di Den Haag (Belanda), pengumuman tentang penghapuskan kalimat atau motto “PERANG MELAWAN TEROR” tadi disampaikan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.
Peran Hillary juga pasti ada dalam misi pelurusan kembali penanganan terhadap terorisme ini.
Menurutnya, Pemerintahan Bush yang telah digantikan oleh Presiden Obama memutuskan penghapusan frasa penggunaan kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” antara lain karena dijadikan alat pembenaran untuk melakukan intervensi ke Irak dan pemenjaraan tahanan tersangka pelaku teror di Guantanamo, Kuba, dan banyak penjara rahasia CIA di luar negeri.
Tentu Indonesia juga harus menyambut baik kebijakan ini. Semoga saja, ini akan membawa dunia ke arah yang lebih baik.
Tetapi, pasca diberlakukannya kebijakan ini maka yang perlu diwaspadai bersama adalah dampaknya. Entah dari kalangan teroris itu sendiri, atau dari OKNUMtertentu yang merasa kehilangan “lahan rezeki nomplok” karena patut dapat diduga sudah terlanjur menjadikan isu terorisme menjadi “komoditi dagang”.
Jangan diberi ampun kepada siapa saja yang mencoba untuk bermain-main dengan keselamatan, keamanan dan ketentraman dunia. Tapi jangan dibiarkan ada yang bermain-main dengan segala arogansi penuh rekayasa.
Presiden Obama sekeluarga
Ode adalah sebuah nyanyian tentang penghargaan dan pujian kepada seseorang yang telah melakukan sesuatu yang baik.
Dalam hal ini, Presiden Obama dengan sangat bijaksana telah melakukan terobosan yang niscaya akan membantu secara sungguh-sungguh membawa dunia ke arah yang jauh lebih baik.
Thank you very much, Mr President !
Editor In Chief Of KATAKAMI.COM (Indonesia)
JAKARTA 27 JANUARI 2009 (KATAKAMI) Kalau dalam budaya di Indonesia, ada sebagian masyarakat yang sungguh menghargai penting atau makna “ANGKA” dalam menentukan segala sesuatu.
Sebutlah misalnya dalam menentukan tanggal pelaksanaan sebuah kegiatan penting. Itu sebabnya dikenal istilah, “Hari Baik, Bulan Baik”.
Masih berkaitan dengan angka juga, kadang ada yang merasa penasaran dan percaya tentang adanya angka keberuntungan. Akibatnya, muncul tudingan bahwa pihak yang seperti itu mempercayai klenik. Padahal tidak tepat jika disebut demikian.
Lalu, apa hubungannya topik soal angka ini dengan Presiden AS ke-4 Barack Hussein Obama ?
Dan dalam konteks apa, ada misteri angka satu pada Obama menyangkut GUANTANAMO ?
Pasti anda penasaran, ya ?
Kalau anda tidak penasaran, tidak akan mungkin timbul dorongan untuk membaca tulisan ini saat pertama kali membaca bagian judul. Barack Obama, punya 2 angka 1 yang penuh MISTERI terkait kamp tahanan GUANTANAMO.
Angka satu yang pertama cukup istimewa untuk Obama adalah ketika ia sudah langsung mengeluarkan kebijakan strategis di hari pertama dirinya menjalani tugas sebagai orang nomor satu di AS. Kebijakan yang memang dijanjikannya saat berkampanye.
Ia memerintahkan agar dilakukan penangguhan pemeriksaan penyidik terhadap para “penghuni” GUANTANAMO.
Luar biasa !
Walau Obama pernah mampir di Indonesia untuk bersekolah, namun kebiasaan buruk dari sebagian politisi tanah air kita yang cenderung “JUALAN KECAP NOMOR SATU”, ternyata tidak menulari Barry, nama kesayangan Barack Obama.
Coba saja kita perhatikan politisi-politisi Indonesia yang memilik agenda khusus untuk memperoleh suara dari masyarakatnya. Tak jarang, menggunakan metode kampanye ala “JUALAN KECAP NOMOR SATU.
Apa saja yang kira-kira gombal dan bombastis, pasti diucapkan. Yang penting, suara bisa masuk bagi dirinya. Akibat adanya kebijakan “One Man, One Vote” dalam perpolitikan nasional Indonesia maka godaan tentang “JUALAN KECAP NOMOR SATU” tadi dihalalkan saja. Tapi saat menang dan berkuasa, hanya lagu lama yang didendangkan penyanyi cantik Iis Sugianto yang berkumandang di hati rakyat yaitu “Janji-Janji Tinggal Janji !”.
Alias, kau yang berjanji, kau yang mengingkari !
Tidak demikian halnya dengan Barry, Presiden keturunan Afrika pertama yang berhasil menjadi penguasa nomor SATU di negeri adidaya bernama AMERIKA.
Inagurasi (pelantikan) Presiden Barack Obama
Detik pertama ia bekerja sebagai Presiden, yang menjadi prioritas adalah menginventarisir janji-janji apa saja yang sudah disampaikan kepada rakyat AS saat berkampanye. Dan, pendokumentasian seputar stok JANJI dalam kampanye itu memang cukup baik. Secara cepat, sudah bisa langsung didata daftar janji utama yang wajib dipenuhi kepada rakyat AS.
Salah satunya adalah janji untuk menutup kamp tahanan GUANTANAMO.
Tampaknya Obama menyadari bahwa GUANTANAMO akan terus menjadi benalu bagi kedigdayaan AMERIKA SERIKAT. Dan tampaknya OBAMA juga menyadari akan sia-sianya ia berjuang memenangkan kursi kepresidenan, jika tak mampu melakukan perubahan bagi bangsa yang sebesar dan sekuat AMERIKA SERIKAT. Pahadal CHANGE, janji tentang perubahan, dengan slogan YES, WE CAN adalah motto utama Obama.
Keruntuhan martabat dan wibawa kedigdayaan AS begitu drastis terjadi akibat kebijakan-kebijakan yang sangat tidak tepat dari Presiden George W. Bush. Kekejaman dan kesadisan militer AS dalam melakukan penyiksaan di Kamp Guantanamo membuat dunia menjadi “marah” sekali atas perilaku-perilaku yang tidak manusiawi itu.
Walaupun memang, harus dipahami mengapa Bush begitu “kencang” menghajar apa saja yang kira-kira membahayakan keselamatan AS dan pantas dijadikan sebagai musuh AS. Pasti, ada luka yang sedemikian menyakitkan didalam diri Bush sebagai seorang kepala negara ketika ia dipaksa untuk melihat bangsanya digilas dan dihajar sedemikian hebat sehingga menewaskan ribuan orang rakyatnya pada peristiwa Serangan 11 September.
Presiden George W. Bush
Bush, adalah Panglima Tertinggi Militer AMERIKA SERIKAT.
Bagi Kepala Pemerintahan manapun didunia ini, yang pernah merasakan dalam era kekuasaannya terdapat serangan terorisme (terutama dalam skala besar), pasti akan dapat merasakan betapa hebatnya rasa sakit yang menikam harga diri dan tanggung-jawab sebagai seorang pemimpin. Ribuan rakyatnya mati sia-sia. Dan Bush, pasti tidak akan pernah bisa melupakan sampai kapanpun juga setiap detail menyangkut peristiwa Serangan 11 September.
Bagaimana mungkin bisa terjadi, 4 pesawat dibajak di sebuah negara yang sebegitu ketat pengamanannya ?
American Airlines Penerbangan 11 yang menabrak Menara World Trade Center bagian utara. United Airlines Penerbangan 175 yang menabrak World Trade Center bagian selatan. American Airlines Penerbangan 77 yang menabrak The Pentagon. Lalu, United Airlines Penerbangan 93 yang menabrak tanah akibat perlawan dari penumpang untuk “membela” kewibawaan simbol pemerintahan mereka. Sebab, pesawat yang terakhir ini rencananya akan menarak The US Capitol Hill.
Paling tidak 3000 orang mati akibat kekejaman teroris pada Serangan 11 September.
Dan yang sangat menyedihkan, ketika satu persatu kesaksian yang pilu dibuka dan diungkap. Termasuk yang dibuka rekaman pembicaraan di kokpit pesawat United Airlines Penerbangan 93 yang jatuh di Pennsylvania, AS, sekitar 20 menit sebelum mencapai sasaran yaitu The US Capitol yang menjadi kantornya para anggota kongres dan senator. Tahun 2006 lalu, rrekaman pembicaraan dari kokpit pesawat yang membawa 33 orang penumpang dan 7 awak pesawat dari United Airline 93 diperdengarkan kepada publik AS dan dunia.
Sehingga, apa yang terjadi didalam pesawat Boeing 757 yang berangkat dari Newark, New Jersey, menuju San Francisco itu pun jatuh di Pennsylvania. Terutama, bagaimana usaha yang gigih dari para penumpang untuk merebut ruang kokpit dari pembajak terekam dalam kotak hitam. Sedangkan pembicaraan para penumpang United 93 ketika menelepon keluarga maupun kerabat disampaikan oleh keluarga dan kerabat itu sendiri.
Beda dengan di Indonesia ini, rekaman pembicaraan di kokpit pesawat Adam Air yang jatuh di Perairan Majene tgl 1 Januari 2007 saja bisa “beredar” kemana-mana, termasuk mengudara di You Tube.
Dan soal rekaman pembicaraan dari penumpang United Airline Flight 93, terungkaplah bagaimana detail kisah pembajakan dalam pesawat hingga rencana akan mengambil alih pesawat. Dan yang menyentuh hati saat para penumpang mengucapkan selamat tinggal dan menyampaikan atau menitipkan rasa cinta kepada keluarga dan kerabat karena menyadari akan segera kehilangan nyawa.
Pemutaran rekaman pembicaraan di kokpit pesawat pada detik-detik terakhir sebelum jatuh dibuka saat persidangan tersangka teroris Zacarias Moussaoui setelah 5 tahun tragedi itu terjadi. Antara lain isinya :
Tragedi serangan 11 September 2001 di AS, sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan hati dan para pelaku serangan ini patut dikutuk secara keras
“Ke kokpit. Kalau tidak, kita akan mati,” kata suara yang terdengar dalam bahasa Inggris.
Lalu terdengar teriakan dan jeritan penumpang. Kemudian terdengar pintu kokpit digebrak dan dibuka paksa.
“Allah maha besar!” suara dalam bahasa Arab terdengar dari dalam kokpit. Lalu terdengar jeritan “No, No, No” dalam bahasa Inggris.
Beberapa detik kemudian… tak terdengar lagi suara dari rekaman tersebut.
Yang mau dikatakan disini, kondisi psikologis Presiden Bush yang sangat traumatik dan terkungkung dalam kemarahan abadi atas peristiwa Serangan 11 September itu. Tanpa disadari Bush, trauma dan kungkungan dendam abadi tadi sangat dominan mempengaruhi setiap kebijakan pemerintahan yang dipimpinnya.
Hingga akhirnya, pengaruh itu mayoritas berbau apriori, arogansi dan penuh kecenderungan membalas dendam.
Sebuah bangsa yang besar seperti AS dipermalukan sedemikian hebat dan dibuat hancur sampai ke titik nadir terbawah dalam hal moral.
Salah satu warisan yang ditinggalkan Bush dan Pemerintahannya akibat remuknya moral mereka adalah KAMP TAHANAN GUANTANAMO. Trauma dan dendam dilampiaskan di penjara paling menakutkan ini. Bush dan Pemerintahannya pasti tahu dan hapal teori-teori tentang luhung dan agungnya nilai-nilai HAM, moralitas dan hukum harus ditegakkan di muka bumi ini.
AS adalah negara yang selama ini merasa paling berhak menjadi POLISI DUNIA bagi negara manapun yang dianggap sebagai pelanggar HAM tak bemoral dan sulit mentaati nilai-nilai hukum.
Jika ketahuan ada negara yang seperti itu, dengan semua cara akan dicari dan diupayakan momen terbaik untuk menjatuhkan pemimpin dari negara yang modelnya “mbabelo” seperti tadi. Dan, Indonesia, termasuk korban dari atribut AS sebagai “POLISI DUNIA”.
Kalau sudah bicara HAM, AS merasa menjadi pabrik pembuatan KECAP NOMOR SATU DIDUNIA.
Dan siapa yang tak malu jika dirinya menyandang predikat sebagai warga negara AS, jika dalam beberapa tahun terakhir ini kecaman, tudingan, cibiran dan caci maki yang hebat dari seluruh penjuru dunia akibat parahnya penyiksaan di KAMP GUANTANAMO. Menunjuk muka negara lain dengan sangat garang sebagai pelanggar HAM, tetapi di muka sendiri terdampar kubangan bisul berisi pelanggaran HAM yang begitu sadis, tak bermoral dan penuh pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM - hukum humaniter.
Sehingga, ketika Barack Obama menjadikan isu GUANTANAMO sebagai salah satu agenda terpenting yang dijanjikannya dalam kampanye Pilpres selama ini, pasti janji itu bukan untuk komoditas politik agar ia menang.
Obama, bisa jadi merasa malu atas remuknya kewibawaan, martabat dan moralitas dari bangsa Amerika akibat kebijakan yang salah terkait keberadaan Kamp GUANTANAMO.
Sehingga tak heran, kalau di hari pertama menjabat sebagai Presiden, Obama sudah secara cepat menetapi janjinya untuk “mengurus” masalah GUANTANAMO ini.
Lalu, apa misteri sangka satu lainnya dari Obama mengenai GUANTANAMO ?
Apakah ada yang tahu dan bisa menebaknya ?
Misteri angka satu pertama tadi - yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini - adalah di hari pertama menjabat sebagai Presiden, Obama sudah langsung mengeluarkan kebijakan penting terkait GUANTANAMO. Ia memerintah penundaan penyidikan selama 120 hari bagi semua kasus hukum yang sedang di proses di GUANTANAMO.
Lalu, angka satu lainnya adalah, Obama memerintahkan agar dalam kurun waktu 1 tahun, Kamp GUANTANAMO ditutup secara resmi. Dengan tangan kidal, OBAMA menanda-tangani KEPPRES alias Keputusan Presiden untuk menuntup PENJARA GUANTANAMO efektif pada Januari 2010. Satu tahun lagi, barulah GUANTANAMO akan almarhum.
Yang bisa dikomentari disini adalah, untuk misteri angka satu yang pertama tadi, Obama sangat sukses memukau setiap orang bahwa ia adalah pemimpin yang menepati janji secara hebat, cepat, tepat dan akurat.
Namun sayang, keputusannya untuk memerintahkan penutupan Kamp Guantanamo satu tahun lagi, adalah kebijakan yang buruk dan sangat tidak manusiawi.
Tahukah Obama, berapa hari yang akan mengisi dalam perjalanan waktu satu tahun itu ?
Aksi unjuk rasa terus mengalir untuk menutup PENJARA GUANTANAMO yang dikabarkan melakukan kekerasan kepada para TAHANAN
Tahukah Obama, berapa jam dalam putaran waktu 1 hari ?
Sambil ia menikmati sarapan pagi di Gedung Putih dalam masa “bulan madu” sebagai Presiden yang baru, ada baiknya Obama meluangkan waktu untuk membayangkan bagaimana jika ia yang menjadi tahanan di GUANTANAMO sana. Ditahan seenaknya, tanpa ada tuduhan atau indikasi kesalahan. Disiksa seperti binatang, tanpa ada penindakan dan penegakan hukum bagi para penyiksa. Dihajar, dibuat menjadi “berdarah-darah” dan bahkan ada yang ke hadapannya disorongkan moncong anjing pelacak piaraan militer AS.
Lalu, apa jaminan bahwa perintah Obama agar seluruh penyiksaan dituruti dengan cepat di GUANTANAMO ?
Petugas dan Pejabat yang secara teknis ada di tahanan itu, pasti masih dikuasai oleh orang-orang yang sudah bercokol sejak era Pemerintahan Bush. OBAMA hanya “bersuara” dari Gedung Putih. Walau media massa di seluruh dunia menyiarkan kebijakan OBAMA soal Guantanamo, belum tentu penyiksaan terhadap seluruh tahanan di GUANTANAMO dihentikan seketika ini juga.
Itu makanya, Obama perlu membayangkan bahwa sakit dan mengerikan rasanya jika disiksa secara fisik dan non fisik selama satu jam saja. Tidak usah dibayangkan seandainya penyiksaan itu berlangsung satu tahun, bayangkan dulu jika terjadi secara non stop selama satu jam. Pasti, dapat dirasakan penyiksaan itu sangat mengerikan. Lalu, bayangkanlah lagi bagaimana kalau harus terus disiksa harus selama satu tahun ?
Ada baiknya juga, Obama membayangkan jika ia yang menjadi orangtua, atau saudara sekandung, atau orang terdekat dari tahanan yang ditahan di GUANTANAMO sana, tanpa ada bukti hukum atau indikasi perbuatan melawan hukum. Seperti apa perasaannya jika dipaksa untuk menunggu 1 tahun lagi jika memang ingin bertemu dengan orang yang mereka cintai ?
Apalagi, jika anggota keluarga mereka itu sebenarnya tidak bersalah tetapi dasar AS sedang “sakit parah” pada era Pemerintahan Bush, yang tak bersalah dianggap saja bersalah. Yang penting ada korban yang bisa dijadian pelampiasaan kebencian. Persetan dan masa bodo dengan semua nilai-nilai HAM dan hukum.
Tahanan Di Penjara GUANTANAMO. KUBA
Jadi, keputusan OBAMA menutup GUANTANAMO setahun lagi, terasa menjadi ANTI KLIMAKS. Tidak ada yang istimewa dari kebijakan model begini.
Kalau Obama berdalih, sulit menutup GUANTANAMO secepat-cepatnya. Omong kosong. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, jika memang misinya adalah misi kebaikan dan kemanusiaan. Apalagi untuk negara sebesar AS.
Kalau Obama berdalih, sulit menutup GUANTANAMO dengan menukar angka satu tahun menjadi satu bulan untuk menutup GUANTANAMO. Omong kosong. Dengan kehebatan militer AS, termasuk kecanggihan dinas intelijen mereka yang selama ini terkesan paling canggih dalam menyusup dan ikut campur dalam masalah dalam negeri negara manapun di dunia ini, masak tidak bisa mengatasi kurang dari 300 orang penghuni GUANTANAMO ?
Harusnya, bukan satu tahun, tetapi satu bulan setelah Obama menjadi Presiden, Kamp Tahanan GUANTANAMO itu sudah harus ditutup.
Itu yang sebenarnya lebih tepat dilakukan Obama jika ia memang ingin membuktikan bahwa dirinya menepati janji untuk “mengurus” masalah GUANTANAMO.
Di GUANTANAMO ada lautan kekejaman dan kesadisan, dimana nilai-nilai HAM dan hukum tenggelam didasar lautan tadi.
Salah seorang tahanan di GUANTANAMO, Kuba
Seandainya saja, Obama ada dihadapan kami, maka kami hendak mengatakan kepada Si Barry ini, “Hei Barry, untuk apa alogan YES, WE CAN yang engkau dengungkan selama ini ? Buktikan dong, bahwa Amerika memang bisa melakukan perubahan yang dasyhat menyangkut HAM dan kemanusiaan. Menyelamatkan martabat dan moral AMERIKA sebagai sebuah bangsa, harusnya jangan tanggung-tanggung !”
Sehingga, semua orang yang memang sudah terlanjur penuh respek dan kekaguman pada Barack Obama, akan memuji kebijakan Obama menutup GUANTANAMO dengan satu pujian yang tulus yaitu, “Its Amazing, Barry ! Its Amazing, Man ! Its Amazing, MR PRESIDENT !”
Tapi, karena kebijakan Obama cenderung anti klimaks, … terus terang belum ada kata-kata yang pas untuk mengecam Obama. Sebab, baru beberapa hari yang lalu ia dilantik dan diambil sumpahnya dengan sangat spektakuler di The US Capitol Hill. Paling-paling, yang bisa dikatakan oleh dunia internasional, juga oleh rakyat AS yang sangat konsisten tentang perlunya menutup LADANG PEMBANTAIAN GUANTANAMO itu dengan satu kalimat pendek untuk mengungkapkan kekecewaan.
“Ternyata anda ini, PAYAH juga, Tuan Presiden OBAMA !”
From : Elisabeth SILVA Date : February, 2007
Subject :
“Demand of translation into English and publishing of the Book “LES PILIERS DE LA TRAITRISE” published on March, 2005 in FRANCE.
TRUE STORY Autobiography : Les Piliers de la TraîtriseFrench Author : Elisabeth SILVA320 P., 20 €Date of publishing : 04th march 2005 ISBN 295220941-3 Editions La Lanterne28, rue de la Seine 95100 ARGENTEUILFRANCE Tel.: 01.30.76.06.22 È06.11.10.35.00 Fax : 01.30.76.90.28info@la-lanterne.net THE WORD OF THE AUTHOR Dear Sir, I am pleased to send you hereby, a copy of my book titled “Les Piliers de la Traîtrise” published in France by Les Editions La Lanterne Paris. Part of this TRUE STORY told in this book took place in England.This autobiographical work is a poignant testimony given birth in the pain, which describes the tragic story of a French family forced to go into exile on August 31st, 2003.This true story depicts above all the inmost depths of the soul of the French author, who, will learn in this chaotic road, with her companions of galley to surpass trials, affronts, sufferings and traumas.Behind this paradoxical title, with a whiff of scandal, which enlightens upon the illusion of justice and the spirit of laws, the writer brings out some humanist connotations, the apology of self-sacrifice, the defence of a noble cause, that of the missing children.This book, which crossed the borders was approved by a large majority of French and foreign political personalities as well as sovereigns.Nevertheless, the French government still puts the veto over this shameful political and judicial scandal.Three years later, back from exile, we still fight alone injustice in France, our country of residence and danger is still topical. That’s an understatement.Therefore, I would be very happy to discuss with you the possibility of having my real terrifying story translated into English and would be grateful if you published it in your country, where I will remain, until we might meet. For a better understanding, please find herewith a synopsis of the story entitled “Forced exile within the XXI century”.I would really appreciate your opinion upon this real story.Please find enclosed my Press book, which includes various files certifying our story. All these information, as well as the reporting relevant declaration corroborating evidence about both, French State crime, as well as the denunciation of violation of our Human rights committed by the I.N.S. (Immigration and Naturalization Service) and the executioners of the prison of York in the U.S.A., against a whole honest French family, innocent of any offence or crime, nevertheless, illegally and arbitrarily imprisoned in January 2004, while applying for political asylum, should interest a publisher willing to raise public consciousness, and enlighten him upon stages of our endless fight for survival in dignity from 2003 till now.Please find herewith the up-to-date letter of HER MAJESTY THE QUEEN, who takes a stand in favour of our French family following my request entitled “ News Bulletin upon The necessity of the duty of interference against the state of exception ” imposed by French high officials affected by political smallness. This courageous and hopeful reply from Her Majesty The Queen, that sounds like a shining light in darkness, fortunately help us to stand fast. Besides, the enclosed reply from Prime Minister, Tony BLAIR should also be of great interest for you.I hope you will pay attention, at your turn, to this shameful and terrible scandal so that the truth should finally bursts in broad daylight. If you still require information we could easily arrange for an appointment at your headquarters if this would help. Waiting forward to hearing from you in the near future, Yours faithfully, The Author, Elisabeth SILVA SYNOPSIS OF THE TRUE STORY “Forced exile within the XXI century” Extracts from the book “Les Piliers de la Traîtrise” page 7- 9.(Translated into English by the Author.) THE WORD OF THE AUTHOR Does a contract matched by a licence to kill innocent targets introduced into the vicious circle of a secret defence exist except literature? “By handling the strange disappearance of the child Leo Balley, which occurred on July 19th, 1996 in Grenoble, I deciphered a Secret Defence. Involuntarily, I put in broad daylight a mystery of the French political scene and Marc, the only official of the family became at this beginning of the summer, 2003, a pursued policeman … in August, 2003, a convoy of five persons was going to get organized in the urgency to thwart a devilish machination. Three women and a man will leave to the forehead and will learn the rules of survival, under the leadership of an elite policeman steering with address operations of paramilitary camouflage, hidden in the scrub of London, carrying the torch of bravery, honour and loyalty. His mother, his sister and my boyfriend came good will, bad will with his mother will be immerse into this merciless universe of the State plot, confronted with incredible but real events, hostile pursuits and tracking, which will lead them in a crazy escalation. Besides the rescue of his family, in perilous conditions exceeding understanding, the Sergeant of Criminal Investigation Department, (O.C.R.B) Marc SILVA, will hold up to date a Logbook. These alive and handwritten memories redraw in a linear chronology the thread of the tragic events, which led our family to the borders of extreme, from August 04th, 2003 till February 11th, 2004, since France, in passing in transit by England to the hell, in the United States. Entered into this logical war, plethora of reports and correspondences were sent to the politico-judicial Authorities and world organizations, to the global scale. For these six months of exile abroad, this highly skilled policeman was going to deliver battle, without rifle, to a troop of destroying commando groups. A colossal reporter’s work without borders and without flag, patriotic soldier attached to the values of a citizen democracy … They will set the numerical superiority of their armed troops in our defenseless, numerus clausus supposed to make us sound the retreat. This picture sounding like Guernica’s war tarnishes their reputation and makes them unpopular. They are not soldiers, should have doubtless thought the General de Gaulle, because those who do not fulfil their duty dishonour the homeland.Without respite and mercilessly, they will lead us to exile, throw us to the lions, the mediocre journalists, exposing us to misery and ruin.The shell of indifference will protect us forever of the cowardice shown by a majority of people. A scene, which will remind me how much, THE RACE OF JUDAS IS FERTILE.We lost a battle but not the war, My General. My deepest respect, for great men, the grateful Nation. Marc will defend the side of our troop up to the cessation of hostilities. We shall have victory, it is inscribed into tables of stone of the divine law, triumph waits for us, but it will be necessary to go up on the cross to Calvary, to break the neck to the enemy.The remembrance of our noble fight will be engraved forever in the public consciousness, the fatal weapon of Internet will shoot the polymorphic perverses, on their own ground. In front of their long time maintained opaqueness, we would set the transparency. But the road, which will lead to the freedom and to the justice will be long and we shall carry the cross up to the mountain of Golgotha, in the prison of Pennsylvania in U.S.A., to obtain immunity and protection across the Atlantic.Vain illusion, the saviour of Humanity is no more than a mirage. This barbaric America of George W. Bush, without, faith, nor law inhabited by uneducated cowboys of the Immigration and naturalization Service, executioners of Humanity, and losers, sinks into a dying civilization. American hegemony will not reborn for a long time, from its ashes. Humanists could not tolerate acts of torture imposed on prisoners of ABOU-GHRAÏB, GUANTANAMO or still of YORKThis apocalyptic vision of the American executioners was useful, while I was prisoner in their cell, I read again the bible predictions, which calmed my moral sufferings and pointed me that God had not abandoned us, that He was a lamp in our feet and a light on our path. His omniscience, omnipresence and omnipotence would release us from their chains coming from another age and soon, I knew that God, the Almighty would open us the door of the penitentiary. " I hope now that the nib of a skilful journalist will break the “omerta”, the guilty silence, and the voice of a subtle speaker will thunder here and there the chronic of an announced psychic murder, the denial of justice, the sacrifice of a family and her rights always and still abused, in the name of the not very glorious State Reason. I wish that the truth burst upon Marion WAGON, Leo BALLEY and Estelle MOUZIN, the missing angels.To willing people, I call out for a general mobilization, and shout a solemn message, a cry from the heart, at this time from London, to Mr President Jacques Chirac inspired by his own words," It's high time to find the road of Humanism ". Yours faithfully, The Author,Elisabeth SILVA
Biography of the Author(English version)
Author of French nationality, Elisabeth SILVA was born on April 30th, 1968 in Casablanca.
Already, at the age to play with dolls, she has her first premonitory dreams. Later, she discovers that she has " a sixth developed sense ". This oddity will become in the course of time a hobby. The paradise of her cherished childhood darkens, at the age of adolescence, when her parents divorce. After this painful experience, she writes her first collection of poems titled "Migrations Intérieures". Later, at the secondary school, she shows a passion for philosophy. She gets her high school degree, in literary section, and obtains the most praiseworthy note for her philosophy test, which one is published in the annals of the " Bonnes copies du Baccalauréat " by HATIER Editions. This stylistic composition will give her later some zeal and wings for writing. She persues, postgraduate studies, in foreign languages. Afterwards, she obtains engineer's diploma in a Business School, specialized in International Marketing, and enters directly the world of work. In the course of the years, she weaves a deep relationship with Marc, her elder brother and her tender and pious mother near whom, she will spent her " thirty glorious " years mainly in the Southwest of France. In 2001, she successfully passes the nursing examination, but unfortunately she renounces to her late vocation after a delicate surgical operation of slipped disc. Fate does not exist, she discovers the benefits of hypnosis, achieves the creation of a CD Rom titled "Les Pouvoirs de l’Hypnose " before becoming hypnotherapist. Elisabeth has above all a sensitive soul. She defends a noble cause, that of the childhood in danger. Since 2000, encouraged by her brother, Marc, who is a Police officer, Elisabeth gracefully proposes her faculties, namely, Extra Sensorial Perceptions (E.S.P.) to the missing children cells. So, they unify their efforts and respective skill and try to lead informal inquiries upon missing children cases, yet unresolved, such as the tragic disappearance of the girl, Marion WAGON, occured on November 14th, 1996. Afterwards, in 2002, they undertake to investigate upon the Leo Balley missing child case occurred in July 19th, 1996 in Grenoble. After a detailed examination of the E.S.P.’s folder, beforehand sent to the Brigade of Local Research located in Grenoble, the Warrant officer OMER, convinced of the relevance of her revelations, hurries to reopen the Léo Balley’s file, namely, six years after his disappearance. On February 26th 2002, the aforesaid warrant officer hears officially Elisabeth and her brother upon rogatory commission. Curiously, the investigator seems to mainly focus on Elisabeth's fragmentary discoveries upon the existence of a military base, a nuclear rocket, and on Mister Lionel Jospin's ministerial coming within a given date, revealed in her E.S.P folder, rather than by details concerning the tragic disappearance of the child. The audition takes a new form, the affair gets more complicated and slides on another ground …Nuclear. Hence, the case is classified TOP SECRET DEFENCE. At the request of this last one, Elisabeth commits herself not to reveal anything to the media, otherwise she would expose her life to danger. The warning is without ambiguity. Time passes slowly, the enigma Léo BALLEY remains complete and the undertaking of new excavations, on the site is postponed. In the course of the month of June 2003, they try again to clear up the mystery of Estelle Mouzin, a tragical case of missing child, which has stayed at a standstill, since six months. At that moment, they are far from to imagine, that they entered into an infernal gear, till August 4th 2003, fateful day, if it is there, in the tragic story that is going to live this family. Doubtless, the simple reference to the Léo Balley’s file classified Secret Defence, supposed to accredit their steps with competent authorities, in the statement of this new affair, opens Pandora’s box and all the troubles of the earth spread on them. At this turning point, their life is turning into an endless nightmare. Elisabeth becomes a target and Marc, the only official of the family is becoming, at this beginning of the summer 2003, a pursued policeman. To escape from hostile pursuits and tracking, Elisabeth accompanied by her mother and her brother, Marc SILVA, Police Sergeant appointed to the Central Bureau for Repression of Banditism, go into a forced exile and live hidden in England, during nearly five months. Snubbed by the French chancellery and as a last resort, the SILVA-MARQUEZ family apply for political asylum in the U.S.A, on January16th, 2004. There, they are illegally detained by the I.N.S (Immigration and Naturalization Service) at New-York JFK Airport, as well as, illegally and arbitrarily imprisoned, at York, in Pennsylvania. Such barbaric images have dominated her life over the last three years and those painful memories of torture will never leave her. On 11th February, 2004, when she gets back from exile, she writes of a sharpened nib, her life story, titled “LES PILIERS DE LA TRAITRISE” namely “Pillars of treason” a poignant testimony, which mainly tells this descent into the Hells, published on march 2005, by Les Editions La Lanterne Paris, in France. In 2007, as injustice is still topical in France, future uncertain, the rehabilitation of the rights of her family, which are still abused, is and will remain her main fight, until the truth on this STATE CRIME will burst finally in broad daylight.
A couple of months ago (February 2nd to be precise), I authored a posting entitled, “John Yoo A Tough Decision to Defend for the President” regarding the redemption of America’s justice system in wake of all the miscarriages of justice which occurred during the Bush Administration and in particular those pertaining to John Yoo. Yoo was Bush’s lead legal adviser authoring legal memos concerning the treatment, incarceration and trial (hearings) proceedings of Iraqi and Afghan detainees.
Following up on my past posting I’ve learned others share equally in my interest of Mr. Yoo’s all encompassing ability of embarrassing our country in the eyes of the international community. In an article posted within Hoffington Post, Mr. Martin Garbus, a Trial lawyer, authored an article entitled: “The Times May Be Changing” where he states some of the following excerpts:
Now six years after Iraq started, nearly one hundred days into the new presidency, more and more information is coming out about the involvement of the Bush people in Iraq-related criminal acts. The legal memos and the statements of tortured detainees are only the beginning of what will soon be a flood of information. The legal machinery is starting to build, case by case, a rejection of Bush’s legal theories. Today’s decision from Federal Judge John Bates of the United States District Court for the District of Columbia that those detained in Afghanistan will have access to American courts builds on the recent cases that allow Guantanamo detainees access to the federal court. Judge Bates rejected both the Bush administration’s view and the recently articulated view of President Barack Obama that habeas corpus is not available to imprisoned non-Afghans who are arrested beyond Afghanistan. We are seeing a pattern in the Washington federal courts. The judges are not shying away from tacking tough issues. The concept that a man sitting in Baghram has a right he can enforce in an American court seemed impossible a few years ago. The constant rat-a-tat of the media, with pictures of the tortured prisoners clearly influences judges along with the rest of the population. Judges respond also when the president too set a higher standard. Attorney General Eric Holder is the one who must start the criminal process against Cheney, Gonzales, Yoo and the others. He does not shy away from difficult choices, given backing that lets him know he is not alone. He can, and has, taken positions that are ahead of Obama.
Now six years after Iraq started, nearly one hundred days into the new presidency, more and more information is coming out about the involvement of the Bush people in Iraq-related criminal acts. The legal memos and the statements of tortured detainees are only the beginning of what will soon be a flood of information.
The legal machinery is starting to build, case by case, a rejection of Bush’s legal theories. Today’s decision from Federal Judge John Bates of the United States District Court for the District of Columbia that those detained in Afghanistan will have access to American courts builds on the recent cases that allow Guantanamo detainees access to the federal court. Judge Bates rejected both the Bush administration’s view and the recently articulated view of President Barack Obama that habeas corpus is not available to imprisoned non-Afghans who are arrested beyond Afghanistan.
We are seeing a pattern in the Washington federal courts. The judges are not shying away from tacking tough issues. The concept that a man sitting in Baghram has a right he can enforce in an American court seemed impossible a few years ago. The constant rat-a-tat of the media, with pictures of the tortured prisoners clearly influences judges along with the rest of the population. Judges respond also when the president too set a higher standard.
Attorney General Eric Holder is the one who must start the criminal process against Cheney, Gonzales, Yoo and the others. He does not shy away from difficult choices, given backing that lets him know he is not alone. He can, and has, taken positions that are ahead of Obama.
Attorney General Holder’s decision today is easier than it was yesterday, and as more and more stories of brutalized prisoners come out, it will get even easier, especially with our President’s recent executive order of allowing wider windows to be opened to the public through the “Freedom of Information Act.
Judge Bates, and the judges before him, including the Supreme Court, have rejected the rationale of Bush’s Attorney General and supporting lawyers that gave the President “unitary powers.”
The public should let Eric Holder and the president know they support criminal prosecution of the Bush people. This may be accomplished by contacting the Department of Justice here.
Additional postings regarding this topic and others may be found here:
A few days ago one of those military judges down in Guantanamo decided that he would not delay a case simply because the President of the United States had requested a delay to analyze what was going on. This situation reminds me of the executives who run these financial institutions. That judge, and those executives, forgot who the hell they were working for. Today President Barack Obama stopped all military tribunal (trials) down in Guantanamo, and everywhere else they might be held. His next move should be to quietly inform the Judge Advocate General that that judge's tenure is over, as well as his military career. You see, when you work at the pleasure of the President, then his merest suggestion you might just as well take as an order....else you will experience some 'displeasure.' The banking and financial executives have not come to their senses either. Of course, that is a murkier world. We have pea-brained Republicans still wandering the halls of the both Houses of Congress mouthing idiotic platitudes like: "the bonus packages for the executives of the financial houses are a stimulus to the economy." Yes, that is right. We are still dealing with the Reagan 'slave and master' mentality. It is not gone. It needs to be stamped out. You cannot give more money to the rich and then wait for them to spend it so it will 'trickle down' to regular folk. That is not what they do. They keep it and dole it out in little bitty portions. Those portions grow ever smaller as they get more money. I repeat from an old blog: If you are hungry do not go to a wealthy neighborhood and expect to eat or get work or get help of any kind. Go to a poor neighborhood. There you will find people willing to feed and care for you. That is simply endemic to the nature of this culture. If you do go to that wealthy neighborhood for help you will get help from the police, however. You will get fed all right...in a jail cell, where you will also get shelter and plenty of questionable companions. Oh, and you will also get a record. Those financial executives I am writing about, who live in those wealthy neighborhoods, by the way, work at the 'pleasure' of the American public (their investors) and it is about time that they experienced a good measure of their employer's displeasure. As that judge should be sent packing, so should all of those executives, and I mean all!
I wanted to take a moment to reflect on Cheney in his wheelchair at the inauguration. Just what was he doing? I mean, besides attempting to resemble Mr. Potter in It's a Wonderful Life? For eight years he never sat in a wheelchair that we saw. Not even after a couple of heart procedures. So what was he doing on his last day? What was that act? I think he was afraid. I think the shoe incident in Iraq shook the hell out of the Whitehouse. It was an indication, the event and the worldwide praise of the event after, that shook them up. The prestige and powerful magnetosphere of the Presidential mystique had been penetrated. I believe that Cheney was vitally afraid for his life. Secondarily, I think he was trying to garner any sympathy he could from the masses across the country. Poor old man in a wheel chair. On his last legs. Not worth going after. That sort of thing. There is no chance that that low cur of a man would ever have allowed himself to be presented in any other way than completely vertical during the eight years before. The doddering idiot of man, George Bush, was just too dumb to understand. Like Howdy Dowdy, he went off the world stage with is head bobbing like one of those dolls we still see in the back windows of old cars. That man was, and remains, merely stupid. It was an interesting moment to view. And what was Cheney's cain for? The one he held in his hand while he was being wheeled around? To strike subalterns? What does a man in a wheelchair need with a cain? Of course, Mr. Potter carried one too. Maybe Cheney was more influenced by Hollywood than I thought.
Robert Heinlein wrote a book called "A Stranger in a Strange Land." It was a wonderful piece of science fiction in it's time. In any time. It was a predictor of the future (as all good science fiction is) in many ways. But it is the expression of the title itself that has stuck with me more than even the substance of what's inside the book's covers.
There was a birthday party tonight over by the lake. It is the birthday of a man I call a friend. I did not get invited to that party. Admittedly, the party is being given by another couple, who I also thought of as pretty close, although I have only ever met them twice. God knows that I have enough work to do, what with the mystery writer's convention starting next Friday, my website set to come up, artwork for the novel....and on and on. So I am immersed in all that. But the simple silly fact that I did not get invited to this party sits here, on my table next to Harvey, under the big monitor as I type this. I can't see that fact, but I feel it's presence. And I do not understand it. I don't know why I didn't get invited, and more than that, I don't know why I care, but I must or I would not be writing this in today's blog. Harvey is not hurt. If I went to a party then I would be abandoning him anyway. Oh, he would love to go to any old party with me, mind you. He is a party maven. But he is too rough. He likes to look like a meek mild lap cat and then scratch people when they lean down to pet him, which would not be so bad if he did not sit right there afterwards with such a look of glee all across his snobby gray muzzle. A more well-mannered cat would have the decency to run off and hide, or at least make believe that there was some ununderstandable violation of cat ethics involved. Not Harvey. No, he lets people know he did it for fun. For the pure pleasure of seeing them in pain, and hopefully bleeding. Maybe Cheney will become a 'Harvey-like' cat in his next life. He will then have real courage instead of phony tough bravado. Maybe God will be kind to that shameful cretin of a homo sapien.
I do not forget I am out here in the country. I am far away from most things I commonly accepted as social life when I lived in metropolitan centers. But I am no weak cream-puffed creature either, of little travel or life experience. I have, as one ATF agent once said upon seeing the many scars that criss-cross my torso, "I do believe he has been around the Horn a few times." It is not that I cannot handle the mild event of not being invited to the birthday party of a relatively new friend. I can. I just feel, well, diminished. I wonder if you, my readers, identify with that or whether you think I am way too much of an adolescent at heart. I will never know. But, I can also never forget, or life will remind me harshly, that I am indeed, no matter how I came to be that way, a stranger in a strange land.
http://from-the-chateau-dif.blogspot.com
It ain't over until we've won the hearts and minds of a greater number of the haters such as those passing around emails like the following:
Family members of people killed on September 11, 2001, and in other terror attacks say they are outraged by President Obama's draft order calling for the suspension of war crimes trials of prisoners being held at Guantanamo Bay. "To me it's beyond comprehension that they would take the side of the terrorists," said Peter Gadiel, whose son, James, was killed at the World Trade Center on 9/11. "Many of these people have been released and been right back killing, right back at their terrorist work again." Obama's request on the first full day of his presidency came as a draft order was being prepared ordering the closing of the Guantanamo prison within a year. A judge responded by halting the case against a Canadian detainee accused of killing an American soldier in Afghanistan, issuing a 120-day continuance in the case. Click here for photos. "I see no reason why we should delay these proceedings. Let justice be served," said Jefferson Crowther, whose 24-year-old son, Welles, was killed in the Twin Towers after he saved the lives of several others. Critics blasted Obama's decision, which they said would delay justice in cases that have already been waiting for the better part of a decade. "There is no need to suspend [the military tribunals]. There is no reason why [Obama] can't conduct a concurrent review at the same time that the military commission process is moving forward to render justice for the terrorists that have murdered thousands of people," said former Cmdr. Kirk Lippold, who lost 17 sailors during a suicide bombing attack on the USS Cole in 2000. A suspect in the case is being held at Guantanamo. "It demeans their deaths because we seem to be more concerned with the rights of detainees than we are with the justice that is being denied to my sailors that were killed," Lippold told FOXNews.com. Obama's request may mark the end of the system used by the Bush administration to try terror suspects. War crimes charges against 21 men are pending at Guantanamo, though the detainees may have to be moved to America or extradited, depending on the administration's plans for them. The Obama administration is calling for a systematic review of each detainee's case to determine who can be released and who cannot. "It is in the interests of the United States to review whether and how such individuals can and should be prosecuted," says the draft order released on Wednesday. Rep. John Murtha, D-Pa., said he would take the detainees in his own district, which lies just a few miles from the field near Shanksville, Pa., where United Flight 93 crashed after it was hijacked by terrorists on Sept.11, killing all 44 people aboard. "Sure, I'd take them. They're no more dangerous in my district than in Guantanamo," Murtha said, calling the Guantanamo prison a "sore in the United States' moral standards." "There's no reason not to put them in prisons in the United States and handle them the way they would handle any other prisoners." But some 9/11 families said they were concerned that if the trials were moved to criminal courts in the U.S., the proceedings would put civilians at risk. "The safest place to have these trials is Guantanamo Bay. If they were to move to the homeland it would endanger all of us," said Lorraine Arias Believeau of New Jersey, whose brother, Adam, was killed on 9/11. But human rights groups welcomed the president's draft order, calling it an important first step for his administration. "It is a major positive step in the right direction," said Jamil Dakwar, a lawyer for the American Civil Liberties Union who observed pretrial hearings at Guantanamo this week. If transferred to U.S. courts, some of the detainees might be freed because of the aggressive interrogation techniques used against them. Mohammed al-Qahtani, the alleged "20th hijacker" in the Sept. 11 plot, was interrogated so severely at Guantanamo Bay that Bush administration officials said he was tortured and did not refer his case for prosecution. Some of the accused terrorists, meanwhile, were impatient to have their trials proceed. "We should continue so we don't go backward, we go forward," Khalid Sheikh Mohammed, the alleged mastermind of the Sept. 11 attacks told the judge in their case. He is among five detainees accused in the attacks who have asked to be given the death penalty, believing they will become martyrs if they are executed. Lippold, who helped determine detainee policy for the Joint Chiefs of Staff as a strategic planner, said he feels he has a large investment "in making sure that these guys do not return to the fight, that they do not kill again." He said moving the cases to civilian courts was primarily a political act and could make it difficult to proceed with cases without compromising vital intelligence sources and methods. "The whole issue of detainees has become so politically charged that people forget that Americans lives are at stake," he told FOXNews.com. Crowther, a volunteer fireman for decades, said he does not care where the trials take place, but he wants to see more action from his government. "I'm constantly doing my part -- I want my government to do its part for me.I want those people who participated in my son's death and the death of some 3,000 others, I want to see them punished, if found guilty, in a court of law," he said. If the cases don't go to trial, Crowther said, "many, many families are going to be very upset." The Associated Press contributed to this report.
Family members of people killed on September 11, 2001, and in other terror attacks say they are outraged by President Obama's draft order calling for the suspension of war crimes trials of prisoners being held at Guantanamo Bay.
"To me it's beyond comprehension that they would take the side of the terrorists," said Peter Gadiel, whose son, James, was killed at the World Trade Center on 9/11. "Many of these people have been released and been right back killing, right back at their terrorist work again."
Obama's request on the first full day of his presidency came as a draft order was being prepared ordering the closing of the Guantanamo prison within a year. A judge responded by halting the case against a Canadian detainee accused of killing an American soldier in Afghanistan, issuing a 120-day continuance in the case.
Click here for photos.
"I see no reason why we should delay these proceedings. Let justice be served," said Jefferson Crowther, whose 24-year-old son, Welles, was killed in the Twin Towers after he saved the lives of several others.
Critics blasted Obama's decision, which they said would delay justice in cases that have already been waiting for the better part of a decade.
"There is no need to suspend [the military tribunals]. There is no reason why [Obama] can't conduct a concurrent review at the same time that the military commission process is moving forward to render justice for the terrorists that have murdered thousands of people," said former Cmdr. Kirk Lippold, who lost 17 sailors during a suicide bombing attack on the USS Cole in 2000. A suspect in the case is being held at Guantanamo.
"It demeans their deaths because we seem to be more concerned with the rights of detainees than we are with the justice that is being denied to my sailors that were killed," Lippold told FOXNews.com.
Obama's request may mark the end of the system used by the Bush administration to try terror suspects. War crimes charges against 21 men are pending at Guantanamo, though the detainees may have to be moved to America or extradited, depending on the administration's plans for them.
The Obama administration is calling for a systematic review of each detainee's case to determine who can be released and who cannot. "It is in the interests of the United States to review whether and how such individuals can and should be prosecuted," says the draft order released on Wednesday.
Rep. John Murtha, D-Pa., said he would take the detainees in his own district, which lies just a few miles from the field near Shanksville, Pa., where United Flight 93 crashed after it was hijacked by terrorists on Sept.
11, killing all 44 people aboard.
"Sure, I'd take them. They're no more dangerous in my district than in Guantanamo," Murtha said, calling the Guantanamo prison a "sore in the United States' moral standards."
"There's no reason not to put them in prisons in the United States and handle them the way they would handle any other prisoners."
But some 9/11 families said they were concerned that if the trials were moved to criminal courts in the U.S., the proceedings would put civilians at risk.
"The safest place to have these trials is Guantanamo Bay. If they were to move to the homeland it would endanger all of us," said Lorraine Arias Believeau of New Jersey, whose brother, Adam, was killed on 9/11.
But human rights groups welcomed the president's draft order, calling it an important first step for his administration.
"It is a major positive step in the right direction," said Jamil Dakwar, a lawyer for the American Civil Liberties Union who observed pretrial hearings at Guantanamo this week.
If transferred to U.S. courts, some of the detainees might be freed because of the aggressive interrogation techniques used against them. Mohammed al-Qahtani, the alleged "20th hijacker" in the Sept. 11 plot, was interrogated so severely at Guantanamo Bay that Bush administration officials said he was tortured and did not refer his case for prosecution.
Some of the accused terrorists, meanwhile, were impatient to have their trials proceed.
"We should continue so we don't go backward, we go forward," Khalid Sheikh Mohammed, the alleged mastermind of the Sept. 11 attacks told the judge in their case. He is among five detainees accused in the attacks who have asked to be given the death penalty, believing they will become martyrs if they are executed.
Lippold, who helped determine detainee policy for the Joint Chiefs of Staff as a strategic planner, said he feels he has a large investment "in making sure that these guys do not return to the fight, that they do not kill again."
He said moving the cases to civilian courts was primarily a political act and could make it difficult to proceed with cases without compromising vital intelligence sources and methods.
"The whole issue of detainees has become so politically charged that people forget that Americans lives are at stake," he told FOXNews.com.
Crowther, a volunteer fireman for decades, said he does not care where the trials take place, but he wants to see more action from his government.
"I'm constantly doing my part -- I want my government to do its part for me.
I want those people who participated in my son's death and the death of some 3,000 others, I want to see them punished, if found guilty, in a court of law," he said.
If the cases don't go to trial, Crowther said, "many, many families are going to be very upset."
The Associated Press contributed to this report.
Henry M
KCUF, Still the Most Eclectic Music on the WWW, Now at 128 Kb/s on Shoutcast Unlimited: http://tinyurl.com/kcuf-on-shoutcast-limited to play and http://www.urdomain.us/kcuf.htm to see what's playing
War With Contempt for Civilians
Torture, Slaughter and Lies
By BRIAN CLOUGHLEY
In September an Afghan journalist, Jawed Ahmad, was released from a US military prison in Afghanistan where his jailers " broke two of my ribs during the beatings." He worked for Canadian TV and the BBC, among other media outlets, and he had done nothing wrong. That is obvious, because he was freed without charge after a year of hellish treatment at the hands of uniformed filth whose claim to being human is at best feeble. If there had been the slightest genuine suspicion that he had committed a crime he should have been put on trial, but that is not the way the US system works, in these horrible days. Bush policy in Iraq and Afghanistan is never to admit that anyone can be innocent because everyone arrested is automatically guilty. But will it get any better under Obama? Can he alter what has become normal behavior on the part of the robotic minions of the commander-in-chief?In February Jawed Ahmad was declared an "enemy combatant," which is a glib catch-all description used by Washington's foulest to describe any foreigner who, in shades of the horrible McCarthy years, they suspect of possibly being involved in what they term anti-American activities. These victims of hysteria, of whom there are countless thousands around the world, are locked up in prisons where their treatment varies from casual brutality to hideous torture. From the British-owned, US-leased island of Diego Garcia in the Indian Ocean to the US colonial enclave at Guantanamo Bay in Cuba, by way of Bagram and Kandahar in Afghanistan and equally horrible prisons in Iraq, the misery of innocent – or even guilty – detainees casts a dreadful blot on what the world used to think was a fair and free democracy............
ENTIRE ARTICLE - http://www.counterpunch.org/cloughley12242008.html
Guantanamo lawyer says Gates may have committed perjury
Andy Worthington @ rawstory.comPublished: Monday December 22, 2008
LONDON -- The announcement Dec. 1 that Barack Obama had retained Bush Defense Secretary Robert Gates was intended to demonstrate the President-elect’s desire for a “big-tent” administration that transcended partisan politics. Gates had voiced his desire to close the Pentagon's notorious Guantánamo Bay prison almost as soon as he took over from Donald Rumsfeld in December 2006, and this and his subsequent stewardship of the Iraq War earned him a place as a trustworthy figure who might bridge the Bush and Obama divide.
However, a declaration the defense secretary made in a Washington, D.C. District Court filing Dec. 12 during the habeas review of Guantánamo prisoner Binyam Mohamed might make some rethink the trustworthy label. Mohamed’s lawyer, Clive Stafford Smith, says that unless Gates retracts his statement, he could find himself accused of perjury.......
ENTIRE ARTICLE - http://rawstory.com/news/2008/Guantanamo_lawyer_says_Gates_may_have_1222.html
Why Not Treat the Shoe-Thrower As an Enemy Combatant?
by Jacob G. Hornberger @ fff.org - Wednesday, December 18, 2008
After being severely beaten by government officials in the free nation of Iraq, Iraqi journalist Muntader al-Zaidi, the Iraqi man who threw his shoes at President Bush, is being charged with the crime of attacking a head of state, a crime that entails a possible prison sentence of 7 to 15 years.
Some people might consider the beating, which allegedly left al-Zaidi with a broken arm and ribs and injuries to an eye and leg, and the possibility of 15 years in jail, to be too light a punishment for someone who assaults the president of the United States.
But, hey, there’s another option: convert al-Zaidi from a criminal defendant to an enemy combatant in the war on terrorism, thereby entitling the U.S. military to subject him to the full panoply of Abu Ghraib/Gitmo torture-and-sex abuse techniques, and even better, keep him incarcerated for the rest of his life............
ENTIRE ARTICLE - http://www.fff.org/blog/jghblog2008-12-18.asp
by Jennifer Daskal @ salon.com
The five defendants wanted to plead guilty, but only if it brought them their desired outcome. "If we plead guilty, can we still be sentenced to death?" Mohammed asked U.S. Army Col. Stephen Henley, the military commission judge responsible for trying the men.
No one in the courtroom knew the answer, including Col. Henley. In perhaps the most important terrorism trial in American history, the rules of the game are still being made up along the way.
This was the fourth hearing in the military commission case against Mohammed and his four co-defendants -- Ali Abdul-Aziz Ali, Ramzi bin al-Shibh, Mustafa al-Hawsawi, and Walid bin Attash . They are accused of planning and organizing the 9/11 attacks. Forty-nine journalists from 15 countries came to the U.S. Naval base in Guantánamo Bay, Cuba for the show. For the first time in the six-plus-year history of the commissions, the government also brought down a group of five 9/11 family members and their guests.......
ENTIRE ARTICLE - http://www.salon.com/opinion/feature/2008/12/11/guantanamo/index.html
Potemkin Justice: BushCo Stage-Managing Gitmo To Tie Obama’s Hands?
By: Christy Hardin Smith @ firedoglake.com - Wednesday December 10, 2008 7:30 pm 9
Some odd doings at Gitmo yesterday. Potential guilty pleas, then orders for two mental competency exams, then no pleas at all. So what's up? Plenty.
Last night, I spoke with Anthony Romero of ACLU, who spent the day in Gitmo observing proceedings. When asked whether the incoming Obama administration will finally close Gitmo, the answer is no one knows for certain -- but public pressure is essential to making it happen.
Watch as former Gitmo prosecutors, in this new documentary from ACLU and Brave New Films speak plainly about inherent flaws in a tribunal system adverse to rule of law fairness.
There are open questions on whether guilty pleas can be accepted from some pro se defendants -- especially those previously subjected to torture, and if plea acceptance could mean potential death penalty sentence due to mental competency concerns. So do trial proceedings go forward -- or not?
There is a political undercurrent as well.......
ARTICLE/VIDEOS - http://firedoglake.com/2008/12/10/potemkin-justice-bushco-stage-managing-gitmo-to-tie-obamas-hands/
Musicians Don’t Want Tunes Used for Torture
Nine Inch Nails, even ‘Sesame Street’ theme used for interrogations
from commondreams.org
GUANTANAMO BAY NAVAL BASE, Cuba - Blaring from a speaker behind a metal grate in his tiny cell in Iraq, the blistering rock from Nine Inch Nails hit Prisoner No. 200343 like a sonic bludgeon.
Rage Against the Machine ... protesting against Guantanamo Bay at the Reading festival. (Chiaki Nozu/Filmmagic.com/Getty Images)"
Stains like the blood on your teeth," Trent Reznor snarled over distorted guitars. "Bite. Chew."
The auditory assault went on for days, then weeks, then months at the U.S. military detention center in Iraq. Twenty hours a day. AC/DC. Queen. Pantera. The prisoner, military contractor Donald Vance of Chicago, told The Associated Press he was soon suicidal.
The tactic has been common in the U.S. war on terror, with forces systematically using loud music on hundreds of detainees in Iraq, Afghanistan and Guantanamo Bay. Lt. Gen. Ricardo Sanchez, then the U.S. military commander in Iraq, authorized it on Sept. 14, 2003, "to create fear, disorient ... and prolong capture shock."
Now the detainees aren't the only ones complaining. Musicians are banding together to demand the U.S. military stop using their songs as weapons........
ENTIRE ARTICLE - http://www.commondreams.org/headline/2008/12/10