Dimuat di http://www.katakami.com dan http://www.redaksikatakami.wordpress.com
Dimuat di (KLIK saja) http://www.redaksikatakami.wordpress.com dan http://www.theblogkatakami.wordpress.com
Dan dimuat juga di (Klik saja URL ini) :http://my.barackobama.com/page/community/blog/katakami
Jakarta 4 APRIL 2009 (KATAKAMI) Bersamaan dengan hari pemeriksaan sekaligus penahanan Antasari Azhar di Rutan Polda Metro Jaya pada hari Senin (4/5/2009) ini, Group Musik terkenal SLANK berkunjung ke Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tetap memberikan dukungan terhadap upaya pemberantasan korupsi.
Antasari Azhar pernah berkunjung ke MARKAS SLANK tanggal 16 April 2008 dan ketika berada di GANG POTLOT itu mantan Direktur Penuntutan Pada Jampidum Kejaksaan Agung ini menyanyikan lagu JUWITA MALAM.
Sadis ! Dan karena ketakutan jika kebusukan ini tercium lewat tulisan-tulisan KATAKAMI maka patut dapat diduga PERWIRA TINGGI yang liar ini terus berusaha merusak dan melakukan sabotase pada KATAKAMI.COM. Dan untuk menutup tulisan ini, diharapkan Jajaran Polda Metro Jaya tetap mengembangkan pemeriksaan pada proses penyidikan ini. Termasuk mencermati apakah patut dapat diduga ada keterlibatan KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE dan kelompoknya.
Mohon maaf, kami tidak bermaksud memfitnah siapapun tetapi terus terang saja didalam struktur organisasi POLRI yang mempunyai kemampuan tinggi adalah GORIES MERE karena ia dan kelompoknya sudah sangat dilatih untuk sempurna ilmu serta kemampuannya dalam menangani terorisme. Tak cuma kemampuan dalam bidang IT, tetapi dalam hal tembak-menembak.
Patut dapat diduga, rekam jejak yang bersangkutan juga tidak sempurna dalam menapaki kariernya sebagai POLISI karena tercatat berulang kali terkait dalam pelanggaran hukum menyangkut penanganan narkoba. Tapi tidak ada satupun yang diproses secara hukum.
Misalnya, patut dapat diduga terlibat dalam kasus pencurian barang bukti sabu-sabu 13 kg beberapa tahun lalu dan meloloskan sebanyak 3 kali berturut-turut atas bandar narkoba Liem Piek Kiong (MONAS). Patut dapat diduga, GORIES MERE terlibat juga dalam pembunuhan misterius secara sadis terhadap bandar narkoba HANS PHILIP dan salah seorang beking HANS PHILIP dari unsur KEPOLISIAN yaitu Sugeng Basuki justru bisa menjadi PENYIDIK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada bulan Februari 2008. Padahal Sugeng Basuki sudah pernah ditahan dan diancam dipecat dari POLRI karena memang terbukti menjadi beking bandar narkoba HANS PHILIP.
Patut dapat diduga, keberadaan Sugeng Basuki menjadi Penyidik KPK bisa menjadi entry point atau jalan masuk untuk menyingkap sindikat narkoba atau perjudian yang melingkari Antasari Azhar. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang POLISI yang sudah nyata-nyata ditemukan berbagai indikasi pelanggarannya sebagai beking (yang ditempatkan "beking utama yang sebenarnya") untuk melindungi Hans Philip, bisa menjadi Penyidik KPK.
Ketika KAPOLRI dijabat oleh Jenderal Dai Bachtiar, Sugeng Basuki sudah dipastikan akan segera dipecat karena senjata api yang diberikan INSTITUSI POLRI kepada Sugeng Basuki justru diberikan kepada Hans Philip. Tetapi pada akhirnya, Hans Philip mati secara sangat misterius yaitu patut dapat diduga ditembak di bagian kepala oleh Gories Mere dan kelompoknya di daerah Bogor. Badan Intelijen Negara (BIN) mengetahui kabar bahwa patut dapat diduga Sindikat Gories Mere terkait dalam "kematian misterius" bandar narkoba Hans Philip di daerah Bogor. Jika memang ada penegakan hukum di Indonesia, mengapa patut adfa tindakan PEMBUNUHAN terhadap bandar narkoba hans Philip ? Ada apa sehingga seorang bandar langsung dibinasakan dan dilenyapkan dari muka bumi ini dengan cara yang sangat sadis ? Dan patut dapat diduga, Kapolri yang saat itu menjabat (Jenderal Dai Bachtiar) tak berani menindak Gories Mere sehingga yang terkena dampaknya adalah kroco-kroco tingkat bawah dalam sindikat Gories Mere.
Patut dapat diduga, ada seorang POLISI di tingkat bawah sudah lebih dari 5 tahun mengalami depresi berat dan sangat terpukul karena ia sengaja dikorbankan oleh Gories Mere dalam kasus narkoba. Akibat kalah pangkat maka si POLISI yang satu ini yang dengan mudah dipermainkan. Dan sampai sekarang, POLISI yang sangat malang terzolimi secara tidak manusiawi ini masih tetap ada di Mabes POLRI dan tetap mendekatkan diri dalam ajaran agama (Islam).
Patut dapat diduga, Gories Mere adalah orang yang harus bertanggung-jawab ketika terbongkar dan ketahuan ada sejumlah alat penyadap yang dipasang secara liar di kediaman dinas KAPOLRI. Dan ketika hal itu terbongkar, patut dapat diduga Gories Mere menyangkal keras perbuatan yang sangat lancang kurang ajar itu.
Patut dapat diduga, ada teror dan intimidasi yang sangat berlebihan kepada sejumlah JURNALIS yang mencoba membuka berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Gories Mere sejak beberapa tahun terakhir ini yaitu dari mulai pengrusakan sepeda motor, pengrusakan SITUS KATAKAMI dan rangkaian teror lainnya yang dialami sejumlah JURNALIS.
Patut dapat diduga, Gories Mere terlibat dalam sebuah kasus kematian "seseorang" yaitu saat Gories Mere dengan sengaja memerintahkan kepada seorang PENYIDIK POLRI agar mau menuliskan dalam hasil tugasnya bahwa mayat tang terbujur kaku di Anyer belasan tahun lalu adalah memang seorang Direktur Bank yang terlibat dalam kasus ekonomi. Sementara Penyidik itu samasekali belum melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan hukum, apakah benar mayat itu adalah mayat dari Direktur Bank yang dimaksud. Patut dapat diduga, Penyidik POLRI itu sempat mau "diberi pelajaran" oleh Gories Mere tetapi ada pihak-pihak lain di POLRI yang tahu bahwa Penyidik itu tidak bersalah (dan justru Penyidik inilah yang benar), langsung mengamankan si Penyidik tadi dan sampai sekarang masih tetap aktif bertugas di POLRI.
Patut dapat diduga, seorang Perwira Menengah yang berada didalam lingkaran (ring satu) Gories Mere pernah melakukan penyekapan terhadap seseorang agar mengakui hal-hal tertentu dalam kasus illegal logging. Patut dapat diduga, Perwira Menengah ini jugalah yang berada dibalik pembuatan situs rekayasa dari negara Kanada tahun lalu yaitu situs yang memuat surat wasiat Amrozi cs. Bayangkan juga, Amrozi cs yang saat itu tinggal menunggu hari kematiannya di LP Batu Nusa Kambangan difitnah memuat surat wasiatnya lewat sebuah situs. Kabarnya, Perwira Menengah POLRI yang "sok jago" itu berbulan-bulan bolog dari pekerjaannya di BARESKRIM POLRI, tanpa ada keterangan resmi apapun.
Patut dapat diduga, Gories Mere adalah agen asing yaitu menyuplai rahasia negara dalam penanganan terorisme. Salah satu contoh yaitu patut dapat diduga, sebelum penangkapan terhadap Zarkasih dan Abu Dujana tanggal 9 Juni 2007, Gories Mere mengundang sejumlah polisi dari negara tertentu untuk intes bertemu di sebuah hotel mewah di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Dan setelah Zarkasih dan Abu Dujana tertangkap, patut dapat diduga Pemimpin Dunia yang pertama dihubungi Gories Mere untuk dilapori bahwa ada penangkapan terhadap teroris adalah Perdana Menteri Australia. Presiden SBY dianggap angin lalu karena baru dilapori tentang penangkapan itu pada kesempatan yang berikutnya. Itu sebabnya, tahun 2007 itu Istana Kepresidenan tidak mengeluarkan pernyataan resmi sebagai tanda ucapan selamat atas penangkapan tersebut karena ada ketersinggungan yang sangat prinsip mengenai ulah Gories Mere yang patut dapat diduga memang dikenal sangat liar ini.
Kami tidak sembarang bicara tetapi patut dapat diduga kemampuan yang lihai dan licik berbahaya memang dikuasai semua tekniknya oleh GORIES MERE.
Sudahlah, kepada siapapun yang patut dapat diduga menjadi MAKELAR pembunuhan ini, anda bertanggung-jawab dong, Jagoan ! Kombes WW belum setinggi "perwira tinggi tertentu" ilmunya dalam melakukan segala sesuatu yang ujud-ujungnya adalah mencari usaha sampingan yang menghasilkan pundi-pundi. Kombes WW, hanya perwira menengah yang pasti didalam kepalanya hanya mengikuti hierarki dan garis komando penugasan. Apakah ia hanya sebagai alat dari oknum yang pangkat dan angkatannya jauh lebih tinggi ? Apakah saat melakukan persiapan eksekusi ini, Kombes WW berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani sebab patut dapat diduga "perwira tinggi tertentu" yang sangat liar berbahaya di POLRI itu, memiliki kemampuan hipnotis yang sangat berbahaya dan ketergantungannya kepada ilmu supranatural memang sangat kuat.
Disini POLRI harus berani membuka karena tidak ada yang kebal hukum di negara ini. Buka, buka semua. Jangan pernah takut terhadap orang per orang. Jika memang ada kendala bagi POLDA METRO JAYA untuk menangani kelompok tertentu yang dikenal sangat UNTOUCHABLE di dalam struktur organisasi POLRI maka jangan pernah ragu-ragu meminta dukungan dari JAJARAN POLHUKKAM, bahkan kepada Presiden SBY dan Wapres JK.
Tuntaskan penyelesaian kasus ini. Keterlaluan yang menjadi MAKELAR pembunuhan ini. Tidak tahu malu karena yang dilakukan seperti binatang liar yang buas kelaparan tetapi tidak bertanggung-jawab.
Ditulis oleh theblogkatakami di/pada 25/04/2009
JAKARTA 24 APRIL 2009 (KATAKAMI) Dari pemberitaan Radio Voice Of America (VOA) edisi hari Jumat (24/4/2009) ini dilaporkan bahwa 2 wartawati AS akan segera diadili di KOREA UTARA. Mari, kami ajak anda untuk menyimak pemberitaan dari Radio Voice Of America (VOA) :
Media pemerintah di Korea Utara mengatakan hari Jumat bahwa para penyelidik telah selesai menginterogasi dua wartawan Amerika yang ditahan dan akan mengenakan tuduhan resmi terhadap mereka.
Kantor berita resmi Korea Utara mengatakan keduanya akan diadili berdasarkan kejahatan mereka, tetapi tidak menjelaskan tuduhan tersebut. Wartawan Euna Lee dan Laura Ling dari Current TV yang berbasis San Fransico, ditahan tanggal 17 Maret ketika melaporkan pengungsi Korea Utara di Tiongkok. Korea Utara telah menuduh mereka memasuki negara itu secara tidak syah.
Wartawan Tanpa Tapal-batas telah mengutuk pemerintah Korea Utara karena memperlakukan perempuan tersebut sebagai penjahat hanya karena melakukan pekerjaan mereka.
Sementara pada pekan lalu, dunia internasional memberitakan bahwa Wartawati AS lainnya yaitu ROXANA SABERI telah mendapatkan vonis 8 tahun penjara dari Pengadilan Iran atas tuduhan yang “sama persis” dengan KOREA UTARA yaitu dituduh menjadi MATA-MATA ASING.
Kami tidak berbicara mengenai negara asal dari masing-masing wartawati ini.
Kebetulan ketiganya memang bekerja untuk media AS. Yang kami ingin soroti adalah ada indikasi sejumlah PIMPINAN DUNIA saat ini patut dapat diduga sudah kehilangan rasionalitasnya sehingga dengan enak saja menangkapi dan menyeret WARTAWAN / WARTAWATI atas tuduhan sebagai agen intelijen.
Kami mengecam dengan sangat keras penangkapan itu, apalagi korbannya adalah perempuan.
Dimana rasionalitas Pemimpin Korea Utara KIM JONG IL dan Pemimpin di Iran yaitu Presiden Ahmadinejad ?
Dimana rasionalitas dari APARAT-APARAT KEAMANAN di kedua negara ini yaitu di KOREA UTARA & IRAN ?
Kami berbicara sebagai JURNALIS.
Dan kami ingin memberitahukan kepada KIM JONG IL dan AHMADINEJAD, JURNALIS adalah JURNALIS. Yang ada dalam hati, pikiran, tindakan, perkataan dan seluruh totalitas hidup seorang JURNALIS, adalah bekerja, bekerja dan bekerja. (CONTINUE)
READ MORE ???
Please visit :
http://www.katakami.com
http://www.theblogkatakami.wordpress.com
http://www.redaksikatakami.wordpress.com
http://www.blogskatakami.wordpress.com
Dimuat di WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM
WWW.THEBLOGKATAKAMI.WORDPRESS.COM
WWW.BLOGSKATAKAMI.WORDPRESS.COM
Sementara saat ini Situs Utama kami
Patut dapat diduga kembali dirusak oleh sejumlah oknum di MABES POLRI, yaitu yang patut dapat diduga diperintah KAPOLRI BHD & KOMJEN GM. Serta patut dapat diduga terus menerus dirusak oleh oknum di Badan Intelijen Negara (BIN)
Dimana dengan sengaja, oknum pelaku pengrusakan ini sengaja mengunci sistem keredaksian kami agar tidak bisa diakses samasekali untuk memuat tulisan atau berita apapun.
Kami sangat mengecam keras brutalisme yang berkepanjangan ini dan lemahnya penegakan hukum di negara ini. Sebab, patut dapat diduga SITUS KATAKAMI menjadi ajang brutalisme oknum APARAT PENEGAK HUKUM & APARAT KEAMANAN di negeri ini.
KATAKAMI
(Continue) READ MORE ???
Oleh : SUCIWATI, Isteri Alm. Munir.
BAGIAN PERTAMA
“Kenapa Abah dibunuh, Bu?” Mulut mungil itu tiba-tiba bersuara bak godam menghantam ulu hatiku. Gadis kecilku, Diva Suukyi, saat itu masih 2 tahun, menatap penuh harap. Menuntut penjelasan.
Suaraku mendadak menghilang. Airmataku jatuh. Sungguh, seandainya boleh memilih, aku akan pergi jauh. Tak kuasa aku menatap mata tanpa dosa yang menuntut jawaban itu. Terlalu dini, sayang. Belum saatnya kau mengetahui kekejian di balik meninggalnya ayahmu, suamiku, Munir. Seolah tahu lidah ibunya kelu, Diva memelukku. Tangan kecilnya melingkari tubuhku. ”Ibu jangan menangis…Jangan sedih,” kata-kata itu terus mengiang di telingaku.
Pada 7 September 2004, sejarah kelam itu tertoreh. Munir, suami dan ayah dua anakku –Alif Allende (10) dan Diva Suukyi (6)—meninggal. Siang itu, pukul 2.
Usman Hamid dari KontraS menelepon ke rumah. “Mbak Suci ada di mana?” Firasatku langsung berkata ada yang tidak beres. Pasti ada hal yang begitu besar terjadi sampai Usman begitu bingung. Jelas dia menelepon ke rumah, kok masih bertanya aku di mana.
Benar saja. Tergagap Usman bertanya, “Mbak, apa sudah mendengar kabar bahwa Cak Munir sudah meninggal?”
Tertegun aku mendengarnya. Seolah aku berada di awang-awang dan kemudian langsung dibanting ke tanah dengan keras. Kehidupan seolah berhenti. Seseorang yang menjadi bagian jiwaku, nyawaku, telah tiada. Kegelapan itu mencengkeram dan menghujamku dalam duka yang tak terperi.
Nyatakah ini? Air mata membanjir. Tubuhku limbung. Perlu beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan tenaga dan akal sehat. Aku harus segera mencari informasi tentang Munir. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada dia?
Begitu kesadaranku hadir, segera kutelepon berbagai lembaga seperti Imparsial dan kantor Garuda di Jakarta dan di Schipol (Belanda). Begitu pula teman-teman Munir di Belanda. Aku segera mencari kabar lebih lanjut dari kawan-kawan aktivis. Tak ada yang bisa memberikan keterangan memuaskan.
Orang-orang mulai berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa. Aku masih sibuk mencari informasi kesana-kemari. Sebagian diriku masih ngeyel, berharap berita itu bohong semata. Aku hanya akan percaya jika melihat langsung jenazah almarhum.
Pada tragedi ini, pihak Garuda amat tidak bertanggungjawab. Tiga kali aku menelepon kantor mereka di Jakarta, tapi tak satu pun keterangan didapat. Mereka bahkan bilang tidak tahu-menahu soal kabar kematian Munir. Sungguh menyakitkan, pihak maskapai penerbangan Garuda harusnya yang paling bertanggungjawab tidak sekali pun menghubungiku untuk memberi informasi. Padahal, Munir meninggal di pesawat Garuda 974.
Kantor Garuda di Schipol pun sama saja. Pada telepon ketiga, dengan marah aku menyatakan berhak mendapat kabar yang jelas menyangkut suamiku. Barulah informasi itu datang. Yan, nama karyawan Garuda itu, menjelaskan bahwa memang Munir telah meninggal dan dia menyaksikan secara langsung. Yan bahkan berpesan jangan sampai orang mengetahui kalau dia yang memberi kabar itu kepadaku. Ah, apa pula ini? Tuhan, beri aku kekuatan-Mu.
Aku hanya bisa menangis. Si sulung Alif, saat itu baru 6 tahun, melihatku dengan sedih dan ikut menangis. Diva terus bertanya dalam ketidak mengertiannya, “Kenapa Ibu menangis?” Aku merasa seolah jauh dari dunia nyata. Kosong.
Jiwaku hampa. Saat itu, dengan kedangkalanku sebagai manusia, sejuta pertanyaan dan gugatan terlontar kepada Tuhan. “Kenapa bukan aku saja yang Engkau panggil, Ya Allah? Mengapa harus dia? Mengapa dengan cara seperti ini? Mengapa harus saat ini? Mengapa? Ya Allah, Kau boleh ambil nyawaku,hamba siap menggantikannya. Dia masih sangat kami butuhkan, negara ini butuh dia.”
Rumah tiba-tiba dibanjiri manusia. Teman, kerabat, tetangga berdatangan. Bunga berjajar dari ujung jalan sampai ujung satunya. Alif bertanya, “Kenapa bunga itu tulisannya turut berduka cita untuk Abah?” Anakku, aku peluk dia, kukatakan bahwa Abah tidak akan pernah kembali lagi dari Belanda. Abah telah meninggal dan kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.
Alif menangis dan protes, “Bukannya Abah hanya sekolah? Bukannya Abah akan pulang Desember? Kenapa kita tidak akan ketemu lagi?” Amel, guru yang selama ini melakukan terapi untuk Alif yang cenderung hiperaktif, segera menggendong dan membawa Alif keluar. Maafkan, Nak. Aku tak berdaya bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaanmu. Aku tidak mampu.
Teman-teman dari berbagai lembaga juga datang. Antara lain dari Kontras, Imparsial, Infid, HRWG, dan banyak lagi yang tak mungkin aku mengingatnya satu persatu. Semua tumpah ruah.
Puluhan wartawan juga datang, tapi aku tak mau diwawancarai mereka. Biarlah kesedihan ini mutlak jadi milikku. Meskipun aku yakin bahwa keluarga korban yang selama ini didampingi almarhum pasti tidak kalah sedih. Sebagian mereka datang dan histeris menangisi kehilangan Munir.
PADA 8 September 2004, aku menjemput jenazah suamiku. Bersama Poengky dan Ucok dari Imparsial, Usman dari KontraS, dan Rasyid kakak Munir, aku berangkat ke Belanda. Ya Tuhan, beri aku kekuatan-Mu, begitu doaku sepanjang perjalanan.
Di ruang Mortuarium Schipol, jasad Munir terbujur kaku. Kami tiada tahan untuk tidak histeris. Usman melantunkan doa-doa yang membuat kami tenang kembali.
Sejenak aku ingin hanya berdua dengan suami tercintaku. Aku meminta teman-teman keluar dari ruangan. Aku pandangi Munir dalam derai air mata. Tak tahu lagi apa yang kurasakan saat itu. Sedih, hampa, kosong.
Lalu, kupegang tangannya. Kupandangi dia. Teringat saat-saat indah ketika kami bersama. Tiba-tiba ada rasa lain yang membuat aku menerima kenyataan ini. Aku harus merelakan kepergiannya. Doa-doa kupanjatkan. Ya Allah, berilah suamiku tempat terhomat disisi-Mu. Amien.
Di Batu, 12 September 2004, kota kelahirannya, Munir disemayamkan. Pelayat seolah tiada habisnya datang. Handai taulan, sahabat, teman-teman buruh, petani, mahasiswa, aktivis, wartawan semua ada. Banyak yang tidak tidur menunggu esok hari, saat pemakaman Munir. Umik, ibu Munir, begitu sedih. Aku bahkan tak sanggup melihat kesedihan yang membayang di wajahnya.
Hari itu, masjid terbesar di Batu, tempat Munir disholati, tidak sanggup menampung semua yang hadir. Perlu antre bergantian untuk sholat jenazah. Kota Batu yang selama ini sepi mendadak dipadati manusia. Melimpahnya “tamu” Munir ini bagai suntikan semangat bagiku. Bahwa ternyata bukan aku dan keluarga saja yang merasakan kedukaan ini. Dukungan yang mereka berikan membuatku kuat.
Seperti menanam sesuatu maka kamu akan memanennya,itulah yang aku buktikan hari ini. Aku melihat yang dilakukan Munir selama ini membuktikan apa yang dia perbuat.
Munir selalu mencoba berjuang bagi tegaknya keadilan dan perdamaian. Dia berteriak lantang menyuarakan keadilan bagi korban, baik di Aceh,Papua,Ambon dan dimana saja. Keberanian dan sikap kritisnya terhadap penguasa memang harus dibayar mahal oleh nyawanya sendiri dan juga oleh keluarga yang ditinggalkannya ‘anak dan istrinya’.
TAK MUDAH bagiku mencerna kehilangan ini. Perlu proses untuk menerima, mengikhlaskan kepergian Munir, dan menerima bahwa ini adalah kehendakNya. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka siapa pun dan dengan cara apa pun tidak akan mampu mengelak. Keyakinan bahwa hidup-mati manusia adalah kehendak-Nya itu membuat aku bangkit lagi.
Munir adalah manusia, sama sepertiku dan yang lainnya, yang bisa mati. Kemarin, sekarang atau besok, itu hanya persoalan waktu. Sakit, diracun, atau ditembak itu hanya persoalan cara. Kematian adalah keniscayaan. Suka atau tidak suka, kita tetap harus menghadapinya. Dan kehidupan tidak berhenti. Air mata kepedihan tidak akan pernah mengembalikannya.
Sepenggal doa Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW, membuatku bertambah yakin bahwa aku harus bangkit:
“Ketika kumohon kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kebijaksanaan, Allh memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kesejahteraan, Allah memberikan aku akal untuk berpikir. Ketika kumohon keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi. Ketika kumohon sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong. Ketika kumohon bantuan, Allah memberiku kesempatan. Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.”
Kucoba untuk merenung. Kuteguhkan hati bahwa ini bukan sekedar takdir, tapi ada misteri yang menyelubungi. Misteri yang harus diungkap. Aku harus berbuat sesuatu. Bersyukur, aku tidak sendirian dalam kedukaan ini. Banyak teman-teman yang peduli kepada kami sekeluarga.
BAGIAN KEDUA
DUA bulan kemudian, tepatnya 11 November 2004, Rachland dari Imparsial menghubungiku. Dia mengabarkan ada wartawan dari Belanda ingin mewawancarai. Dia juga bertanya, apakah aku sudah mengetahui hasil otopsi yang dilakukan pihak Belanda terhadap almarhum Munir. Hasil otopsi itu kabarnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri.
Aku berharap teman-teman memiliki jaringan ke Departemen Luar Negeri. Tapi, rupanya tidak. Aku pun menelepon 108 –nomor informasi—untuk meminta nomer telepon kantor Departemen Luar Negeri.
Teleponku ditanggapi seperti ping-pong. Dioper sana-sini. Sampai akhirnya aku berbicara via telepon dengan Pak Arizal. Dia menjelaskan bahwa semua dokumen otopsi telah diserahkan kepada Kepala Polri, dengan koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.
Entah, keberanian dari mana yang menyusup dalam diriku pada waktu itu. Aku tanpa ragu menghubungi dan berbicara dengan mereka, semua pejabat itu. Kebetulan, semua nomor telepon pejabat-pejabat penting itu terekam dalam telepon genggam suamiku.
Kepada para petinggi itu, aku bertanya, “Kenapa aku sebagai orang terdekat almarhum tidak diberitahu tentang otopsi? Apa yang terjadi padanya? Apa hasilnya?” Mereka tidak memberikan jawaban. Padahal, sebagai istri korban, aku memiliki hak yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Pukul 10.00 malam, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Pak Widodo AS meneleponku. Menurut dia, hasil otopsi telah diserahkan kepada Kepala Bagian Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Pak Suyitno Landung, Markas Besar Polri. Malam itu juga aku menelepon Kabareskrim. Aku meminta bertemu dengan dia esok paginya.
Bersama Al Ar’af dari Imparsial,dan Usman Hamid dari KontraS, Binny Buchori dari Infid, Smita dari Cetro dan beberapa kawan, esok paginya tanggal 12 November 2004 aku mendatangi kantor Kabareskrim.
Pagi itu aku menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Benarlah dugaanku bahwa ada yang aneh pada kematian Munir. Hasil otopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematian almarhum adalah lantaran racun arsenik. Racun itu ditemukan di lambung, urine, dan darahnya. Ternyata dia memang dibunuh…!
KELUAR dari Mabes Polri, kami sudah diserbu wartawan. Siaran pers pun digelar bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di kantor KontraS.
Isinya, mendesak pemerintah untuk segera melakukan investigasi, menyerahkan hasil otopsi kepada keluarga, dan membentuk tim penyelidikan independen yang melibatkan kalangan masyarakat sipil. Desakan serupa dikeluarkan oleh tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah. Desakan yang ditanggapi dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.
Tak lama pula kami membentuk KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir). Banyak organisasi dan individu yang punya komitmen akan pengungkapan kasus ini bergabung. Ini memang bukan hanya persoalan kematian seorang Munir. Lebih dari itu, ini persoalan kemanusiaan yang dihinakan dan kita tidak mau ada orang yang diperlakukan sama seperti dia hanya karena perbedaan pikiran.
Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun sepakat untuk meminta pemerintah membentuk tim independen kasus Munir. DPR juga mendesak pemerintah segera menyerahkan hasil autopsi kepada keluarga almarhum. Pada November 2004, DPR membentuk tim pencari fakta untuk mengusut kasus pembunuhan Munir.
PADA 24 November 2004, Presiden Yudhoyono bertemu denganku. Teman-teman dari Kontras, Imparsial, Demos menemaniku bertemu Presiden. Satu bulan kemudian tepatnya tanggal 23 Desember 2004 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden untuk pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir yang dipimpin oleh Brigjen pol. Marsudi Hanafi.
Tim ini, di luar dugaan, bekerja efektif menemukan kepingan-kepingan puzzle siapa dibalik pembunuhan Munir. Fakta-fakta temuan tim ini cukup mencengangkan. Fakta yang menunjukkan benang merah pembunuhan keji penuh konspirasi dan penyalahgunaan kekuasaan serta kewenangan di Badan Intelejen Nasional (BIN). Sayangnya TPF tidak diperpanjang lagi setelah dua kali(6 bulan)masa kerjanya.
Adalah Pollycarpus, pilot Garuda, benang merah yang mengurai jaring laba-laba kebekuan dan kerahasiaan yang melingkupi BIN. Polly, sebuah nama yang sangat melekat dibenakku. Sangat dalam maknanya dalam perjalanan menguak kebenaran siapa dibalik kematian Munir, suamiku.
Dia adalah orang yang menelepon suamiku dua hari sebelum berangkat ke Belanda. Polly menanyakan jadwal keberangkatan suamiku dan dia mau mengajak berangkat bersama. Kebetulan waktu itu aku yang menerima telepon itu. Jika tidak, barangkali aku tidak akan pernah tahu keberadaan Polly. Munir mengatakan Polly adalah orang aneh dan sok akrab. “Dia itu orang tidak dikenal tapi tiba-tiba menitipkan surat untuk diposkan di bandara setempat ketika aku hendak ke Swiss,” begitu kata Munir
Terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sang pilot tidak hanya menerbangkan pesawat. Dia adalah orang yang mempunyai hubungan dengan agen BIN seperti halnya Mayor Jenderal TNI Muchdi PR, Deputi V BIN. Polly disebut sebagai agen non organik BIN yang langsung berada di bawah kendali Muchdi. Berkas dakwaan tersebut juga menyebut adanya pembunuhan berencana terhadap Munir.
Tercatat pula dalam berkas dakwaan untuk Muchdi PR, keduanya –Polly dan Muchdi—berhubungan intensif melalui telepon. Paling tidak 41 kali hubungan telepon antara Muchdi dan Polly yang terjadi menjelang, saat dan sesudah tanggal kematian Munir. Bisa diduga, keduanya berhubungan terkait dengan perencanaan, eksekusi, dan pembersihan jejak.
KAMI, aku dan teman-teman KASUM, juga melakukan investigasi. Kami berusaha memetakan jejak sang pilot. Melalui berbagai penelusuran, terungkap bahwa Pollycarpus memiliki hubungan dengan para pejabat BIN. Sosok satu ini diketahui berada di berbagai daerah titik panas seperti Papua, Timor Leste, dan Aceh. Sebuah fakta yang tidak biasa dalam dunia profesi pilot.
Polly sendiri, dalam persidangan, mengaku bahwa dia pernah tinggal cukup lama di Papua. Katanya, dia bertugas sebagai pilot misionaris sebelum bekerja di Garuda. Mungkin kebetulan, mungkin juga tidak, keberadaan Polly di Papua ternyata bersamaan dengan Muchdi PR yang waktu itu menjadi Komandan KODIM 1701 Jayapura pada tahun 1988-1993. Lalu, Muchdi menjadi Kasrem Biak 173/ 1993-1995. Melihat rekam jejak ini, patut diduga, pada periode itulah perkenalan pertama sang pilot dengan sang jenderal.
Indra Setiawan, saat itu menjabat Direktur Utama Garuda, mengakui mengingat nama Pollycarpus karena khas dan unik. Pada 22 November 2004, ketika kami meminta keterangan kepada Indra,
Aku: Apakah ada yang namanya Polly di Garuda?Indra (menjawab dengan cepat) : Oh ya. Ada. Namanya Pollycarpus.Aku : Bapak kok hafal padahal karyawan bapak lebih dari 7000 ?Indra : Ya, soalnya namanya khas dan unik. Kalau namanya Slamet, saya pasti lupa.
Belakangan, dalam persidangan, baik sebagai saksi atau pun ketika ditetapkan sebagai terdakwa pada tahun 2007, terungkap bahwa Indra mengingat Polly karena alasan khusus. Alasan yang berkaitan dengan BIN. Polly merangkap pilot dan bagian pengamanan penerbangan (aviation security) atas permintaan BIN. Sebuah alasan yang masuk akal. Jika BIN yang meminta, kendati tidak benar secara prosedur, maka pihak Garuda tidak bisa menolak.
BIN mengeluarkan permintaan tersebut dalam surat yang ditandatangani Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali. Pada saat itu Kepala BIN dijabat oleh Hendropriyono –sosok yang selama ini sangat dekat dengan berbagai kasus yang diadvokasi almarhum.
Surat yang diteken As’ad patut diduga menjadi petunjuk bahwa rencana pembunuhan Munir melibatkan para petinggi BIN, bukan hanya Muchdi , tapi juga Hendropriyono. Apalagi, sesuai pengakuan agen BIN Ucok alias Empi alias Raden Patma dalam persidangan Peninjauan Kembali, Deputi II Manunggal Maladi dan Deputi IV Johannes Wahyu Saronto BIN juga diduga terlibat. (CONTINUE)
Please visit our website :
(MS)
Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi
Jakarta 21 APRIL 2009 (KATAKAMI) Bertepatan dengan peringatan HARI KARTINI pada hari Selasa (21/4/2009) ini, izinkan saya Mega Simarmata selaku Pemimpin Redaksi di KATAKAMI.COM ini, menyampaikan secara khusus sebuah penghargaan yang sangat tulus kepada Megawati Soekarnoputri.
Kekuatan dan ketegaran mentalnya sebagai pribadi yang tahan banting terhadap semua kecenderungan penguasa yang arogan, kejam, bengis, tak adil dan sungguh sangat tidak manusiawi. Awal pertama berkenalan dengan Ibu Mega – begitu saya biasa memanggil beliau – adalah pada kerusuhan berdarah 27 Juli 1996.
Ketika itu saya masih bekerja sebagai reporter di Radio Ramako (1993-1998) dan merupakan satu-satunya REPORTER RADIO yang menyiarkan secara langsung kerusuhan itu selama lebih dari 10 jam secara langsung (LIVE).
Saya ingat betul bahwa pagi-pagi buta tanggal 27 Juli 1996 itu, saya sudah berada di lokasi kerusuhan. Tak mandi, tak sarapan, dan pagi hari dimana saya sudah mulai bertugas “memantau” situasi hanya dengan cuci muka dan gosok gigi.
Memanjat dari tembok ke tembok untuk melompati setiap gedung di sejajaran Bioskop yang ada di kawasan tersebut, agar saya bisa terus merapat ke Kantor PDI Jalan Diponegoro.
Karena tahu bahwa saya adalah WARTAWAN maka ketika itu beberapa pedagang kaki lima, ikut membantu saya kalau hendak memanjat tembok dan begitu diatas langsung siap-siap melompat ke bangunan sebelahnya.
Saya ingat betul bahwa pekerjaan saya relatif “aman terkendali” dari mulai pagi sampai siang harinya. Laporan masih datar-datar saja, walaupun eskalasi kerusuhan itu secara bertahap mulai kelihatan serius.
Memasuki pukul 15.00 WIB, barulah kerusuhan berdarah mulai bergolak sangat hebat. Atmofsir kekerasan terasa dan terlihat dimana-mana. Setiap sudut jalan Diponegoro menjadi mencekam.
Saya termasuk yang menjadi korban kekerasan.
Walau sudah mengatakan bahwa saya adalah WARTAWAN, tetapi aparat keamanan yang mendadak menjadi BERINGAS mulai pukul 15.00 itu seakan tak perduli.
Saya ditendangi dari belakang dan sempat ada yang sengaja menarik tali (maaf) BH dari arah punggung tetapi begitu ditarik, langsung didorong keras sampai saya terhuyung-huyung. “Ini lagi wartawan, ngapain disini, pergi kamu !”.
Sepatu laras itu menendang pantat saya dari belakang. Aparat keamanan tidak memperbolehkan ada wartawan dan sehingga semua tindakan mereka sangat beringas. Saya melihat, tubuh manusia banyak yang diseret ke arah jalan-jalan tikus (arah belakang) kantor PDI yang dipermasalahkan itu. Tidak jelas, apakah yang disereti itu, dalam keadaan hidup atau mati.
Saya sendiri suka heran sampai sekarang karena pada hari bersejarah itu, saya samasekali tidak terpikir untuk merasa takut atau bahkan menangis misalnya. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu, bertahan, bertahan dan bertahan karena sedang dalam tugas. Sesekali pager berbunyi, beberapa rekan yang terus mendengarkan siaran langsung itu mengirimkan pesan singkat, “Keep on reporting, Mega. We love you !”.
Itu sebabnya, atmosfir kekerasan yang saya alami secara langsung ketika itu membuat saya menjadi terbentuk sebagai jurnalis yang wajib bertahan dan tegar dalam semua bentuk kekerasan yang sebrutal apapun.
Belakangan saya baru tahu bahwa berdasarkan survei dari sebuah lembaga riset media broadcasting, laporan langsung saya mengenai kerusuhan 27 Juli itu didengar oleh lebih dari 1 juta orang. Wow, banyak sekali !
Dan ternyata, yang ikut mendengarkan itu adalah Mas TK (Taufiq Kiemas), Ibu Megawati dan beberapa pendukungnya, terutama Almarhum Sophan Sophiaan..
Mas Sophan Sophiaan, memang sudah berkawan dengan saya ketika itu. Beliau narasumber potensial yang sering saya wawancarai. Selain bertugas sebagai penyiar radio yang mendapat jadwal siaran reguler tetap di studio, saya juga meliput di lapangan dan diberi kesempatan untuk membawakan 2 program talkshow.
Mas Sophan Sophiaan yang mengenalkan saya secara langsung kepada Ibu Megawati, yang ketika itu diamankan oleh pendukungnya di sebuah rumah. Waktu itu, memang belum begitu akrab Ibu Megawati. Beliau khan agak pendiam orangnya. Sehingga, saya menjadi lebih sering berkomunikasi dan dekat dengan Mas TK.
Mas TK dan Ibu Megawati mengenal Mega Simarmata sebagai penyiar dan reporter radio, ya sejak kerusuhan 27 Juli dulu.
Dan itulah yang membuat kami saling berkenalan dan menjadi dekat sebagai sahabat baik sampai saat ini. Tak harus saling bertemu secara fisik, tetapi kedekatan itu sangat jelas dirasakan dan ketahuan wujudnya di dalam hati.
Ibu Mega, adalah pribadi yang tertutup dan pendiam.
Tapi beliau bisa becanda dan punya rasa humor yang tinggi juga. Namun biasanya, beliau akan bebas mengeluarkan canda dan gelak tawa hanya dengan kalangan terdekat.
(Ki-Ka : Alm Brigjen Koesmayadi & Jenderal Ryamizard Ryacudu)
Juni 2006, Wakil Asisten Logistik KSAD (Waaslog KSAD) Brigjen. Koesmayadi meninggal dunia karena serangan jantung. Brigjen Koes, adalah sahabat sejati yang sangat amat dekat saya.
Saya, Koes dan Jenderal Ryamizard Ryacudu sudah seperti saudara kandung.
Kematiannya (25 Juni 2006) sangat mengguncang hati saya sebagai sahabat.
(CONTINUE) READ MORE ?
PLEASE VISIT OUR WEBSITE :
DIMUAT DI WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM DAN WWW.THEBLOGKATAKAMI.WORDPRESS.COM
Jakarta 21 APRIL 2009 (KATAKAMI) Selamat pagi, Indonesia. Selamat pagi, Dunia. Redaksi KATAKAMI menyampaikan harapan agar anda semua dapat menjalankan semua aktivitas anda dengan sebaik-baiknya dimanapun anda berada.
Sederhana saja yang ingin kami sampaikan bahwa ternyata di dalam kehidupan ini, sangat tipis bedanya antara perilaku hewan buas dengan segelintir manusia yang patut dapat diduga panik tak menentu jika aib atau boroknya yang busuk terbaca dan ketahuan oleh orang lain melalui Situs KATAKAMI.COM.
Apalagi setelah mengetahui bahwa KATAKAMI dibaca di lebih 19 negara di seluruh dunia.
Sehingga, kami tak heran jika di Selasa (21/4/2009) subuh saat kami hendak memperbaharui seluruh pemberitaan di BREAKING NEWS, jaringan koneksi internet kami “kembali” mendapat terjangan yang patut dapat diduga dilakukan oleh Kelompok Polisi dibawah kendali oknum KOMISARIS JENDERAL GM dan patut dapat diduga dilakukan juga oleh barisan agen intelijen BADAN INTELIJEN NEGARA (BIN).
Kami heran jika patut dapat diduga ada agresivitas yang sekotor ini untuk memberi pelajaran pada KATAKAMI sebab berbagai tulisan yang menyoroti kekurangan disana sini dalam penyelenggaraan PEMILU LEGISLATIF 2009 memang patut dapat diduga membuat PENGUASA yang raja diraja arogansi kekuasaan itu kebakaran jenggot.
Tapi, betapa memalukan jika perilaku seperti ini tetap dipelihara sebab semakin terbaca dan diketahui oleh dunia internasional bahwa patut dapat diduga di INDONESIA ini demokrasi dan reformasi itu berjalan basa-basi.
Dan betapa lebih memalukan lagi, agar tidak ketahuan menindas JURNALIS yang cerdas dan berani, maka patut dapat diduga dilakukan cara-cara yang SOK CERDAS DAN SOK BERANI dari kalangan penjilat yang otak didalam kepala mereka terbungkus oleh kesuraman moralitas.
Bayangkan, patut dapat diduga untuk bisa mencegah agar kami tidak memuat foto-foto Presiden Barack Obama maka seluruh dokumentasi foto dan sistem di komputerisasi kami yang bisa mengakses dan memuat berbagai foto apapun dalam pemberitaan kami dirusak sejak beberapa hari ini.
Maksudnya ya … patut dapat diduga karena sirik saja. Sirik tanda tak mampu, demikiran kalimat bijak yang dikenal di Indonesia ini. Terutama, patut dapat diduga agar kelakuan kotor oknum KOMJEN GM dan kelompoknya yang selama ini merasa paling hebat menangani terorisme ternyata menyimpan berbagai tabir gelap yang memalukan terkait berbagai pelanggaran atau penyimpangan. Sementara, kalau agen-agen intelijen BIN, patut dapat diduga karena malu jika ketahuan oleh rakyat Indonesia dan dunia internasional bahwa mereka tak juga “kapok” untuk berlaku GANAS kepada sesama anak bangsa.
Dan terutama, patut dapat diduga karena ada PENGUASA yang kebakaran jenggot kalau hawa nafsu berkuasanya yang menggegelak sehingga mendorongnya untuk melakukan segala cara yang dihalalkan dalam agenda politik praktis.
Komentar kami singkat saja, KECIAN DEH LO !
Sambil terus merusak KATAKAMI, kami menyarankan mereka mengambil cermin dan mematut dirilah sejenak. Alias, ngaca deh lo. Apakah patut dapat diduga, dari balik cermin itu kelihatan bayangan atau siluet SINGA yang mengaum dengan taring yang tumpul. Sehingga, kalau ibaratnya ada singa yang mengaum tetapi dengan taring yang tumpul, maka yang terjadi adalah mengundang kegelian dan ejekan dari semua pihak.
Sebab, kemampuan anda-anda cuma segitu doang.
Malu dong sama semua orang, kalau kata NAGABONAR … “APA KATA, DUNIA ?”.
Ngaca deh, ngaca dulu ! Sudah beneran jago dan hebat atau belum ? Lalu, sekedar mengingatkan saja, SAPA TAKUT SAMA ELO ?!
Salam hormat kami,
MEGA SIMARMATA
Pemimpin Redaksi KATAKAMI
DIMUAT DI BLOG KATAKAMI :
WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM DAN WWW.THEBLOGKATAKAMI.WORDPRESS.COM
Jakarta 20 APRIL 2009 (KATAKAMI) Begitu mendengar bahwa sekitar 45 juta rakyat Indonesia tidak bisa memberikan hak suaranya pada perhelatan Pemilu Legislatif 2009 yang lalu, kami sudah tak begitu semangat untuk larut dalam pesta demokrasi.
Kalaupun masih tersisa semangat dan suara yang tetap lantang, semua itu adalah untuk ikut memberikan dorongan dan dukungan kepada Pihak Partai Politik manapun juga yang menawarkan misi baik kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia yaitu PERUBAHAN atau CHANGE.
Dan satu hal, jika patut dapat diduga ada pihak tertentu yang HARE GENE congor alias mulutnya sibuk saja bicara soal KEKUASAAN maka harus diingatkan bahwa republik ini sedang berduka karena tren NYUDO NYUOWO memang terjadi dimana-mana dalam wilayah NKRI.
Masak tega koar-koar soal KEKUASAAN, sementara di Timika saja jenazah dari seluruh korban (tewas) MIMIKA AIR baru dapat ditemukan pada hari Minggu (19/4/2009) ini.
Lalu di beberapa tempat ada musibah yang juga menelan korban, walau tak semua korban itu terenggut nyawanya. Tetapi ada penderitaan dan pengorbanan jiwa, raga, harta dan benda. Ada musibah longsor, lalu ada rombongan yang masuk ke jurang dan guncangan gempa bumi untuk menggoyang Sulawesi Utara.
Jadi, jangankan rakyat Indonesia, alam saja seakan sudah muak mendengar HAWA NAFSU BERKUASA yang patut dapat diduga didengungkan dimana-mana oleh pihak tertentu dengan sangat menggelegar.
Masya Allah !
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak Amien Rais yang sedari dulu sangat kritis dan benar-benar mumpuni, tiba-tiba entah atas legitimasi darimana maka bisa mengumpukan kalangan DPW Partai Amanat Nasional (PAN) untuk berkumpul guna menyuarakan dukungan penuh kepada pihak tertentu.
Waktu memang terasa cepat berlalu. Seingat kami, Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) adalah Soetrisno Bachir.
Lantas, atas legitimasi apa seorang Amien Rais bisa membuat hak veto secara tidak veto ?
Jika patut dapat diduga, arah koalisi PAN dan Partai Gerindra yang ditentang oleh Amien Rais misalnya, maka bukankah itu lebih baik dibicarakan secara internal dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi.
Kalau belum apa-apa, sudah diumumkan hak veto untuk mengarahkan PAN memberikan dukungan dan berkoalisi dengan pihak tertentu maka patut dapat diduga Amien Rais sudah melakukan sesuatu yang melebihi kewenangannya sebagai sesepuh partai.
Aneh saja kedengarannya jika dalam situasi dimana semua orang menghujat habis-habisan keluguan pihak berwenang dalam penyelenggaraan pesta demokrasi ini – dimana ada 45 juta rakyat Indonesia tidak bisa memilih – tiba-tiba kok ada petir menyambar dari cakrawala yang selama ini terlihat indah nuansa lukisannya.
Ketika barisan Partai Politik merapat ke kediamanan Megawati Sorkarnoputri untuk membicarakan perlunya mengajukan tuntutan hukum terkait berbagai kecurangan dalam Pemilu Legislatif 2009, kami sendiri belum menyadari bahwa patut dapat diduga salah satu cara untuk menggembosi PDI Perjuangan dan sejumlah partai politik lain yang sangat kuat dukungannya di daerah tertentu maka di daerah itulah basis dukungan massa tidak akan mendapat kartu pemilih.
Patut dapat diduga, ada kesengajaan untuk membiarkan massa PDI Perjuangan dan sejumlah partai politik seperti Partai Golkar, Partai Gerindra dan Partai Hanura, tidak bisa memberikan hak suaranya karena kisruh soal tidak tercantumnya nama mereka dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Patut dapat diduga, jika pada akhirnya KETAHUAN bahwa kisruh soal DPT ini dipermasalahkan maka pihak tertentu akan AMAN SENTOSA dari segala tudingan dan bisa bersandiwara untuk seolah-olah prihatin atas situasi ini.
Keterlaluan sekali cara-cara yang patut dapat diduga memang ditempuh untuk menggembosi suara PDI Perjuangan yang paling utama, agar perolehan suara partai politik yang dipimpin Megawati Soekarnoputri anjlok.
Yang benar saja, Jek !
Ada moralnya atau tidak, pihak-pihak yang patut dapat diduga sengaja merancang semua situasi ini agar 45 juta orang tidak bisa memilih.
Ini sudah melebihi batas kepatutan dan kewajaran karena patut dapat diduga kepanikan pihak tertentu jika dikalahkan oleh PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra dan Partai Hanura maka segala cara akan dihalalkan.
Dan sekarang, karena ternyata kisruh soal gunjang ganjing DPT ini dipermasalahkan, lihatlah manisnya kata-kata yang mengatakan, “Masalah DPT ini akan diperbaiki dalam penyelenggaraan Pemilu Pilpres 2009”.
Luar biasa !
Kalau kami yang ditanya maka kami akan menyampaikan opini bahwa membiarkan 45 juta rakyat Indonesia tidak memilih maka patut dapat diduga itu adalah PELANGGARAN HAM dan KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN.
Tak cuma KOMNAS HAM, dengan tingkat KEJAHATAN yang sudah sangat separah ini maka sebenarnya KOMISI HAM PBB atau MAHKAMAH INTERNASIONAL sudah bisa dimungkinkan untuk diundang guna mencermati indikasi yang sangat memprihatinkan ini.
Bukan main-main, angka yang tidak bisa memilih itu adalah 45 juta orang !
Busyet deh, kok tidak tahu malu ya jika masa persiapan yang selama ini diberikan untuk menyiapkan penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2009 bisa sangat fatal akibat dari kelalaian itu.
Ini patut dapat diduga memang kelalaian atau kesengajaan ?
Kalau patut dapat diduga semua atraksi politik ini adalah sebuah kesengajaan maka patut dapat diduga aktor intelektual dibalik semua kisruh yang mengorbankan HAK SUARA dari 45 juta rakyat Indonesia ini layak untuk diajukan ke Mahkamah Internasional karena melakukan KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN.
Ini bukan pelanggaran kecil !
Ini bukan kelalaian yang sepele !
Ini bukan kesalahan yang bisa dimaafkan begitu saja dan dibiarkan untuk berlalu tanpa beban.
Jika patut dapat diduga, ada pihak tertentu yang memang mau MENGGEMBOSI PDI Perjuangan, Partai Hanura dan Partai Gerindra maka sebaiknya disarankan untuk menyadari bahwa kita ini hidup di dunia hanya sementara. Harta benda, jabatan dan kekuasaan tidak akan dibawa sampai MATI. Sehingga, janganlah ada yang kalap kesetanan akibat silaunya sinar kekuasaan.
Jika patut dapat diduga, ada pihak tertentu yang memang mau MENGGEMBOSI PDI Perjuangan, Partai Hanura dan Partai Gerindra maka sebaiknya diberitahu bahwa cara-cara yang disetting seperti ini membuat rakyat muak luar biasa.
Tutup mulut bagi siapapun juga yang patut dapat diduga sudah membludak gejolak hawa nafsu untuk berkuasa dalam situasi yang serba prihatin.
Marilah kita hitung, berapa jumlah rakyat Indonesia yang sudah mati, selama 4 bulan terakhir ini.
(Korban tewas Tsunami di NAD, Des 2004)
Marilah kita hitung, berapa jumlah rakyat Indonesia yang sudah mati selama 5 tahun terakhir ini.
Lho, kok tidak ada rasa prihatin sedikitpun ?
Lho, kok enteng saja mendengar kabar yang sangat memilukan dari berbagai wilayah di Indonesia ?
Ingatlah lirik lagu dari Ebiet G. Ade :
“Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mudah enggan, bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang !”
Kecil sekali nyali dan kemampuan diri untuk bertarung dalam arti yang sesungguhnya kalau dalam menghadapi seorang Megawati Soekarnoputri saja patut dapat diduga dilakukan berbagai kecurangan yang sudah sangat melebihi batas kewajaran.
Masak tidak malu kepada Megawati.
Malu dong !
Lima tahun Megawati turun ke bawah dan merangkul rakyat dengan sifat keibuan. Ia mau mendengarkan keluhan rakyat “DI BAWAH”. Dan itu bukan cuma sekedar seremoni, panen raya, lalu padi diangkat dan tersenyum lebar saat difoto atau diambil gambarnya oleh kamera televisi agar masuk ke berbagai media massa.
Lalu, ketika Wiranto dan Prabowo juga turun “KE BAWAH” untuk merangkul massa di berbagai pelosok daerah, mereka tak bisa disalahkan kalau ternyata ada diantara rakyat Indonesia yang menginginkan Jenderal-Jenderal ini untuk memimpin.
Rasanya, sudah malas untuk mengikuti pergerakan politik praktis di Indonesia pada saat ini.
Harapan rakyat sekarang tertuju pada TNI - POLRI saja.
Yaitu agar situasi keamanan di seluruh wilayah nusantara ini tetap terjaga dengan baik.
Jangan ada PERWIRA TINGGI TNI – POLRI yang patut dapat diduga menjual dirinya kepada pihak tertentu demi jabatan yang lebih tinggi, sehingga pada prakteknya sebagai barter atas janji jabatan tadi maka patut dapat diduga diberi tugas “MISSION IMPOSSIBLE” untuk menyikut parpol lain agar kemenangan jatuh ke tangan pihak tertentu saja.
Saat Pak Harto berada di ujung kekuasaannya (1998), patut dapat diduga Jenderal Besar ini menggunakan politik pecah belah atau devide et ampera di dalam internal TNI misalnya.
Saat itu, Jenderal Wiranto menjabat sebagai Menhankam / Panglima ABRI. Dan Jenderal Soebagyo HS menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Tahukah apa yang terjadi pada saat itu ?
Patut dapat diduga, Pak Harto memang mengetahui bahwa Jenderal Wiranto adalah figur yang setia dan dapat diandalkan. Tetapi di belakang Wiranto, ternyata ditawarkan kepada Jenderal Soebagyo untuk menjadi KEPALA STAF GABUNGAN, sehingga jika pos jabatan ini yang dihidupkan maka jabatan Panglima TNI dan ketiga Kepala Staf Angkatan (KSAD, KSAU dan KSAL) harus ditiadakan karena semua akan melebur dalam satu posisi yaitu KEPALA STAF GABUNGAN.
Ketika itu, Jenderal Soebagyo HS menolak tawaran tersebut untuk menjaga soliditas didalam tubuh TNI yang sangat dicintainya.
Pendirian dari Jenderal Soebagyo HS ini, patut diacungi jempol dan sungguh tercatat dengan tinta emas. Ia tak mudah dirayu oleh silaunya jabatan. Dan ia tak mudah diseret ke tengah arus zaman yang akan membuatnya tenggelam dalam gelombang kemarahan para perwira tinggi yang bisa dikorbankan jika Jenderal Soebagyo HS tergiur oleh jabatan.
Ketika Pak Harto sudah lengser, kejadian yang serupa tapi tak sama pernah terjadi beberapa tahun kemudian.
Letjen TNI Johny Lumintang sempat ditawari untuk menjadi semacam KEPALA STAF GABUNGAN TNI juga. Tetapi, hal itu cepat diantisipasi oleh jajaran TNI agar jangan ada perpecahan diantara mereka.
Hikmah yang bisa diambil dari beberapa peristiwa semacam itu adalah penguasa yang merasa kuatir bila kekuasaannya berakhir (padahal ia masih sangat ngotot untuk terus berkuasa), maka patut dapat diduga ia akan mencoba untuk menawarkan jabatan-jabatan yang tinggi dan prestisius kepada PERWIRA TINGGI tertentu yang mudah dijadikan PION KEKUASAAN untuk mempertahankan tahta raja diraja yaitu tahta di puncak kekuasaan.
Bayangkan, peristiwa yang terjadi pada Jenderal Soebagyo HS tadi !
Jika Jenderal Soebagyo HS bersedia menerima tawaran dari Pak Harto maka patut dapat diduga ada sedikitnya 3 sampai 4 orang JENDERAL BERBINTANG 4 yang harus dilengserkan secara paksa untuk menjadi pengangguran.
Padahal waktu itu, Jenderal Wiranto bekerja dengan sangat baik. Tetapi ternyata diam-diam, ada tawaran sedemikian rupa kepada Jenderal Soebagyo HS. Keteguhan Jenderal Soebagyo HS menjaga jatidirinya sebagai prajurit TNI sejati yang saptamargais, akan selalu dikenang secara manis. Dan kini, Jenderal Soebagyo HS malah bergabung dengan Jenderal Wiranto untuk mendirikan dan membesarkan PARTAI HANURA.
Yang ingin disampaikan disini kepada Jajaran TNI – POLRI, jangan pernah mau untuk mudah tergiur oleh JANJI-JANJI MULUK untuk memberikan posisi lebih tinggi dan lebih prestisius.
Sebagai, dalam situasi perpolitikan yang sangat memanas misalnya, patut dapat diduga dibalik pemberian janji-janji muluk tadi maka patut dapat diduga akan ada pemaksaan kehendak dan arogansi kekuasaan agar pihak tertentu dimenangkan (apapun caranya !).
TNI – POLRI harus mengingat secara baik bahwa jatidiri mereka ada bersama-sama dengan rakyat.
Apa yang terbaik bagi rakyat, maka perlu diingatkan sekali lagi bahwa itulah yang terbaik bagi TNI – POLRI.
Jangan mau dan jangan pernah terpikir untuk silau pada kekuasaan.
Amankan Indonesia dengan sebaik-baiknya. Pastikan bahwa ancaman gangguan keamanan di berbagai daerah, tidak akan pernah bisa terjadi seturut kehendak pihak tertentu yang patut dapat diduga mau membuat situasi menjadi kacau balau atau CHAOS.
Bela dan lindungi rakyat Indonesia !
Bela dan pastikan TNI – POLRI akan berada di tengah rakyat yang mendambakan pesta demokrasi yang sungguh jujur, adil dan penuh tanggung-jawab sejati.
Percayalah, tak akan ada manusia manapun yang bisa memaksakan kehendaknya untuk terus menjadi penguasa jagad raya jika ternyata Tuhan berkehendak lain.
Untuk menutup tulisan ini, kami ingin mengingatkan juga kepada LAKSAMANA PURNAWIRAWAN WIDODO ADI SUCIPTO yang saat ini menjadi Menkopolhukkam dan patut dapat diduga tetap menjadi TIM SUKSES SBY.
Ingatlah Pak Wid, apa yang pernah terjadi pada bulan Juli 2001.
Saat itu, Laksamana Widodo AS menjabat sebagai PANGLIMA TNI. Pada suatu malam, ia dipanggil menghadap ke pusat kekuasaan bersama MENKOPOLKAM Agum Gumelar.
Kedua Jenderal ini dipanggil untuk memberikan dukungan kepada pihak penguasa yang akan mengeluarkan DEKRIT PRESIDEN, antara lain akan membubarkan parlemen (DPR-RI).
Kami sebenarnya mengetahui detail isi pembicaraan saat kedua Jenderal ini berbicara kepada pihak penguasa saat itu. Tapi, sungguh kami mohon maaf karena tidak etis jika kami uraikan disini.
Intinya, MENKOPOLKAM & PANGLIMA TNI secara tegas dan lugas menyampaikan secara langsung bahwa mereka ada di pihak rakyat dan bukan di pihak penguasa, sehingga … apa boleh buat, harus berpisah di tengah jalan !
Muara dari semua keberanian untuk berpihak pada rakyat dan mengedepankan kepentingan bangsa diatas segala-galanya, tidak akan pernah sia-sia.
Terbukti bahwa tidak lama setelah Agum Gumelar dan Widodo AS menghadap pihak penguasa saat itu, pemerintahan memang akhirnya berganti.
Akan selalu ada kebanggaan dalam diri PRAJURIT TNI (termasuk juga POLRI), jika mereka berani mengambil sikap yang tegas dan jelas arahnya yaitu tidak akan membiarkan rakyat Indonesia dikorbankan oleh kekuasaan dan hawa nafsu untuk terus berkuasa (tetapi patut patut dapat diduga menghalalkan segala cara).
TNI – POLRI, jangan pernah meninggalkan rakyat Indonesia. Yakinlah bahwa apapun yang akan terjadi di negara ini, TNI – POLRI adalah satu-satunya tiang atau pilar yang kokoh bagi rakyat Indonesia yang membutuhkan pelindung dan pendamping.
Tingkatkan kewaspadaan dan semangat bertugas yang semurni-murninya memang untuk kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia. Terutama POLRI, tetaplah menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.
Jangan, walau hanya sedikit atau sekalipun juga, jangan … sekali lagi jangan tinggalkan rakyat Indonesia.
Apa yang terbaik bagi rakyat maka itulah yang terbaik bagi TNI – POLRI. Pasanglah mata dan telinga, cermati situasi yang terjadi saat ini dan segala kemungkinan terburuk yang patut dapat diduga bisa terjadi dalam kurun waktu 3 bulan ini yaitu sampai menjelang pelaksanaan Pemilu Pilpres 2009.
Tegakah, TNI – POLRI jika ada 45 juta rakyat Indonesia yang dikebiri atau diamputasi HAK SUARANYA dengan cara yang patut dapat diduga sangat canggih keluguannya seperti ini ?
Tegakah, TNI – POLRI jika patut dapat diduga ada pihak tertentu yang harusnya memperoleh suara JAUH LEBIH BESAR dari yang diperolehnya saat ini karena patut dapat diduga perolehan suara mereka dirampok oleh kucing-kucing garong ?
Jangan, TNI – POLRI jangan pernah tega membiarkan kami, rakyat Indonesia menahan pedih dan airmata saat kebenaran dan keadilan sudah terlepas dari genggaman tangan anak-anak bangsa yang rindu akan perubahan.
Jangan, TNI – POLRI jangan memalingkan wajahnya dari tatapan mata kami, rakyat Indonesia yang begitu memerlukan tempat perlindungan yang memang sangat dapat dipercaya oleh anak-anak bangsa INDONESIA yang sudah lelah melihat, mendengar dan merasakan begitu banyak kesakitan-kesakitan dalam perjalanan kehidupan kita berbangsa dan bernegara.
Sebab, pesta demokrasi ini patut dapat diduga sudah bukan merupakan sebuah pesta demokrasi lagi dimata mayoritas rakyat Indonesia.
Tetapi patut dapat diduga, sudah menjadi PESTA AROGANSI.
Empatpuluh lima juta rakyat Indonesia terpekur pada saat ini karena sulit sekali untuk dipercaya bahwa 11 tahun reformasi, patut dapat diduga AROGANSI KEKUASAAN itu masih merajalela.
DIMUAT DI WWW.KATAKAMI.COM & WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM
Jakarta 18 April 2009 (KATAKAMI) Kadang-kadang, ada manusia yang sulit untuk membaca tanda-tanda perubahan zaman yang arahnya sudah begitu positif dan sangat pantas dihargai.
Radio BBC London memberitakan tentang diumbarnya rasa kecewa kelompok HAM tertentu kepada Presiden AS Barack Obama yang dinilai enggan mengadili agen-agen rahasia Dinas Intelijen AS (CIA) karena menggunakan teknik integorasi yang kejam sepanjang era kepemimpinan Presiden BUSH.
Kita simak dulu berita selengkapnya dari Radio BBC London :
16 April, 2009 - Published 20:58 GMT
Obama membuat kecewa
Kelompok hak asasi manusia di Amerika Serikat menyatakan kecewa bahwa agen CIA tidak akan diadili dalam soal teknik interogasi di masa Bush.
Para pegiat menyambut baik keputusan Gedung Putih menerbitkan rincian teknik interogasi yang sekarang sudah dilarang oleh Presiden Barack Obama.
Namun kelompok hak asasi mengatakan keputusan untuk tidak mengadili para agen itu merupakan kegagalan menegakkan hukum di negara tersebut.
Yang lainnya membela dengan mengatakan integorasi itu telah membuat Amerika Serikat lebih aman.
Mantan ketua CIA, Michael Hayden, yang menjalankan badan tersebut di bawah kepemimpinan Bush mengatakan langkah Gedung Putih ini akan mengganggu tugas-tugas intelejen, dan membuat badan asing enggan berbagi informasi dengan CIA.
Penerbitan laporan
Sebelumnya, Amerika Serikat menerbitkan empat memo rahasia yang merinci alasan hukum untuk cara interogasi CIA yang dilakukan pada masa Bush.
Para pengkritik program interogasi itu mengatakan cara yang digunakan itu sama dengan penyiksaan.
Presiden Barack Obama juga menerbitkan satu pernyataan yang menjamin bahwa tidak ada staf CIA yang akan dihukum karena perbuatan mereka dalam program interogasi itu.
Sebagian orang di CIA menghendaki agar sejumlah bagian memo itu tidak dipublikasikan, khawatir kalau-kalau penerbitan secara penuh akan memicu gugatan hukum terhadap para agen rahasia, kata laporan itu.
Penerbitan memo-memo itu berasal dari permintaan kelompok pembela hak sipil American Civil Liberties Union (ACLU).
Teknik kejam
Tiga di antara dokumen tersebut dtulis pada bulan Mei 2005 oleh orang yang waktu itu menjabat kepala Kantor Penasihat Hukum Departemen Kehakiman, Stephen G. Bradbury.
Mereka memberikan dukungan legal untuk penggunaan kombinasi berbagai teknik pemaksaan, dan menyimpulkan bahwa cara yang dipakai CIA tidak “kejam, tak manusiawi, atau melecehkan” berdasarkan hukum internasional.
Obama, adalah pemimpin yang konsisten pada janjinya. Ini yang harusnya sangat cepat disadari, dikenali, dirasakan dan diakui oleh rakyat AS sendiri. Walaupun bergabung dalam sebuah wadah kelompok pembela hak sipil sekalipun, American Civil Liberties Union (ACLU) harus adil dan cerdas dalam “membaca” bagaimana karakter kepemimpinan yang membanggakan dari Obama.
Memang betul bahwa berbagai tindak penyiksaan yang terjadi sepanjang masa pemerintahan Presiden Bush terkait penanganan terorisme, sangat amat memalukan bagi AS.
Itulah sebabnya, Obama menjanjikan bahwa jika ia terpilih sebagai Presiden AS maka yang pertama akan dilakukannya adalah menutup kamp tahanan Guantanamo di Kuba.
Dan apa yang terjadi ?
Persis di hari pertama Obama bekerja secara resmi di Gedung Putih sebagai Presiden AS yang ke-44, memo pertama yang ditanda-tanganinya adalah keputusan untuk menutup Penjara Guantanamo dengan kebijakan bahwa penutupan itu secara resmi akan dilakukan paling lambat satu tahun setelah keputusan itu ditanda-tangani. Artinya, Penjara Guantanamo akan ditutup pada bulan Januari 2010.
Kami menuliskan hal ini secara khusus lewat tulisan berjudul “Misteri Angka Satu Presiden Obama Yang Antiklimaks”.
Mengapa kami sebut antiklimaks ?
Ya sebab masa satu tahun itu termasuk sangat lama untuk dinantikan oleh para tahanan yang ada di Penjara Guantanamo, jika patut dapat diduga penjara itu hanyalah kedok untuk melakukan berbagai tindakan penyiksaan kepada warga negara asing yang ditangkapi seenaknya saja dan ditahan disana hanya untuk disiksa. Tidak ada proses hukum yang diberikan dan tidak ada juga akses apapun yang diberikan kepada negara yang menjadi tanah kelahiran atau tempat asal para tahanan disana.
Sehingga, keputusan untuk menutup setahun ke depan rasanya terlalu lama. Mengapa bukan menutupnya sebulan setelah Presiden Obama menanda-tangani keputusan itu ?
Bayangkan kalau dalam sehari saja, semua tahanan disana tetap mendapatkan penyiksaan fisik. Maka, mereka harus sangat tabah dan kuat sekuat-kuatnya untuk tetap disiksa selama 364 hari berturut-turut. Alangkah lamanya penderitaan itu.
Iya kalau misalnya mereka memang bersalah. Tapi bagaimana kalau mereka samasekali tidak bersalah ? Hak apa yang mau dikedepankan untuk menjadi pembenaran bahwa agen-agen rahasia CIA dan seluruh petugas disana bisa menyiksa warga negara orang lain “seenak udel-nya sendiri” ?
Tetapi, fokus utama yang harus dicermati disini adalah Presiden Obama menepati janjinya untuk menutup penjara itu.
Entah itu sebulan atau setahun kemudian, tetapi state policy atau kebijakan negara (AS) sudah dikeluarkan dan tak bisa ditarik lagi.
Presiden Obama tak berhenti sampai disitu. Ia membuka kepada publik tentang adanya memo-memo rahasia yang membenarkan dan menjadi landasan bagi agen-agen rahasia CIA melakukan teknik integorasi dengan cara penyiksaan fisik yang begitu kejam.
Secara politik, patut dapat diduga kebijakan pemerintahan Presiden Obama membuka rahasia era Bush kepada publik terkait kekejaman teknik interogasi itu bisa dipandang sebagai sebuah sign atau tanda kepada Bush dan jajarannya bahwa mereka punya banya kelemahan dan kekurangan yang bersifat fatal sekali.
Secara politik, patut dapat diduga Presiden Obama bermaksud untuk meminta perhatian dari seluruh perangkat yang bertugas dibawah pemerintahan Bush agar jangan coba-coba untuk membuat lebih banyak permasalahan yang merepotkan AS (terutama pemerintahan Obama sendiri).
Lalu, kalau sekarang Presiden Obama yang dinilai mengecewakan karena “state policy” yang dikeluarkan tidak mencakup proses hukum terhadap seluruh agen rahasia CIA yang melakukan penyiksaan itu, hal ini justru menjadi tanda tanya besar.
Lho, mengapa Obama yang dipersalahkan ?
Dengan menilai bahwa Obama mengecewakan karena tidak memerintahkan agar para agen rahasia CIA diadili, maka penilaian ini yang justru keliru dan perlu diluruskan.
Obama tidak mengecewakan siapapun, entah itu rakyat AS atau publik dunia.
Pasti ada sesuatu yang sifatnya sangat mendasar sehingga ditempuh kebijakan yang formatnya memberikan nuansa yang sangat “win-win solution”.
Proses peradilan yang dituntutkan kepada para agen rahasia CIA itu, tak mungkin hanya dilakukan kepada para agen rahasia tersebut. Tetapi harus terus bergulir sampai ke tingkat atas.
Bahkan, sampai kepada orang per orang yang menuliskan memo-memo rahasia berisi landasan atau menjadi pegangan bagi “aparat dibawah” untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasan.
Bukan tak mungkin, proses peradilan itu bisa menembus ke Pejabat Gedung Putih semasa pemerintahan Presiden Bush.
Hingga puncaknya, justru patut dapat diduga bisa menjadi bumerang yang menempatkan Mantan Presiden Bush sebagai tersangka (juga).
Yang menjadi akar permasalahan terkait penyiksaan-penyiksaan kepada para tahanan di Penjara Guantanamo itu, sekarang sudah diredam, dikendalikan, ditekan dan dihilangkan oleh Presiden Obama.
Pelan-pelan, penjara Guantanamo akan ditutup.
Pelan-pelan, sambil menunggu proses penutupan itu maka seluruh landasan atau pegangan tertulis yang menjadi alat pembenaran terjadinya penyiksaan-penyiksaan kepada para tahanan sudah dicabut oleh Presiden Obama.
Para tahanan yang memang bisa dikembalikan ke negara asalnya masing-masing, sudah mulai dkembalikan. Lalu sisanya, dialihkan ke beberapa negara yang memang bersedia menampung para tahanan Guantanamo.
Kadang-kadang, tudingan yang asbun atau asal bunyi saja tetapi mengatas-namakan Hak Azasi Manusia (HAM), justru mengundang rasa prihatin dari publik dunia.
Apakah terlalu sulit untuk kelompok HAM tersebut untuk memberikan waktu dan kesempatan kepada Presiden mereka sendiri untuk membenahi betapa morat-maritnya penanganan terorisme sepanjang masa pemerintahan Presiden Bush ?
Jangan karena membawa isu HAM, maka dianggap sah-sah saja menuding Presiden Obama begini dan begitu dalam konotasi negatif.
Apa yang telah dilakukan oleh Presiden Obama selama 3 bulan pertama masa kekuasaannya ini terkait penanganan terorisme, sudah sangat baik sekali dan patut dihargai oleh siapapun.
Obama memberikan atmosfir yang kondusif dalam hal penanganan terorisme. Ia tak mau lagi secara bombastis mengumbang motto PERANG MELAWAN TEROR.
Obama tak mau lagi, atas nama PERANG MELAWAN TEROR maka AS memamerkan arogansi kekuasaan dan terus bertindak sewenang-wenang. Dan tindakan sewenang-wenang itu, patut dapat diduga ditiru juga oleh segelintir orang yang selama ini dilatih dan diberi kemudahan dalam segala peningkatan kemampuan diri masing-masing dalam hal penanganan terorisme di di negara-negara tertentu.
Ya bayangkan saja, sepanjang Bush berkuasa (pasca serangan teroris 11 September 2001 di AS), begitu atraktif dan agresif sekali terjadi peledakan-peledakan bom di beberapa negara.
Termasuk di Indonesia.
Waduh, seperti langganan saja. Periode 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2005 Indonesia terus mendapatkan serangan peledakan bom dalam kategori HIGH EXPLOSIVE.
Katanya sudah pada dilatih oleh AS dalam menangani terorisme, yang terjadi masalah semakin merajalelanya tindak pidana terorisme itu di Indonesia.
Yang mau dikatakan disini adalah Presiden Obama bukan cuma sekedar wacana dalam kaitan pemulihan metode penanganan teror yang sempat menjadi sangat menyimpang pada era pemerintahan Presiden Bush.
Ada “action” atau tindakan nyata dari Presiden Obama yang benar-benar sangat mengagumkan. Dia lakukan sesuatu sesuai dengan otoritas dan kewenangan yang dapat digunakannya sebagai seorang Kepala Negara.
Bagaimana mungkin, agen-agen rahasia CIA itu dapat diseret ke muka hukum jika ternyata pada kenyataannya ada surat tertulis yang keluar dari GEDUNG PUTIH berisi perintah resmi untuk menginterogasi para tahanan terorisme lewat metode yang kejam tadi ?
Para agen rahasia CIA itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah atasan. Ya, mereka tidak melakukan yang disebut sebagai in sub ordiansi.
Kalau para agen rahasia CIA itu dituntut dan diseret misalnya ke muka hukum, maka patut dapat diduga para agen rahasia ini bisa berbalik menuntut jika ternyata tugas-tugas yang sudah mereka laksanakan dianggap sebagai perbuatan melawan hukum.
Lain halnya, kalau misalnya ada petugas yang berinisatif menyiksa sendiri para tahanan itu. Tetapi yang terjadi disini adalah kebalikannya. Ada perintah resmi dari Gedung Putih, lewat memo-memo rahasia yang dibongkar dan dibuka oleh Pemerintahan Presiden Obama.
Jadi, salah besar kalau dikatakan bahwa Presiden Obama sangat mengecewakan kelompok pembela hal sipil (ACLU) tadi.
Kami tidak sependapat.
Presiden Obama sudah melakukan hal yang benar dan terpuji. Ia justru harus didukung untuk terus melakukan PERBUAHAN atau CHANGE sehingga AS dapat menjadi negara adidaya yang sangat mengagumkan.
Jadi, janganlah ada yang asbun menuding bahwa seolah-olah Obama mengecewakan dan tidak memahami duduk persoalan.
Pahami dong duduk persoalannya. Sadari apa yang menjadi esensi dari kebijakan-kebijakan AS.
Presiden Obama , kini seakan menjadi sebuah alunan melodi yang terdengar indah di telinga siapa saja di belahan dunia ini, saat dengan kesungguhannya Obama membenahi apapun juga yang selama ini memang kurang baik atau tidak pantas untuk menjadi bagian dari sistem pemerintahan sebuah bangsa yang terhormat bernama AMERIKA SERIKAT.
Meredam dan memerangi terorisme, bukan dengan cara mengobarkan secara lebih parah mata api perlawanan dari pelaku-pelaku terorisme itu sendiri atau orang-orang tertentu yang berkedok sebagai “teroris” padahal justru berniat untuk “cari makan” atau menggali harta karun yang bisa dikeruh dari rusaknya nilai-nilai peradaban manusia akibat dihajar oleh kekejaman terorisme.
Tak benar jika disebut Obama mengecewakan.
Yang benar adalah Presiden Obama sudah melakukan sesuatu yang benar seturut dengan kebijakan negara yang kini dipimpinnya, agar kebijakan itu tidak menimbulkan guncangan stabilitas (terutama didalam negara mereka sendiri).
Ke depan diharapkan, Presiden Obama sungguh serius untuk mengendalikan sebuah perangkat didalam sistem pemerintahannya agar jangan lagi ada keputusan, kebijakan atau tindakan yang menyalahi ketentuan hukum atau aturan yang berlaku dalam hal penanganan terorisme.
Juga diharapkan, agar Presiden Obama sungguh serius untuk menggunting secara cepat kesengajaan pihak tertentu di berbagai negara asing yang sengaja mengeruk keuntungan dari kocek anggaran AS selama bertahun-tahun terakhir ini atas nama penanganan terorisme.
Singkirkan dan hindari semua benalu-benalu yang cara hidupnya sudah menggerogoti AS dan negara yang menjadi basis gerakan oknum aparat di INDONESIA misalnya, yang patut dapat diduga menjadikan isu terorisme sebagai komoditi dagangan dan ladang emas yang mendapatkan seribu satu macam keuntungan.
Dukung Obama dalam membenahi semua penyimpangan dan ketimpangan terkait penanganan terorisme.
Dengan semua respek yang kita punya maka ketegasan dan keberanian Presiden Obama untuk melakukan pembenahan yang bersifat menyeluruh itu sangat pantas untuk dihargai dan didukung sepanjang masa pemerintahan Obama.
You are the best, Mr President !
Editor In Chief Of WWW.KATAKAMI.COM
JAKARTA 17 APRIL 2009 (KATAKAMI) Persis tanggal 20 April mendatang, Presiden Barack Obama memasuki bulan ke-3 memerintah di Amerika Serikat. Pemimpin muda yang tak cuma membuat rakyat AS saja yang terkesima atas kecerdasannya.
Tahun 2007 silam, saat dimana INDONESIA belum begitu “welcome” terhadap figur Obama yang sudah mengumumkan bahwa dirinya akan melangkah maju pada Pilpres AS 2008, Pemimpin Redaksi KATAKAMI telah meyakini bahwa Obama akan memenangkan pertarungan itu.
Sehingga, sejumlah petinggi di negara ini (yang tak usah kami sebutkan namanya), mendapat pemberian sederhana dari Pemimpin Redaksi KATAKAMI yaitu buku biografi Barack Obama yang sudah mulai dijual di Toko Buku Gramedia. Kami memberikan buku itu sebagai alternatif bacaan tentang akan munculnya seorang pemimpin baru yang relatif berusia muda di blantika perpolitikan AS.
Barangkali saat memasuki tahun 2007, banyak orang yang belum yakin bahwa Obama punya kans yang besar untuk menang. Tapi kami mempunyai firasat yang baik bahwa pemimpin muda yang satu ini memang akan memenangkan pertarungan politik di AS. Ia bukan cuma seorang orator yang ulung. Tetapi dari setiap kalimat yang diucapkannya, ada daya tarik yang bagaikan magnet akan menarik perhatian dan kepercayaan dari siapa saja yang mendengarnya.
Bahkan, dalam hitungan waktu yang mundur ke belakang, saat Pemimpin Redaksi KATAKAMI masih bekerja sebagai wartawati di Radio Voice Of America (VOA) - untuk periode 2003-2008 - pada masa awal Obama memulai debutnya sebagai kandidat Capres di AS yaitu tahun 2006 kami sudah membuka situs dari Obama dan mendaftarkan alamat EMAIL kami untuk terus dikirimi kabar terbaru tentang Obama. Padahal, beberapa rekan senior kami di Radio Voice Of America (VOA) sendiri yaitu mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di AS, belum mengetahui bahwa Obama membuka situs pribadi dan rutin mengirimi kabar terbaru tentang debut politiknya.
Saat ini, Presiden Obama berada di Meksiko dan telah mengadakan pembicaraan Tete A Tete atau pembicaraan empat mata dengan Presiden Meksiko
Dari laporan Radio Voice Of America (VOA) disebutkan bahwa Presiden Obama dan Presiden Meksiko Felipe Calderon telah menyepakati kerjasama untuk melawan perdagangan narkoba, Kamis (16/4/2009).
Obama memuji usaha Meksiko untuk menumpas kartel narkoba dan mengatakan Amerika Serikat akan melakukan bagiannya untuk menanggulangi permintaan Amerika akan narkoba dan arus senjata dan uang tunai di perbatasan. Ia mengatakan demikian setelah bertemu dengan Presiden Calderon di Kota Meksiko.
Obama mengatakan ia menghendaki Kongres Amerika menyetujui perjanjian yang membatasi ekspor senjata Amerika ke negara-negara Amerika Latin dan terus mendanai program yang akan memberi kepada Meksiko helikopter militer untuk membantu perang narkoba.
Barangkali kami salah dan mohon maaf jika kami memang salah, rasanya pernyataan terbuka Presiden Obama di Meksiko tentang PERANG MELAWAN NARKOBA ini adalah pernyataan terbuka pertama sejak ayah dari 2 anak ini resmi menjabat sebagai PRESIDEN AS yang ke-44.
Tapi, entah itu memang pernyataan terbuka yang pertama atau yang ke berapapun juga, satu hal yang disayangkan dari Presiden Obama.
Apakah kerjasama dan konsistensi AS dalam memerangi NARKOBA itu hanya ditujukan kepada Meksiko ?
Tidakkah Obama mengetahui atau menyadari bahwa negara-negara lain di dunia ini, sungguh juga ingin agar AS dengan sangat sungguh-sungguh memberikan bantuan yang serius dan kuat sekali dalam memerangi NARKOBA ?
Termasuk Indonesia, cq MABES POLRI, tentu memerlukan dukungan yang lebih kuat dari AS dalam memerangi NARKOBA.
Dari Situs Resmi MABES POLRI (WWW.POLRI.GO.ID) diperoleh data resmi hasil kerja Jajaran Direktorat IV (Narcotics And Organized Crimes) Bareskrim POLRI pada pertengahan April 2009 ini bahwa kasus tindak pidana narkoba periode 2009 yang berhasil ditangani sampai bulan Februari 2009 adalah 803 kasus narkoba dengan penetapan status tersangka kepada 1068 orang, kasus psikotropika sebagai 973 dengan jumlah tersangka 1299 orang.
Tentu kinerja yang sebaik ini memang pantas dihargai.
Dan yang perlu ditekankan juga kepada MABES POLRI adalah kesungguhan dalam pemberantasan narkoba itu sendiri. Artinya, tidak dibiarkan jika patut dapat diduga ada oknum-oknum didalam internal MABES POLRI yang justru terlibat dalam perdagangan gelap narkoba di tingkat nasional dan internasional.
Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada oknum POLRI yang “main mata” dengan oknum KEJAKSAAN dalam melakukan kongkalikong untuk meraup uang panas dari kasus-kasus narkoba dengan seribu satu macam akal busuk yang dirancang dan disepakati bersama.
Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada permainan pada pasal-pasal yang bisa ditetapkan dalam kasus narkoba dan dari pemilihan pasal-pasal hukum itu dapat diraup keuntungan yang tak ternilai harganya.
Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga bergelimpangannya barang bukti narkoba menjadi sasaran empuk oknum polisi dan jaksa untuk menjualnya kembali ke “pasaran” atau mengkonsumsinya sendiri.
Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada bandar dan mafia narkoba kelas KAKAP (bahkan kelas IKAN HIU dan IKAN PAUS) yang diloloskan dari jerat hukum oleh oknum PERWIRA TINGGI POLRI.
Dalam hal ini contoh yang sangat nyata adalah kasus bandar dan mafia narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS, yang patut dapat diduga sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum yang memungkinkan diri si bandar keparat ini mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim.
Bayangkan, bandar dan mafia narkoba MONAS ini terakhir kali ditangkap JAJARAN POLRI pada bulan Agustus 2007 di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.
Dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diajukan oleh PENYIDIK POLRI kepada pihak KEJAKSAAN dan ketiga telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Salah seorang diantara yang mendapatkan VONIS MATI itu adalah CECE (isteri dari bandar dan mafia narkoba MONAS) yang saat ini ditahan di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur dan dari balik jeruji besi tetap mengendalikan perdagangan gelap narkoba.
Sedangkan yang 6 orang (salah seorang diantaranya adalah MONAS, sang bandar dan mafia pemilik1 JUTA PIL EKSKTASI itu) justru dibebaskan dari jerat hukum pada kasus narkoba Taman Anggrek. Lalu yang 5 orang lainnya itu adalah sekelas MONAS juga alias rekan sesama bandar dan mafia narkoba, dimana sampai detik ini MONAS dan kelima bandar keparat itu tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya pasca penangkapan di Apartemen Taman Anggrek (November 2007).
Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa ada fakta seperti ini di Indonesia.
Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa patut dapat diduga seorang PERWIRA TINGGI POLRI yang ditugasi memberantas narkoba di negeri ini malah menjadi BEKING UTAMA dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional.
Sedihnya lagi, oknum PERWIRA TINGGI POLRI yang patut dapat diduga menjadi beking utama tersebut justru merupakan KOLEGA dari Aparat Penegak Hukum AS (terutama FBI dan DEA). Sehingga, pada era pemerintahan Presiden Barack Obama, FBI dan DEA harus membuka matanya secara lebar-lebar (Please open your eyes, man !) agar mulai detik ini mereka memasukkan nama oknum PERWIRA TINGGI yang patut dapat diduga sebagai beking dari sindikat bandar dan mafia narkoba internasional itu ke dalam daftar hitam AS atau di-black list.
Jika patut dapat diduga ada segelintir orang dalam internal POLRI dan KEJAKSAAN yang melakukan penyimpangan dan pelanggaran hukum maka perbuatan mereka tidak bisa digenelarisir sebagai kelemahan kesalahan atau kekurang-seriusan MABES POLRI dan KEJAKSAAN sebagai institusi dalam menangani kasus-kasus narkoba.
MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya harus didukung oleh semua pihak dalam menangani kasus-kasus tindak pidana narkoba di negeri ini. Begitu juga halnya dengan KEJAKSAAN.
MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya juga perlu tetap didukung secara kuat oleh AS, dalam hal ini sepanjang masa pemerintahan Presiden Barack Obama.
Walau ada beberapa kelemahan disana-sini, semua itu sangat wajar dalam perjalanan hidup sebuah bangsa seperti INDONESIA. Artinya, Presiden Obama tak perlu ragu untuk juga mengarahkan pandangannya dalam bekerjasama dengan INDONESIA untuk memerangi NARKOBA.
Selain tetap membangun kerjasama dan dukungan penuh untuk kelanjutan penanganan terorisme yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (sudah bukan saatnya lagi isu terorisme dijadikan komoditi “bombastis”), AS tetap dapat meningkatkan kerjasama di bidang penanganan narkoba.
Seruan Obama dari Meksiko tentang konsistensi AS dalam memerangi narkoba, patut dihargai.
Dan ini membuat harapan dunia kepada figur Obama menjadi lebih besar untuk membuat kehidupan ini menjadi baik.
Obama dengan kedigdayaan AS, diharapkan akan menjadi motor untuk membuat PERUBAHAN (CHANGE) juga ke arah yang jauh lebih mensejahterakan kehidupan manusia.
Walau di Indonesia ini, pemerintahnya patut dapat diduga melindungi beking dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional (semacam Liem Piek Kiong alias MONAS), tetapi Obama tak perlu ragu untuk tetap membantu Indonesia dengan segala potret realita yang tak begitu menyenangkan ini.
Saat mendengar kabar bahwa Presiden Obama menyatakan AS melanjutkan PERANG MELAWAN NARKOBA dengan memberikan dukungan kepada Meksiko, hati ini rasanya menjadi lebih bangga dan ikut senang.
Sebab, Presiden Obama pasti akan mewujudkan janji dukungan itu secara nyata.
Dalam hal pemberantasan NARKOBA ini, keseriusan Obama yang saat ini menjadi orang nomor satu di AS, membuat kami teringat pada sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Michael Jackson. Obama dan AS diharapkan melanjutkan terus dukungan dan bantuan mereka yang seluas-luasnya kepada negara mana saja (termasuk INDONESIA) dalam melakukan PERANG TERHADAP NARKOBA.
Yes, you can also CHANGE the world, Mr President.
Make it better place … for you and for me !
Dan sambil menyendiri, entah dimanapun juga, barangkali baik untuk Obama untuk mendengarkan lagu Michael Jackson tadi (HEAL THE WORLD) :
There Are WaysTo Get ThereIf You Care EnoughFor The LivingMake A Little SpaceMake A Better Place
If You Want To Know WhyThere’s A Love ThatCannot LieLove Is StrongIt Only Cares ForJoyful GivingIf We TryWe Shall SeeIn This BlissWe Cannot FeelFear Or DreadWe Stop Existing AndStart Living
Then It Feels That AlwaysLove’s Enough ForUs GrowingSo Make A Better WorldMake A Better World…
Presiden Barack Obama (Foto : Whitehouse.Gov)
Jakarta, 3 April 2009 (KATAKAMI) Selalu ada kejutan dari seorang Barack Hussein Obama. Ia sangat tak terduga. Benar-benar tak terduga. Bahkan dalam menjajaki tangga karier politiknya, Obama tak mau jadi politisi kejutan yang baru sibuk kampanye dan “teriak-teriak” berorasi secara dadakan hanya untuk untuk meraih kemenangan.
Semua direncanakan, dilaksanakan dan diupayakan secara cerdas Oleh Obama.Dan kali ini, ia mengambil sebuah keputusan yang bijaksana. Motto utama dari KABINET BUSH selama bertahun-tahun yaitu kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” dihapuskan secara total oleh Obama.
Tapi, bukan berarti Obama menghapuskan konsistensi AS dalam menangani dan memberantas masalah terorisme. Yakinlah bahwa penanganan dan pemberantasan terorisme akan tetap dilanjutkan oleh Pemerintah AS tetapi sedapat mungkin harus sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku. Tak bisa lagi semena-mena atau menghalalkan semua cara.
Dan penghapusan kalimat PERANG MELAWAN TEROR itu adalah kabar baru yang mengejutkan. Itu juga menjadi angin segar yang akan membawa dunia ke arah lebih manusiawi dan kondusif. Pasti, tidak mudah bagi Presiden OBAMA untuk mengumumkan kebijakan seperti ini karena bisa disalah-artikan. Tetapi ayah dari 2 anak ini berani mengambil keputusan. Semuanya itu, pasti demi bersinarnya lagi kemilau kedigdayaan bangsa AMERIKA SERIKAT yang sepenuhnya menghormati, mentaati dan konsisten menjalankan nilai-nilai Kemanusiaan, Hukum dan HAM.
Bayangkan, atas nama PERANG MELAWAN TEROR, Bush menghalalkan semua cara untuk melakukan invasi militer ke sejumlah negara yaitu Afghanistan dan Irak. Atas nama PERANG MELAWAN TEROR, Bush memerintahkan dibukanya Penjara yang patut dapat diduga menjadi ladang penyiksaan bagi siapa saja yang dicurigai AS sebagai TERORIS yaitu Penjara Guantanamo.
Tanpa ada proses hukum dan tanpa perlu mengikuti kaidah-kaidah hukum, ratusan orang diseret untuk dibantai disana. Betapa malunya AS, foto-foto penyiksaan itu bocor melalui kecanggihan teknologi. Dan tanpa disadari, kegarangan dan keganasan itu menimbulkan kebencian, antipati dan jungkir baliknya respek semua bangsa bangsa serta umat manusia di seluruh dunia terhadap AS.
Atas nama PERANG MELAWAN TEROR, Bush menghamburkan uang negara untuk membantu siapa saja dan negara mana saja yang dianggap bisa mengadopsi motto “PERANG MELAWAN TEROR” sehingga BUSH tidak “kesepian” dengan mimpi buruknya yang sangat berkepanjangan. AS seakan tersentak disaat menyadari bahwa negara mereka mengalami krisis keuangan yang sangat parah pada era kekinian.
Padahal jika BUSH mau atau bisa sedikit saja mengendalikan amukan dan gejolak emosi yang meletup-letup dalam penanganan terorisme, AS bisa berhemat secara luar biasa dalam anggaran negara.
Satu contoh kecil saja, saat teroris Hambali ditangkap di Thailand tgl 11 Agustus 2003. Kabarnya Pemerintah AS memberikan bonus uang USD 4 Juta untuk Pemerintah Thailand. Untuk apa ? Ya, untuk menjadi tanda terimakasih atas “keluguan” Thailand mau menyerahkan ke AS teroris yang berutang sangat banyak kasus tindak pidana terorisme di INDONESIA yaitu Hambali
Kenapa tidak diserahkan ke Indonesia, tetapi malah ke AS ?
Dan beberapa waktu lalu, kami coba untuk mempelajari data dan catatan di berbagai media massa. Proses penyerahan Hambali kepada Pihak AS menjelang akhir bulan Agustus 2003, terpaut sekitar 6 hari sesudah peledakan bom di Hotel JW Marriot Jakarta (Agustus 2003).
Kita tentu masih ingat kontroversi yang terjadi pada saat itu bahwa patut dapat diduga rencana peledakan itu sudah “bocor” duluan ke telinga Pihak AS sehingga pemesanan kamar dari rombongan AS dibatalkan menjelang hari naas.
Seandainya boleh ditarik benang merah dan dipertanyakan (walau sangat terlambat mempertanyakan hal ini), mengapa petinggi Anti Teror yang memang tahu bahwa Hambali adalah otak pelaku dan termasuk dalang utama semua aksi peledakan bom di Indonesia sejak peristiwa bom malam natal bisa “santai-santai saja” saat termonitor Hambali ditangkap ?
Padahal biasanya apa saja bisa langsung cepat tahu ? Mengapa bisa sangat kebetulan sekali, yaitu 2 minggu sebelum Hambali “dihadiahkan” Pemerintah Thailand kepada Pemerintah Bush, terjadi “lagi” peledakan bom di Indonesia ?
Yurisdiksi hukum dari penindakan hukum bagi seorang Hambali adalah di Indonesia dan agak aneh sebenarnya mengapa Thailand bisa dengan sangat aman sentosa menyenangkan hati Bush (tanpa ada sedikitpun berkoordinasi dengan Tim Anti Teror ?).
Sampai langit ini runtuh, Indonesia tak akan bisa memaafkan jika patut dapat diduga ada sesuatu yang memang sangat misterius dibalik peristiwa itu.
Dalam artian, jika patut dapat diduga ada OKNUM-OKNUM yang belagak tidak tahu bahwa “mangsa utama” penanganan terorisme di Indonesia sudah diciduk oleh kolega mereka tetapi belagak pilon saja agar berjalan lancar proses penyerahan itu kepada AS.
Jika Pemerintah Thailand saja dikabarkan mendapat dana sekitar USD 4 juta, patutkah dapat diduga ada OKNUM-OKNUM tertentu yang mendapat “angpao” juga agar seolah-olah memang tidak tahu samasekali proses tertangkapnya Hambali di Thailand karena memang sangat sibuk terhadap penanganan aksi peledakan bom di Marriot ?
Tidak ada yang tahu apa sebenarnya yang terjadi, kecuali … ?
Agustus 2003, setelah Pemerintah Thailand menyerahkan Hambali maka tidak lama setelah itu dengan bangganya BUSH mengumumkan kepada dunia internasional bahwa seorang teroris paling berbahaya sudah berhasil ditangkap.
Sejak itu, HAMBALI seakan menjadi “executive member” atau anggota istimewa di Penjara Guantanamo.
Dan setelah hampir 6 tahun mendekam disana, kabar terakhir yang beredar adalah pria kelahiran Cianjur ini sudah memegang paspor sebagai warga negara Spanyol. Selama berada di Guantanamo, tidak ada satupun proses hukum yang dilakukan terhadap Hambali.
Bahkan POLRI tidak pernah diizinkan mendapatkan akses untuk bertemu Hambali di Guantamo. Padahal Hambali adalah otak pelaku alias dalang dari sejumlah aksi peledakan bom di Indonesia.
Kabar tentang diberikannya paspor Spanyol kepada HAMBALI memberikan indikasi bahwa dalam rangka penutupan Penjara Guantanamo per bulan Januari 2010 mendatang, maka besar kemungkinan HAMBALI akan ditransfer ke Spanyol untuk menjadi tahanan di negara itu.
Saat ini, AS memang gencar melobi sejumlah negara untuk mau menampung sisa dari tahanan-tahanan Guantanamo. Sebab, sebagian besar memang dipulangkan ke negaranya masing-masing.
Patut dapat diduga, fakta bahwa HAMBALI adalah petinggi Al Qaeda Asia dan Hambali jugalah yang berada dibalik sebagian besar aksi peledakan bom (terutama di Indonesia yaitu sejak peledakan bom malam Natal tanggal 24 Desember 2000), tampaknya benar-benar menjadi faktor pertimbangan AS untuk tetap “menunda” mudiknya HAMBALI ke Indonesia.
Jika HAMBALI diekstradisi ke Indonesia, ia juga tak akan pernah bisa luput dari proses penegakan hukum di Indonesia.
Sebab, Hambali berutang sangat banyak kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia karena sudah meluluh-lantakkan nilai-nilai peradaban di negara ini lewat serangkaian aksi peledakan bom.
Kembali pada kebijakan Presiden OBAMA untuk menghapus kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” dalam agenda resmi pemerintahan mereka dalam menangani sektor keamanan nasional atau National Security”, sekali lagi kebijakan Presiden Obama ini jangan diartikan bahwa AS akan berhenti memerangi terorisme.
AS pasti akan tetap konsisten untuk menangani tindak pidana terorisme !
Namun, konsistensi itu akan disesuaikan dan dikembalikan kepada “rel” yang sebenarnya yaitu melakukan proses penegakan hukum tetapi bukan dengan melanggar hukum itu sendiri.
Metode interogasi ala WATER BOARDING yang diadopsi PEMERINTAHAN BUSH
Contoh yang bisa diambil bahwa Presiden Obama tidak ingin ada tindakan yang melawan hukum dari aparatnya sendiri dalam proses hukum kasus terorisme adalah dengan dihapuskannya juga metode interogasi lewat cara WATER BOARDING yaitu menyiramkan air sebanyak-banyaknya ke arah muka (kepala) si “teroris” ke dalam air sampai benar-benar nyaris kehabisan nafas agar mau mengakui.
Cara penyiksaan yang tidak manusiawi seperti itulah yang dipakai oleh aparat PEMERINTAH BUSH selama ini dalam menangani orang yang dituduh sebagai teroris.
Hukum adalah hukum. Law is law.
Dan Presiden OBAMA menyadari bahwa penegakan hukum yang semurni-murninya adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh kabinetnya saat ini.
Ambruknya derajat dan martabat AS karena beberapa tahun terakhir ini dituding sebagai negara yang paling keji dalam memperlakukan para tahanannya adalah buah dari motto kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” tadi.
Contoh lain yang bisa diambil tentang kebrutalan terkait penanganan terhadap para tahanan (bukan tawanan tetapi tahanan !), adalah oknum Sersan yang akhirnya divonis pidana kurungan selama 35 tahun oleh Mahkamah Militer AS pada awal pekan ini. Sersan itu dengan “enaknya” menembak mati 4 orang tahanan di Irak dengan cara menembak para tahanan itu dari bagian belakang batok kepala.
Dan dalam kaitan misi pengembalian penanganan tindak pidana terorisme pada proses hukum yang “murni” di AS, maka kebijakan Presiden Obama menghapuskan kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” itu menjadi sebuah tanda dan pemberitahuan bagi negara-negara lain atau pihak manapun (OKNUM orang-perorang) yang selama ini “tidak sadar” bahwa perilaku mereka jauh lebih buruk dari AS dalam menangani masalah terorisme.
Misalnya saja, ikut-ikutan juga menangkapi siapa saja yang dicurigai sebagai teroris. Main ciduk saja dan mengumumkan bahwa ia sudah menangkap teroris sekian ratus orang. Padahal belum tentu yang ditangkapi itu adalah teroris atau terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme.
Tapi supaya kelihatan keren dan hebat dimata Pimpinan, Pemerintah Indonesia dan bahkan dimata Pemerintah AS serta dunia internasional, maka diseret saja siapapun yang bisa diseret atas nama penanganan terorisme. Lalu, langsung diumumkan kepada media massa bahwa orang yang ditangkap dengan nama si A, si B dan si C adalah teroris jaringan tertentu.
Padahal belum tentu demikian. Tapi tidak ada yang bisa memprotes selama ini karena seolah-olah OKNUM Petinggi tertentu dalam penanganan terorisme di Indonesia ini, yang paling berhak tahu dan menangani masalah terorisme tersebut.
Ingat, pembuktian tentang bersalah atau tidaknya seseorang yang bermasalah dengan “hukum” adalah saat majelis hakim mengetuk palu dengan memberikan vonis kepada masing-masing terdakwa (apakah terdakwa itu terbukti bersalah atau justru sebaliknya).
Jadi sebelum ada vonis dari majelis hakim, maka prinsip hukum tentang asas praduga tak bersalah atau presumption of innocent wajib dihormati dan dilaksanakan.
Bukan tidak mungkin, Presiden Obama saat ini akhirnya tahu bahwa akibat gembar-gembor dan perilaku yang “over acting” (berlebihan) akibat motto “PERANG MELAWAN TEROR” tadi, sejumlah OKNUM yang selama bertahun-tahun mendapatkan berbagai pelatihan atau bantuan teknis untuk meningkatkan kemampuan dalam menangani terorisme di negaranya masing-masing, justru menyalah-gunakan semua atensi, ilmu dan kemampuan yang didapatkan berdasarkan kebaikan hati AS.
Bayangkan saja, maksud AS sebenarnya memberikan semua bantuan itu agar dalam upaya penanganan terorisme itu bisa lebih tajam dan membuahkan hasil yang nyata.
Tetapi patut dapat diduga, ada dampak yang sangat fatal yaitu semua “ilmu” itu ada yang justru disalah-gunakan atau dipraktekkan kepada pihak lain yang tidak bersalah samasekali.
Entah itu jenis ilmu dan kemampuan teknis apapun yang serba canggih dari Penyidik-Penyidik AS Dinas Intelijen Rahasia AS (CIA) atau Biro Investigasi Federal (FBI).
Siapa bilang, semua ilmu dan kemampuan teknis itu tidak mungkin disalah-gunakan ?
Segala sesuatu mungkin saja dilakukan dan patut dapat diduga di Indonesia inipun penyalah-gunakan itu ada dilakukan oleh OKNUM orang per orang (sekali lagi, yang patut dapat diduga menyalah-gunakan itu adalah OKNUM yang merasa paling jago dalam hal penanganan terorisme di Indonesia selama ini).
Dilatih dan diajari untuk melacak keberadaan teroris menggunakan kecanggihan teknologi misalnya, entah itu dari alat penyadap telepon (intercept) dan teknologi pada dunia maya (cyber media) ternyata ilmu yang sangat “rahasia” ini malah digunakan untuk merugikan pihak lain yang nyata-nyata bukan teroris.
Privacy atau wilayah pribadi orang lain, serta hak-hak yang sangat mendasar dari warga sipil tak bersenjata, menjadi diobrak-abrik kalau misalnya patut dapat diduga ada OKNUM yang asyik saja menyalah-gunakan semua “ilmu, alat dan kemampuan teknisnya” selama ini yang diperoleh dari Pihak AS.
Apalagi karena pembuktian dari semua “kejahatan siluman” bersifat sangat absurd dan memang sulit pembuktiannya di lapangan, maka patut dapat diduga merajalela semua penyalah-gunaan itu dalam aplikasinya pada kehidupan sehari-hari.
Yang repotnya lagi, atas nama penanganan terorisme dan predikat sebagai pelaku-pelaku gerakan intelijen maka patut dapat diduga OKNUM-OKNUM yang memang memiliki akses penyadapan dan kecanggihan teknologi untuk sektor keamanan nasional akan saling menjegal dan saling meniru dalam hal melakukan perbuatan melawan hukum karena didorong rasa rivalitas yang sangat tinggi.
Tidak ada yang menjamin bahwa semua perangkat penyadapan dan kecanggihan teknologi itu digunakan secara baik dan benar !
Tidak ada pengawasan yang bisa dipertanggung-jawabkan secara hukum karena masing-masing kubu tak akan pernah bisa diakses oleh pihak luar yang punya otoritas hukum melakukan penindakan jika itu menyalahi aturan perundang-undangan !
Sehingga, patut dapat diduga dibebaskannya OKNUM-OKNUM menggunakan semua itu seenaknya sendiri tanpa ada pengawasan yang ketat, bisa membuka peluang bagi terciptanya proses kudeta atau perbuatan melawan hukum lainnya dengan dibantu peralatan penyadapan dan kecanggihan teknologi yang dibeli sangat mahal oleh negara untuk penanganan terorisme.
AS, terutama Presiden OBAMA, tentu sekarang merasa bersalah jika patut dapat diduga ada penyalah-gunaan ilmu dan peralatan penanganan anti teror di negara-negara lain yang dalam masa keemasan prinsip PERANG MELAWAN TEROR, diberi keutamaan dan fasilitas dalam menyerap ilmu dan bergelimpangannya “dolar” dari kabinet BUSH dalam upaya memberantas tindak pidana terorisme.
AS, terutama Presiden OBAMA, tentu merasa bersalah juga jika akhirnya bangsanya sendiri yang bangkrut karena selama bertahun-tahun lamanya memposisikan diri seperti “sinterklas” yang mudah memberikan dan membantu apa saja tanpa ada batasan limit.
Padahal patut dapat diduga, ada juga bantuan keuangan itu yang masuk ke kantong pribadi orang per orang yang terlibat langsung di lapangan dalam penanganan terorisme di berbagai negara.
Satu hal yang perlu dibuka misterinya kepada seluruh rakyat Indonesia adalah berapa dan mana pertanggung-jawaban dari semua dana bantuan dalam penanganan terorisme di Indonesia dari negara asing ?
Jika selama ini ada Petinggi-Petinggi Anti Teror atau Perwira Menengah yang mendapatkan pelatihan demi pelatihan, perjalanan dinas dalam rangka pendidikan anti teror atau hal ihwal apapun yang terjalin atas nama kerjasama penanganan terorisme (terutama dari Pihak AS), berapa nilai total dari semuanya itu selama kurun waktu 6 tahun terakhir ?
Rakyat Indonesia berhak tahu karena kebaikan hati Pemerintah AS itu diberikan dalam rangka kerjasama penanganan terorisme antara AMERIKA SERIKAT DAN INDONESIA, bukan dengan orang per orang.
Ini harus dicamkan baik-baik !
Sehingga, siapa saja yang selama ini menikmati dan mendapatkan semua fasilitas, uang, alat, pendidikan, pelatihan dan semua jenis bantuan dari Pemerintah AS selama kurun waktu 6 tahun terakhir harus bisa (dan wajib hukumnya) bisa mempertanggung-jawabkan semua itu kepada rakyat Indonesia.
Dan kalau mau kejam sedikit dan sangat tajam mengupas tuntas misteri aksi terorisme ini, patut dapat diduga ada juga aksi peledakan bom itu yang bukan dilakukan oleh kalangan teroris itu sendiri alias direkayasa.
Ini bukan mustahil sebab semua hasil penyidikan dan setumpuk barang bukti yang diserahkan misalnya, memungkinan oknum-oknum tertentu meniru gerak, langkah dan strategi kalangan teroris itu sendiri.
Hanya Tuhan yang tahu dan biarlah itu menjadi tanggung-jawab dari oknum masing-masing antara diri mereka kepada Sang Pencipta jika ternyata hal semacam ini ada terjadi di belahan dunia ini.
Sketsa wajah oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga meloloskan ALI IMRON agar tidak terkena mati, lalu pura-pura dipinjam dari LP Krobokan Bali dari mulai tahun 2003 sampai saat ini. Bahkan, patut dapat diduga mendanai ALI IMRON hidup berkemewahan dari hotel ke hotel dan apartemen mewah, serta membuatkan buku memoar serba luks untuk ALI IMRON. Ada apa sebenarnya antara oknum perwira tinggi ini dengan JARINGAN TERORISME ?
Lalu, satu hal yang perlu disampaikan kepada Presiden OBAMA, apakah AS bisa memahami dan menerima dengan lapang dada bahwa anggaran keuangan negara mereka yang selama ini diberikan kepada INDONESIA dalam penanganan terorisme, berjalan dengan timpang dalam kasus peminjaman terpidana ALI IMRON ?
Terpidana kasus Bom Bali I ini, bisa luput dari vonis mati hanya karena dianggap bisa bekerjasama. Lalu, ia mendapatkan vonis pidana kurungan (penjara) seumur hidup. Tapi apa yang terjadi ?
Ali Imron, dipinjam dari LP Krobokan sejak ia menerima vonis dari majelis hakim tahun 2003 dan tidak pernah lagi dikembalikan ke penjara. Teroris yang merupakan pelaku utama dari Bom Bali I ini justru dibiayai oleh OKNUM Petinggi Anti Teror untuk hidup serba mewah dan dibuatkan buku otobigrafi yang sangat lux.
Apa yang bisa dibanggakan dari tindakan OKNUM Petinggi Anti Teror yang seperti ini ? Sangat memalukan ! Benar-benar memalukan dan keterlaluan.
Kalau misalnya sekarang, rakyat AS tahu bahwa dana yang digelontorkan oleh negara mereka untuk penanganan terorisme di Indonesia ini, justru dinikmati juga oleh seorang teroris paling “berbahaya” yaitu hidup berkemewahan dengan fasilitas penuh yang sempurna ?
Dimana konsistensi dari penegakan hukum karena korban yang masih hidup dari peledakan BOM BALI I saja, sampai saat ini banyak yang harus hidup menderita dalam keadaan cacat permanen ?
Sementara Ali Imron, ia berleha-leha bagaikan konglomerat muda yang serba bergelimpangan harta.
Tahukah Presiden OBAMA bahwa tindakan semacam ini yaitu kesewenang-wenangan dengan memberikan kemewahan dan kebebasan yang absolut kepada teroris sekotor Ali Imron ini adalah sebuah bentuk pengingkaran dan pengkhianatan terhadap misi penanganan terorisme ?
Ali Imron harus dikembalikan ke dalam penjara, tidak bisa tidak !
Kalau perlu, Petinggi Anti Teror yang selama ini seenaknya saja menggunakan keuangan negara atau bantuan dari negara lain untuk membiayai teroris Ali Imron hidup berkemewahan harus diseret ke muka hukum untuk mempertanggung-jawabkan tindakannya yang sangat memalukan Indonesia. Jangan bicara soal keberhasilan penanganan terorisme kalau teroris yang harusnya bertanggung-jawab terhadap kasus Bom Bali I saja, justru dibiayai hidup berkemewahan.
Ada apa dibalik semuanya itu ?
Bahkan sudah saatnya, KABINET OBAMA menelusuri hal ini, yaitu apakah ada dana bantuan dari AS yang disalah-gunakan untuk membiayai hidup Ali Imron secara berkemewahan !
Dan Presiden OBAMA perlu “memasang mata dan telinga” dari Pemerintahan yang dipimpinnya saat ini apakah patut dapat ddiuga ada OKNUM tertentu yang selama bertahun-tahun ini mendapatkan bantuan dari AS dalam menangani terorisme, menjadi milyuner atau bahkan triyuner dari hasil komiditi dagang di bidang penanganan terorisme ?
Semua mungkin saja terjadi ! Dan karena belum terbongkar maka rakyat Indonesia belum tahu apa sebenarnya yang terjadi
Tragedi serangan 11 September 2001 di AS, sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan hati dan memprihatinkan. Tak cuma bagi AS, tapi bagi bangsa-bangsa didunia
Dibalik keputusan Presiden Obama untuk menutup Penjara Guantanamo dan meluruskan penanganan terorisme itu sendiri agar sesuai dengan kaidah hukum, maka tampaklah keseriusan KABINET OBAMA untuk melakukan hal-hal yang memang semestinya dilakukan selama ini.
Dan semua pihak harus menghargai niat baik dari Presiden OBAMA.
AS tak akan pernah mungkin menghapuskan sejarah kelam terkait Tragedi Serangan 11 September 2001. Serangan itu adalah aksi teror yang paling biadab dan sangat “tak termaafkan” sebenarnya. Tetapi tak ada negara manapun di dunia ini yang bisa dibiarkan main hakim sendiri atau menerapkan hukum rimba di negara mereka.
Hukum adalah hukum. Law is Law.
Penanganan terhadap tindak pidana terorisme memang harus tetap dilanjutkan dan diteruskan.
Ini tidak boleh berhenti hanya sampai disini. Kewaspadaan tetap harus dilakukan karena sedikit saja lengah maka kalangan teroris yang sedang “tiarap” itu bisa kumat sakit moralnya.
Kerjasama antara AS dan negara-negara manapun di dunia ini dalam penanganan terorisme juga harus tetap dilanjutkan dan diteruskan. Tetapi, jangan lagi dibuat sangat absolut atau tidak terbatas. Semua harus terukur, terarah dan bisa dipertanggung-jawabkan.
AS, khususnya Presiden OBAMA, juga harus menertibkan berbagai ilmu atau produk apapun yang selama bertahun-tahun lamanya disebar atau diberikan ke sejumlah pihak dalam misi PERANG MELAWAN TEROR tadi, tetapi terindikasi telah disalah-gunakan.
Harus ada terobosan yang sifatnya tertib hukum dalam penggunaan ilmu atau produk apapun yang berasal dari AS untuk penanganan terorisme yang disalah-gunakan tadi.
Sebab, jika patut dapat diduga ada pihak tertentu atau OKNUM tertentu orang perorang yang menyalah-gunakannya kepada warga sipil tak bersenjata (padahal AS mentransfer ilmu dan memberikan bantuan material apapun juga untuk penanganan terorisme), maka penyimpangan ini sangat layak dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dalam hal itulah, AS harus mulai melacak secara cermat dan seksama, apakah memang ada hal-hal semacam ini terjadi di mana saja !
Harus Presiden OBAMA yang memberikan perintah langsung tentang penertiban semua itu agar seluruh perangkat dibawahnya tunduk dan patuh kepada perintah kepala negara negara.
Dengan demikian, akan mudah melakukan penelusuran dan pembuktian terhadap semua penyimpangan atau penyalah-gunaan itu.
Menteri Luar Negeri Hillary Clinton
Berbicara di Den Haag (Belanda), pengumuman tentang penghapuskan kalimat atau motto “PERANG MELAWAN TEROR” tadi disampaikan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.
Peran Hillary juga pasti ada dalam misi pelurusan kembali penanganan terhadap terorisme ini.
Menurutnya, Pemerintahan Bush yang telah digantikan oleh Presiden Obama memutuskan penghapusan frasa penggunaan kalimat “PERANG MELAWAN TEROR” antara lain karena dijadikan alat pembenaran untuk melakukan intervensi ke Irak dan pemenjaraan tahanan tersangka pelaku teror di Guantanamo, Kuba, dan banyak penjara rahasia CIA di luar negeri.
Tentu Indonesia juga harus menyambut baik kebijakan ini. Semoga saja, ini akan membawa dunia ke arah yang lebih baik.
Tetapi, pasca diberlakukannya kebijakan ini maka yang perlu diwaspadai bersama adalah dampaknya. Entah dari kalangan teroris itu sendiri, atau dari OKNUMtertentu yang merasa kehilangan “lahan rezeki nomplok” karena patut dapat diduga sudah terlanjur menjadikan isu terorisme menjadi “komoditi dagang”.
Jangan diberi ampun kepada siapa saja yang mencoba untuk bermain-main dengan keselamatan, keamanan dan ketentraman dunia. Tapi jangan dibiarkan ada yang bermain-main dengan segala arogansi penuh rekayasa.
Presiden Obama sekeluarga
Ode adalah sebuah nyanyian tentang penghargaan dan pujian kepada seseorang yang telah melakukan sesuatu yang baik.
Dalam hal ini, Presiden Obama dengan sangat bijaksana telah melakukan terobosan yang niscaya akan membantu secara sungguh-sungguh membawa dunia ke arah yang jauh lebih baik.
Thank you very much, Mr President !
Editor In Chief Of KATAKAMI.COM (Indonesia)
JAKARTA 27 JANUARI 2009 (KATAKAMI) Kalau dalam budaya di Indonesia, ada sebagian masyarakat yang sungguh menghargai penting atau makna “ANGKA” dalam menentukan segala sesuatu.
Sebutlah misalnya dalam menentukan tanggal pelaksanaan sebuah kegiatan penting. Itu sebabnya dikenal istilah, “Hari Baik, Bulan Baik”.
Masih berkaitan dengan angka juga, kadang ada yang merasa penasaran dan percaya tentang adanya angka keberuntungan. Akibatnya, muncul tudingan bahwa pihak yang seperti itu mempercayai klenik. Padahal tidak tepat jika disebut demikian.
Lalu, apa hubungannya topik soal angka ini dengan Presiden AS ke-4 Barack Hussein Obama ?
Dan dalam konteks apa, ada misteri angka satu pada Obama menyangkut GUANTANAMO ?
Pasti anda penasaran, ya ?
Kalau anda tidak penasaran, tidak akan mungkin timbul dorongan untuk membaca tulisan ini saat pertama kali membaca bagian judul. Barack Obama, punya 2 angka 1 yang penuh MISTERI terkait kamp tahanan GUANTANAMO.
Angka satu yang pertama cukup istimewa untuk Obama adalah ketika ia sudah langsung mengeluarkan kebijakan strategis di hari pertama dirinya menjalani tugas sebagai orang nomor satu di AS. Kebijakan yang memang dijanjikannya saat berkampanye.
Ia memerintahkan agar dilakukan penangguhan pemeriksaan penyidik terhadap para “penghuni” GUANTANAMO.
Walau Obama pernah mampir di Indonesia untuk bersekolah, namun kebiasaan buruk dari sebagian politisi tanah air kita yang cenderung “JUALAN KECAP NOMOR SATU”, ternyata tidak menulari Barry, nama kesayangan Barack Obama.
Coba saja kita perhatikan politisi-politisi Indonesia yang memilik agenda khusus untuk memperoleh suara dari masyarakatnya. Tak jarang, menggunakan metode kampanye ala “JUALAN KECAP NOMOR SATU.
Apa saja yang kira-kira gombal dan bombastis, pasti diucapkan. Yang penting, suara bisa masuk bagi dirinya. Akibat adanya kebijakan “One Man, One Vote” dalam perpolitikan nasional Indonesia maka godaan tentang “JUALAN KECAP NOMOR SATU” tadi dihalalkan saja. Tapi saat menang dan berkuasa, hanya lagu lama yang didendangkan penyanyi cantik Iis Sugianto yang berkumandang di hati rakyat yaitu “Janji-Janji Tinggal Janji !”.
Alias, kau yang berjanji, kau yang mengingkari !
Tidak demikian halnya dengan Barry, Presiden keturunan Afrika pertama yang berhasil menjadi penguasa nomor SATU di negeri adidaya bernama AMERIKA.
Inagurasi (pelantikan) Presiden Barack Obama
Detik pertama ia bekerja sebagai Presiden, yang menjadi prioritas adalah menginventarisir janji-janji apa saja yang sudah disampaikan kepada rakyat AS saat berkampanye. Dan, pendokumentasian seputar stok JANJI dalam kampanye itu memang cukup baik. Secara cepat, sudah bisa langsung didata daftar janji utama yang wajib dipenuhi kepada rakyat AS.
Salah satunya adalah janji untuk menutup kamp tahanan GUANTANAMO.
Tampaknya Obama menyadari bahwa GUANTANAMO akan terus menjadi benalu bagi kedigdayaan AMERIKA SERIKAT. Dan tampaknya OBAMA juga menyadari akan sia-sianya ia berjuang memenangkan kursi kepresidenan, jika tak mampu melakukan perubahan bagi bangsa yang sebesar dan sekuat AMERIKA SERIKAT. Pahadal CHANGE, janji tentang perubahan, dengan slogan YES, WE CAN adalah motto utama Obama.
Keruntuhan martabat dan wibawa kedigdayaan AS begitu drastis terjadi akibat kebijakan-kebijakan yang sangat tidak tepat dari Presiden George W. Bush. Kekejaman dan kesadisan militer AS dalam melakukan penyiksaan di Kamp Guantanamo membuat dunia menjadi “marah” sekali atas perilaku-perilaku yang tidak manusiawi itu.
Walaupun memang, harus dipahami mengapa Bush begitu “kencang” menghajar apa saja yang kira-kira membahayakan keselamatan AS dan pantas dijadikan sebagai musuh AS. Pasti, ada luka yang sedemikian menyakitkan didalam diri Bush sebagai seorang kepala negara ketika ia dipaksa untuk melihat bangsanya digilas dan dihajar sedemikian hebat sehingga menewaskan ribuan orang rakyatnya pada peristiwa Serangan 11 September.
Presiden George W. Bush
Bush, adalah Panglima Tertinggi Militer AMERIKA SERIKAT.
Bagi Kepala Pemerintahan manapun didunia ini, yang pernah merasakan dalam era kekuasaannya terdapat serangan terorisme (terutama dalam skala besar), pasti akan dapat merasakan betapa hebatnya rasa sakit yang menikam harga diri dan tanggung-jawab sebagai seorang pemimpin. Ribuan rakyatnya mati sia-sia. Dan Bush, pasti tidak akan pernah bisa melupakan sampai kapanpun juga setiap detail menyangkut peristiwa Serangan 11 September.
Bagaimana mungkin bisa terjadi, 4 pesawat dibajak di sebuah negara yang sebegitu ketat pengamanannya ?
American Airlines Penerbangan 11 yang menabrak Menara World Trade Center bagian utara. United Airlines Penerbangan 175 yang menabrak World Trade Center bagian selatan. American Airlines Penerbangan 77 yang menabrak The Pentagon. Lalu, United Airlines Penerbangan 93 yang menabrak tanah akibat perlawan dari penumpang untuk “membela” kewibawaan simbol pemerintahan mereka. Sebab, pesawat yang terakhir ini rencananya akan menarak The US Capitol Hill.
Paling tidak 3000 orang mati akibat kekejaman teroris pada Serangan 11 September.
Dan yang sangat menyedihkan, ketika satu persatu kesaksian yang pilu dibuka dan diungkap. Termasuk yang dibuka rekaman pembicaraan di kokpit pesawat United Airlines Penerbangan 93 yang jatuh di Pennsylvania, AS, sekitar 20 menit sebelum mencapai sasaran yaitu The US Capitol yang menjadi kantornya para anggota kongres dan senator. Tahun 2006 lalu, rrekaman pembicaraan dari kokpit pesawat yang membawa 33 orang penumpang dan 7 awak pesawat dari United Airline 93 diperdengarkan kepada publik AS dan dunia.
Sehingga, apa yang terjadi didalam pesawat Boeing 757 yang berangkat dari Newark, New Jersey, menuju San Francisco itu pun jatuh di Pennsylvania. Terutama, bagaimana usaha yang gigih dari para penumpang untuk merebut ruang kokpit dari pembajak terekam dalam kotak hitam. Sedangkan pembicaraan para penumpang United 93 ketika menelepon keluarga maupun kerabat disampaikan oleh keluarga dan kerabat itu sendiri.
Beda dengan di Indonesia ini, rekaman pembicaraan di kokpit pesawat Adam Air yang jatuh di Perairan Majene tgl 1 Januari 2007 saja bisa “beredar” kemana-mana, termasuk mengudara di You Tube.
Dan soal rekaman pembicaraan dari penumpang United Airline Flight 93, terungkaplah bagaimana detail kisah pembajakan dalam pesawat hingga rencana akan mengambil alih pesawat. Dan yang menyentuh hati saat para penumpang mengucapkan selamat tinggal dan menyampaikan atau menitipkan rasa cinta kepada keluarga dan kerabat karena menyadari akan segera kehilangan nyawa.
Pemutaran rekaman pembicaraan di kokpit pesawat pada detik-detik terakhir sebelum jatuh dibuka saat persidangan tersangka teroris Zacarias Moussaoui setelah 5 tahun tragedi itu terjadi. Antara lain isinya :
Tragedi serangan 11 September 2001 di AS, sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan hati dan para pelaku serangan ini patut dikutuk secara keras
“Ke kokpit. Kalau tidak, kita akan mati,” kata suara yang terdengar dalam bahasa Inggris.
Lalu terdengar teriakan dan jeritan penumpang. Kemudian terdengar pintu kokpit digebrak dan dibuka paksa.
“Allah maha besar!” suara dalam bahasa Arab terdengar dari dalam kokpit. Lalu terdengar jeritan “No, No, No” dalam bahasa Inggris.
Beberapa detik kemudian… tak terdengar lagi suara dari rekaman tersebut.
Yang mau dikatakan disini, kondisi psikologis Presiden Bush yang sangat traumatik dan terkungkung dalam kemarahan abadi atas peristiwa Serangan 11 September itu. Tanpa disadari Bush, trauma dan kungkungan dendam abadi tadi sangat dominan mempengaruhi setiap kebijakan pemerintahan yang dipimpinnya.
Hingga akhirnya, pengaruh itu mayoritas berbau apriori, arogansi dan penuh kecenderungan membalas dendam.
Sebuah bangsa yang besar seperti AS dipermalukan sedemikian hebat dan dibuat hancur sampai ke titik nadir terbawah dalam hal moral.
Salah satu warisan yang ditinggalkan Bush dan Pemerintahannya akibat remuknya moral mereka adalah KAMP TAHANAN GUANTANAMO. Trauma dan dendam dilampiaskan di penjara paling menakutkan ini. Bush dan Pemerintahannya pasti tahu dan hapal teori-teori tentang luhung dan agungnya nilai-nilai HAM, moralitas dan hukum harus ditegakkan di muka bumi ini.
AS adalah negara yang selama ini merasa paling berhak menjadi POLISI DUNIA bagi negara manapun yang dianggap sebagai pelanggar HAM tak bemoral dan sulit mentaati nilai-nilai hukum.
Jika ketahuan ada negara yang seperti itu, dengan semua cara akan dicari dan diupayakan momen terbaik untuk menjatuhkan pemimpin dari negara yang modelnya “mbabelo” seperti tadi. Dan, Indonesia, termasuk korban dari atribut AS sebagai “POLISI DUNIA”.
Kalau sudah bicara HAM, AS merasa menjadi pabrik pembuatan KECAP NOMOR SATU DIDUNIA.
Dan siapa yang tak malu jika dirinya menyandang predikat sebagai warga negara AS, jika dalam beberapa tahun terakhir ini kecaman, tudingan, cibiran dan caci maki yang hebat dari seluruh penjuru dunia akibat parahnya penyiksaan di KAMP GUANTANAMO. Menunjuk muka negara lain dengan sangat garang sebagai pelanggar HAM, tetapi di muka sendiri terdampar kubangan bisul berisi pelanggaran HAM yang begitu sadis, tak bermoral dan penuh pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM - hukum humaniter.
Sehingga, ketika Barack Obama menjadikan isu GUANTANAMO sebagai salah satu agenda terpenting yang dijanjikannya dalam kampanye Pilpres selama ini, pasti janji itu bukan untuk komoditas politik agar ia menang.
Obama, bisa jadi merasa malu atas remuknya kewibawaan, martabat dan moralitas dari bangsa Amerika akibat kebijakan yang salah terkait keberadaan Kamp GUANTANAMO.
Sehingga tak heran, kalau di hari pertama menjabat sebagai Presiden, Obama sudah secara cepat menetapi janjinya untuk “mengurus” masalah GUANTANAMO ini.
Lalu, apa misteri sangka satu lainnya dari Obama mengenai GUANTANAMO ?
Apakah ada yang tahu dan bisa menebaknya ?
Misteri angka satu pertama tadi - yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini - adalah di hari pertama menjabat sebagai Presiden, Obama sudah langsung mengeluarkan kebijakan penting terkait GUANTANAMO. Ia memerintah penundaan penyidikan selama 120 hari bagi semua kasus hukum yang sedang di proses di GUANTANAMO.
Lalu, angka satu lainnya adalah, Obama memerintahkan agar dalam kurun waktu 1 tahun, Kamp GUANTANAMO ditutup secara resmi. Dengan tangan kidal, OBAMA menanda-tangani KEPPRES alias Keputusan Presiden untuk menuntup PENJARA GUANTANAMO efektif pada Januari 2010. Satu tahun lagi, barulah GUANTANAMO akan almarhum.
Yang bisa dikomentari disini adalah, untuk misteri angka satu yang pertama tadi, Obama sangat sukses memukau setiap orang bahwa ia adalah pemimpin yang menepati janji secara hebat, cepat, tepat dan akurat.
Namun sayang, keputusannya untuk memerintahkan penutupan Kamp Guantanamo satu tahun lagi, adalah kebijakan yang buruk dan sangat tidak manusiawi.
Tahukah Obama, berapa hari yang akan mengisi dalam perjalanan waktu satu tahun itu ?
Aksi unjuk rasa terus mengalir untuk menutup PENJARA GUANTANAMO yang dikabarkan melakukan kekerasan kepada para TAHANAN
Tahukah Obama, berapa jam dalam putaran waktu 1 hari ?
Sambil ia menikmati sarapan pagi di Gedung Putih dalam masa “bulan madu” sebagai Presiden yang baru, ada baiknya Obama meluangkan waktu untuk membayangkan bagaimana jika ia yang menjadi tahanan di GUANTANAMO sana. Ditahan seenaknya, tanpa ada tuduhan atau indikasi kesalahan. Disiksa seperti binatang, tanpa ada penindakan dan penegakan hukum bagi para penyiksa. Dihajar, dibuat menjadi “berdarah-darah” dan bahkan ada yang ke hadapannya disorongkan moncong anjing pelacak piaraan militer AS.
Lalu, apa jaminan bahwa perintah Obama agar seluruh penyiksaan dituruti dengan cepat di GUANTANAMO ?
Petugas dan Pejabat yang secara teknis ada di tahanan itu, pasti masih dikuasai oleh orang-orang yang sudah bercokol sejak era Pemerintahan Bush. OBAMA hanya “bersuara” dari Gedung Putih. Walau media massa di seluruh dunia menyiarkan kebijakan OBAMA soal Guantanamo, belum tentu penyiksaan terhadap seluruh tahanan di GUANTANAMO dihentikan seketika ini juga.
Itu makanya, Obama perlu membayangkan bahwa sakit dan mengerikan rasanya jika disiksa secara fisik dan non fisik selama satu jam saja. Tidak usah dibayangkan seandainya penyiksaan itu berlangsung satu tahun, bayangkan dulu jika terjadi secara non stop selama satu jam. Pasti, dapat dirasakan penyiksaan itu sangat mengerikan. Lalu, bayangkanlah lagi bagaimana kalau harus terus disiksa harus selama satu tahun ?
Ada baiknya juga, Obama membayangkan jika ia yang menjadi orangtua, atau saudara sekandung, atau orang terdekat dari tahanan yang ditahan di GUANTANAMO sana, tanpa ada bukti hukum atau indikasi perbuatan melawan hukum. Seperti apa perasaannya jika dipaksa untuk menunggu 1 tahun lagi jika memang ingin bertemu dengan orang yang mereka cintai ?
Apalagi, jika anggota keluarga mereka itu sebenarnya tidak bersalah tetapi dasar AS sedang “sakit parah” pada era Pemerintahan Bush, yang tak bersalah dianggap saja bersalah. Yang penting ada korban yang bisa dijadian pelampiasaan kebencian. Persetan dan masa bodo dengan semua nilai-nilai HAM dan hukum.
Tahanan Di Penjara GUANTANAMO. KUBA
Jadi, keputusan OBAMA menutup GUANTANAMO setahun lagi, terasa menjadi ANTI KLIMAKS. Tidak ada yang istimewa dari kebijakan model begini.
Kalau Obama berdalih, sulit menutup GUANTANAMO secepat-cepatnya. Omong kosong. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, jika memang misinya adalah misi kebaikan dan kemanusiaan. Apalagi untuk negara sebesar AS.
Kalau Obama berdalih, sulit menutup GUANTANAMO dengan menukar angka satu tahun menjadi satu bulan untuk menutup GUANTANAMO. Omong kosong. Dengan kehebatan militer AS, termasuk kecanggihan dinas intelijen mereka yang selama ini terkesan paling canggih dalam menyusup dan ikut campur dalam masalah dalam negeri negara manapun di dunia ini, masak tidak bisa mengatasi kurang dari 300 orang penghuni GUANTANAMO ?
Harusnya, bukan satu tahun, tetapi satu bulan setelah Obama menjadi Presiden, Kamp Tahanan GUANTANAMO itu sudah harus ditutup.
Itu yang sebenarnya lebih tepat dilakukan Obama jika ia memang ingin membuktikan bahwa dirinya menepati janji untuk “mengurus” masalah GUANTANAMO.
Di GUANTANAMO ada lautan kekejaman dan kesadisan, dimana nilai-nilai HAM dan hukum tenggelam didasar lautan tadi.
Salah seorang tahanan di GUANTANAMO, Kuba
Seandainya saja, Obama ada dihadapan kami, maka kami hendak mengatakan kepada Si Barry ini, “Hei Barry, untuk apa alogan YES, WE CAN yang engkau dengungkan selama ini ? Buktikan dong, bahwa Amerika memang bisa melakukan perubahan yang dasyhat menyangkut HAM dan kemanusiaan. Menyelamatkan martabat dan moral AMERIKA sebagai sebuah bangsa, harusnya jangan tanggung-tanggung !”
Sehingga, semua orang yang memang sudah terlanjur penuh respek dan kekaguman pada Barack Obama, akan memuji kebijakan Obama menutup GUANTANAMO dengan satu pujian yang tulus yaitu, “Its Amazing, Barry ! Its Amazing, Man ! Its Amazing, MR PRESIDENT !”
Tapi, karena kebijakan Obama cenderung anti klimaks, … terus terang belum ada kata-kata yang pas untuk mengecam Obama. Sebab, baru beberapa hari yang lalu ia dilantik dan diambil sumpahnya dengan sangat spektakuler di The US Capitol Hill. Paling-paling, yang bisa dikatakan oleh dunia internasional, juga oleh rakyat AS yang sangat konsisten tentang perlunya menutup LADANG PEMBANTAIAN GUANTANAMO itu dengan satu kalimat pendek untuk mengungkapkan kekecewaan.
“Ternyata anda ini, PAYAH juga, Tuan Presiden OBAMA !”
Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi
Washington 21 Januari 2009 (KATAKAMI) "…I Barack Hussein Obama do solemnly swear." ucap Presiden Terpilih AS yang ke 44 ini saat diambil sumpahnya di Gedung Capitol, Washington DC, AS.
Di hadapan jutaan orang yang rela datang berduyun-duyun dengan suhu udara dibawah nol derajat celcius, Obama tak bisa menghindari sisi kemanusiaan dirinya yaitu melakukan kesalahan di saat yang sangat penting. Paling sedikit, ada dua kali Obama kesulitan untuk mengucapkan kalimat panjang dalam sumpahnya.
Ia sempat tertegun beberapa detik agar dapat berkonsentrasi mengucapkan sumpah itu secara benar. Dan satu lagi yang barangkali tidak disadari oleh Obama, pada saat ia berada di puncak acara yang sangat bersejarah yaitu pengambilan sumpah, Obama kelewat "santai" sehingga ia tampak tersenyum lebar disaat ia perlu tampil berwibawa. Tanpa harus kelihatan tegang, Obama perlu memperlihatkan kewibawaan dirinya pada saat bersumpah.
Walaupun Obama sempat tidak bisa mengucapkan dengan baik dan lancar kalimat sumpahnya, kelihatan Obama tidak panik.
Ia memang pribadi yang tenang. Walau salah dan sulit untuk menghapalkan kalimat panjang dalam sumpah itu, Obama tidak terlihat grogi atau berubah mimik wajah. Begitu juga dengan Michelle, sang menggunakan gaun berwarna kuning keemasan.
Ibu dari 2 orang anak dari buah pernikahannya dengan Obama, hanya tersenyum dan tetap setia menatap pada sang suami saat pengambilan sumpah.
Ketika mengucapkan sumpahnya, telapak tangan kiri Obama di topangkan diatas alkitab atau injil yang digunakan Presiden Abraham Lincoln saat disumpah sebagai Presiden AS tahun 1861. Obama memang memilih figur Abraham Lincoln untuk menjadi panutan yang diteladaninya dalam menapakkan kaki secara resmi sebagai Presiden AS.
Dan inilah salah satu kelebihan dari AS.
Mereka dapat menjaga dengan baik dokumen atau benda bersejarah bagi bangsa mereka. Sebutlah misalnya injil yang dipilih Obama untuk melengkapi pengambilan sumpahnya. Kitab suci Nasrani yang dipilih Presiden Abraham Lincoln saat bersumpah tahun 1861, masih tetap bagus dan terawat rapi.
Yang tampak secara jelas dari keseharian Obama - Michelle adalah mereka ternyata keluarga yang relijius.
Selama ini, kalangan Partai Republik yang selalu mendominasi kesan relijius tersebut. Tapi di hari pelantikannya, Obama menunjukkan kepada dunia bahwa ia bagaikan sebutir debu tak berharga dimata Tuhan.
Itu sebabnya, ketika jutaan orang sudah dipastikan hadir menyaksikan pelantikan Obama yang sangat spektakuler itu, Obama mengajak Michelle isterinya untuk "mampir" sejenak di Gereja Episcopal St. John, satu blok dari Gedung Putih. Walaupun sebenarnya, ritual untuk "mampir ke Gereja sebelum pelantikan ini adaah ritual "wajib" bagi siapapun yang akan dilantik sebagai Presiden.
Tapi yang menjadi tampak jelas dari figur Obama adalah ia tunjukkan bahwa manusia adalah mahluk ciptaan yang tak berdaya. Walau ia dilantik sebagai Presiden dari sebuag negara adidaya, Obama tetap membutuhkan nilai-nilai spiritualitas yang tinggi.
Di hadapan Hakim Agung John Roberts, Obama meletakkan tangan kirinya diatas injil dan mengangkat tangan kanannya untuk menyampaikan kata-katanya yang secara resmi membuatnya menjadi pengganti Presiden George W. Bush.Di bawah tatapan sekitar sejuta orang di National Mall, Washington dan jutaan lainnya di seluruh dunia, Obama bersumpah :
"Saya bersumpah dengan sungguh-sunguh bahwa saya akan menjalankan tugas dengan jujur Presiden Amerika Serikat dan akan berbuat yang terbaik dengan kemampuan saya, menjaga, melindungi dan mempertahankan konstitusi Amerika Serikat."
Dan di akhir sumpahnya, Obama menyebutkan sebuah kalimat doa permohonan yang sangat "memohon" kepada Tuhan.
"So, Help Me God" ucap Obama mengakhiri sumpahnya.
Apapun juga yang diamanatkan dalam sumpah itu, semua hanya dapat terlaksana atau dijalankan secara baik, jika ada pertolongan dari Tuhan,
Obama, sang orator ulung yang sangat kharismatik ini, ternyata bisa gugup dan melakukan kesalahan dalam puncak acara yang sakral yaitu pengambilan dan pengucapkan sumpah jabatan. Ia juga bisa begitu tulus memohon untuk mendapat pertolongan Tuhan.
Obama, kini telah resmi menjadi Presiden AS.
Begitu banyak persoalan pelik yang harus diatasinya. Ia seakan berada dalam posisi yang dilematis, jauh sebelum pelantikannya.
Yang ditantang oleh banyak orang terhadap figur Obama, apakah setelah ia menjadi Presiden ini maka segera akan ada kebijakan untuk penarikan pasukan AS dari Irak dan Afghanistan. Kemudian desakan untuk menutup tahanan Guantanamo di Kuba. Belum lagi masalah krisis ekonomi.
Bahkan, Obama yang sejak berlangsungnya agresi militer Israel ke GAZA untuk menggempur HAMAS, dianggap "agak" mengecewakan banyak pihak yang cenderung "diam" saat Israel membabat habis Palestina ini. Obama ditantang untuk mengambil posisi yang strategis dalam membantu penyelesaian konflik Israel - HAMAS.
Artinya, bukan lagi menjadi sekutu yang mengaminkan saja apapun brutalisme yang mau dilakukan Israel.
Sebab Obama harus mengingat secara baik, ketika ia mengucapkan kalimat "So, Help Me God", pada kesempatan yang sama ribuan orang yang terluka dan sekarat di GAZA, Irak dan Afghanistan juga mengucapkan kalimat doa yang sama yaitu, "So Help Me God !". Walau dituturkan dalam bahasa yang berbeda, tetapi ada sisi penderitaan yang harus ditanggung oleh banyak manusia di muka bumi ini karena kebijakan yang kurng tepat dari AS.
Obama, harus secara cakap menunjukkan dan membuktikan kepiawaiannya dalam mengelola pemerintahan. Presiden muda yang sangat "charming" ini, diharapkan oleh dunia internasional berperan aktif dalam mengisi kehidupan dengan cara yang baik. Benar-benar baik !
Obama juga manusia, sehingga ketika ia mengucapkan kesalahan dalam pengambilan sumpahnya, kesalahan itu dapat ditolerir. Sangat manusiawi jika Obama melakukan atau mengucapkan kesalahan.
Yang tidak manusiawi justru kalau Obama mengulangi kesalahan-kesalahan (yang memang disengaja) dalam berbagai KEBIJAKAN pendahulunya, terutama Presiden Gerorge W Bush.
Konsistensi dan komitmen untuk terus memerangi terorisme, jangan diartikan bahwa AS bisa memerangi negara mana saja dan meluluh-lantakkan sesuka hati. Agar jangan, di akhir masa jabatannya nanti Obama juga ikut terkena "lemparan sepatu".
Doa dan permohonan Obama, "So, Help Me God", tentu akan dijawab dan dikabulkan Tuhan sepanjang Obama secara teguh hati melakukan yang terbaik bagi rakyatnya. Dan bagi dunia.
(SAMOSIR ISLAND, NORTH SUMATERA, INDONESIA)
(BUNDERAN HOTEL INDONESIA, JAKARTA, INDONESIA)